![]() |
| Tim ITB mengukur kualitas perairan menggunakan Water Quality Profiler dari perahu di perairan Bangkala, Selasa (15/9/2026). |
Bandung.Internationalmedia.id.- Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah perguruan tinggi mitra menghadirkan teknologi tepat guna (TTG) untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat sekaligus mendukung pengolahan pascapanen rumput laut di Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 yang berlangsung pada 13–18 September 2026, tim menghadirkan rumah garam berbentuk terowongan (tunnel), sensor pemantau kepekatan air garam, serta pelatihan pemurnian garam dan pengolahan rumput laut.
Program yang dipimpin Dr. Lamona Irmudyawati Bernawis, S.Pi., M.Sc., dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB ini melibatkan Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, Institut Pertanian Bogor, serta Pemerintah Kabupaten Jeneponto.
Menurut keterangan di laman resmi ITB menyebutkan, teknologi tersebut dirancang untuk mengatasi kendala produksi garam yang bergantung pada cuaca dan risiko kontaminasi tanah. Rumah garam tunnel melindungi proses kristalisasi dari hujan, sementara penggunaan geomembran dan geotekstil membantu mengurangi masuknya pengotor dari tanah dasar tambak.
Unit teknologi berukuran sekitar 11 × 15 meter itu dibangun melalui rehabilitasi tambak garam nonaktif milik Pemerintah Kabupaten Jeneponto di Lingkungan Balobboro, Kelurahan Pallengu. Fasilitasnya terdiri atas petak penguapan berbentuk labirin dan rumah garam transparan yang tetap memungkinkan sinar matahari mendukung proses penguapan.
Selain fasilitas produksi, tim memasang sensor derajat Baumé berbasis Arduino untuk memantau kepekatan larutan garam. Sensor ini membantu petambak menentukan waktu yang tepat untuk mengalirkan air garam ke petak kristalisasi.
Tim ITB juga melakukan survei kualitas perairan di Teluk Tamparangkeke dan Teluk Garassikang pada 15 September 2026. Pengukuran di 10 stasiun pengamatan mencakup suhu, salinitas, densitas, pH, oksigen terlarut, klorofil-a, dan kekeruhan. Data tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi kesesuaian sumber air baku serta menyusun peta kesesuaian lokasi tambak garam di wilayah Bangkala.
Upaya peningkatan kualitas produksi dilanjutkan melalui pelatihan pemurnian garam bersama tim Universitas Diponegoro. Sebanyak 10 petambak garam dan pegawai Dinas Perikanan Kabupaten Jeneponto mengikuti praktik pencucian garam menggunakan air tua (brine washing), penggerusan, penyaringan, serta pengenalan fortifikasi menggunakan kalium iodat (KIO₃) sebesar 30 ppm sesuai standar SNI garam konsumsi.
Melalui pengolahan tersebut, kemurnian natrium klorida (NaCl) ditargetkan mencapai 98–99 persen.
Program ini juga menyasar peningkatan nilai tambah hasil perikanan. Dalam sesi yang dipandu Prof. Dr. Kustiariyah Tarman dari IPB, peserta mempelajari pemanfaatan garam untuk pencucian dan perendaman rumput laut guna membantu memperpanjang masa simpan serta mengurangi bau yang tidak diinginkan.
Pemerintah Kabupaten Jeneponto menyambut baik penerapan teknologi tersebut. Bupati Jeneponto H. Paris Yasir, S.E., M.M., menyampaikan bahwa produksi garam di Bangkala kerap terhenti saat musim hujan sehingga diperlukan inovasi untuk membantu petambak menjaga keberlangsungan produksi.
Ia berharap teknologi yang diperkenalkan melalui PMKI 2026 tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua tim pelaksana, Dr. Lamona, juga berharap unit teknologi yang telah diserahkan kepada masyarakat dapat dikelola dengan baik dan menjadi percontohan bagi petambak lain di Kabupaten Jeneponto.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, program PMKI 2026 diharapkan dapat memperkuat produksi garam rakyat, meningkatkan mutu hasil panen, serta membuka peluang usaha berbasis pengolahan rumput laut bagi masyarakat pesisir.(*)
