-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Panik, BPBD Jabar Siapkan Mitigasi Bencana di DAS Citarum dan Aplikasi Peringatan Dini

Jumat, 11 Juni 2021 | 6/11/2021 WIB Last Updated 2021-06-11T15:21:35Z

Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan dalam siaran Podcast Ngobrolin Citarum (Ngonci) di kantornya, Selasa (8/6/2021) kemarin

Bandung.Internationalmedia.id.-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat (Jabar) menyiapkan upaya meminimalisir dampak bencana atau mitigasi bencana untuk daerah aliran sungai (DAS) Citarum.

 

Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan mengatakan, untuk di Citarum, mitigasi dibagi menjadi dua yaitu mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural. Mitigasi struktural yaitu yang menyangkut infrastruktur/pembangunan seperti Check DAM, normalisasi sungai, situ, dan embung yang dilaksanakannya oleh BBWS Citarum, contohnya Terowongan Nanjung, dan Floodway Cisangkuy.

 

"BBWS juga memasang telemetri untuk peringatan dini banjir di beberapa titik. Lalu di Subang ada Waduk Sadawarna, ini pembangunannya sudah 50 persen," ucapnya, Jumat (11/6/2021).

 

BPBD sendiri, kata Dani, lebih ke nonstruktural atau mitigasi cara kedua yaitu dengan mengedukasi/sosialisasi kepada masyarakat.

 

"Biasanya kita lakukan mulai dari individu melalui media sosial, juga membentuk GATANA (Keluarga Tangguh Bencana), lalu ditingkat komunitasnya ada RT RW Siaga dan Desa Tangguh Bencana (Destana)/Kelurahan Tangguh Bencana (Katana)," katanya.

 

Dalam menghadapi bencana, lanjut Dani, masyarakat tidak perlu panik. Hal itu dapat dilatih dengan melakukan simulasi.

 

"Sebenarnya kalau panik pada saat bencana itu normal. Namun bagaimana caranya supaya tidak panik? Maka harus terlatih," ucapnya.

 

Menurut Dani, hasil survei pada saat kejadian bencana gempa besar di Jepang, ternyata 35 persen faktor keselamatan itu ada pada diri sendiri. Jadi diri sendiri harus punya pengetahuan dan berlatih. Hal itu biasanya bisa mengurangi kepanikan.

 

"Tapi tidak cukup, karena biasanya ada faktor lain, 32 persen itu faktor keluarga. Jika di rumah ada lansia, balita atau difabel itu harus ditolong dengan latihan. Lalu 27 persennya adalah komunitas. Karena itu yang paling dekat membantu. Maka perlu ada sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW, sampai desa," tuturnya.(Ter)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update