Selama ini kita diajari satu rumus mutlak: Adat Batak adalah Dalihan Na Tolu. Titik. Selesai. Dihafalkan, keluar di ujian, dan lulus.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Kenapa tungku itu harus tiga kaki? Bagaimana mungkin sebuah kuali bisa berdiri tegak di atas tanah Humbang atau Samosir yang berbukit-bukit dan miring?
Nenek moyang kita bukanlah tukang yang bodoh. Tiga kaki di atas tanah miring pasti akan timpang. Supaya tetap kokoh dan tidak tumpah, harus ada kaki keempat—kaki yang tak kasat mata, berada di dalam, dan menopang dari bawah.
Pelajaran dari Hau Joring dan Rintop
Di sebuah ladang (porlak) di Lumban Raja Nainggolan, tumbuh pohon bernama Hau Joring. Ini adalah kayu paling keras di seluruh Samosir, bahkan lebih keras dari kayu Bintangur. Jika dipukul dengan palu, palunya yang patah. Ditebas belati, belatinya yang tumpul.
Namun, Hau Joring yang gagah itu bisa mati berdiri. Bukan karena ditebang atau dibakar, melainkan karena Rintop—benalu yang tumbuh menggerogoti dari dalam pori-porinya sendiri. Dari luar tampak gagah dan berdaun hijau rimbun, tetapi begitu dibelah, dalamnya sudah menjadi bubuk kosong.
Inilah gambaran kita hari ini.
Dalam berbagai perkumpulan marga (Parsadaan Marga), Rapot Bolon, hingga penyusunan rencana kerja, kita sibuk berdebat sengit. Kita meributkan isi AD/ART, berebut kursi ketua, hingga mengagungkan prinsip Somba Marhula-hula.
Sayangnya, kita kerap melupakan filosofi dasar yang paling utama: Manat Mardongan Tubu. Sebelum bersujud menghormati hula-hula, tanyakan dulu pada diri sendiri: Sudahkah kita bersikap hati-hati, santun, dan mengasihi saudara sesama marga (dongan tubu)? Atau justru kita sendiri yang menjadi 'rintop' (pengerogot) bagi saudara kita?
Paopat Sihalsihal dan Debata Asiasi
Naskah kuno (laklak) dari kulit Hau Alim yang tersimpan di Museum Lumban Lintong, Pangururan, menyimpan rahasia ini. Manuskrip kuno yang pernah diteliti oleh C.A. van Vergouwen (1933), Ph.O.L. Tobing (1956), hingga Anicetus B. Sinaga (1981) menyebutkan adanya konsep Paopat Sihalsihal.
Dalam mitologi Batak, tiga dewa utama—Batara Guru, Sorimangaraja, dan Mangala Bulan—ibarat jubah di luar. Namun di dalamnya, terdapat induk penyatu: Debata Asiasi.
Siapa Debata Asiasi? Naskah laklak melukiskannya dengan sangat indah:
"Na untopap jorjari, na umpagolhon balikkahu, na jumolo mangiup api."
(Dialah yang menegakkan jari-jemari bayi saat masih terkuncup, yang membuka kelopak mata, dan yang menjernihkan pendengaran manusia).
Debata Asiasi tidak bertakhta jauh di langit (Banua Ginjang), bumi (Banua Tonga), maupun dunia bawah (Banua Toru). Dia ada di dalam diri manusia—sebuah wujud nyata dari Sang Pencipta yang melingkupi jiwa.
Kasih yang Menopang
Gelar Debata Asiasi merujuk pada Dewata Kasih. Fungsinya adalah mewujudkan kasih Sang Khalik yang sejati: kasih yang tetap memberkati, kendati dicerca, dihujat, atau disakiti.
Inilah kaki keempat yang selama ini tersembunyi. Inilah pondasi sejati yang membuat tungku Dalihan Na Tolu tidak pernah condong apalagi tumpah.
Tanpa hadirnya kasih yang mau terus memberkati meski dihujat, seluruh sikap Manat (berhati-hati), Elek (membujuk), dan Somba (menyembah/menghormati) dalam adat kita hanyalah formalitas kosong. Kita hanya akan menjadi seperti Hau Joring Na Rintop—kelihatan keras dan gagah di luar, tetapi rapuh dan keropos di dalam.
Di kaki Dolok Pusuk Buhit ini, tidak ada lagi niat untuk mengajari orang lain tentang adat. Hanya ada satu pertanyaan sederhana yang perlu diajukan ke dalam dada sendiri: Hari ini, apakah saya sedang menjadi Hau Joring yang mengayomi, atau justru menjadi Rintop yang menghancurkan saudara sendiri?. *
(Penulis, tinggal di Dolok Pusuk Buhit,Sianjur Mula-Mula,Samosir).