![]() |
| Menekraf Teuku Riefky Harsya, didampingi Wamen Irene Umar menyampaikan dokumen untuk penyelenggaraan WCCE 2028 kepada perwakilan Glasgow City |
Jakarta, Internationalmedia.id.– The 5th World Conference on Creative Economy(WCCE) 2026 resmi ditutup di Jakarta, Jumat (23/10/2026), dengan menghasilkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai pijakan bersama pengembangan ekonomi kreatif dunia.
Konferensi yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Luar Negeri ini juga menetapkan Glasgow, Skotlandia, Britania Raya, sebagai tuan rumah WCCE 2028, sekaligus menandai kelanjutan kolaborasi internasional untuk memperkuat peran ekonomi kreatif di tingkat global.
WCCE 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat peran ekonomi kreatif di tingkat internasional. Dokumen Jakarta Vision on Creative Economy yang didukung 38 kepala delegasi dari berbagai negara tersebut akan dibawa ke New York untuk disampaikan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Luar Negeri selanjutnya akan memperjuangkan agar dokumen tersebut dapat menjadi bahan pemutakhiran resolusi PBB tentang ekonomi kreatif yang dijadwalkan pada akhir 2026.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan Jakarta Vision on Creative Economy merupakan kontribusi Indonesia dalam memperkuat pengembangan ekonomi kreatif global sekaligus merumuskan arah pembangunan sektor tersebut secara bersama.
“Saya berharap Jakarta Vision on Creative Economy ini mampu menangkap esensi ekonomi kreatif yang ingin kita wujudkan bersama. Ini adalah kontribusi Indonesia dalam mendorong penguatan ekonomi kreatif di tingkat global. Dengan bangga pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berhasil menghasilkan sebuah dokumen yang akan disumbangkan untuk perkembangan pembangunan ekonomi kreatif global,” ujar Teuku Riefky.
Empat Pilar Ekonomi Kreatif Global
Jakarta Vision on Creative Economy memuat empat pilar utama yang menjadi landasan pengembangan ekonomi kreatif global di tengah perubahan teknologi, tantangan lingkungan, dan kebutuhan akan ekosistem yang inklusif.
Pilar pertama menekankan pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan ekonomi kreatif. Penggunaan AI juga perlu didukung tata kelola yang baik agar pemanfaatannya berjalan secara bertanggung jawab.
Pilar kedua mendorong penerapan ekonomi sirkular, regenerative design, dan desain berkelanjutan untuk memperkuat kontribusi ekonomi kreatif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Pilar ketiga berfokus pada pembangunan ekosistem kreatif yang inklusif dan pemberdayaan masyarakat. Adapun pilar keempat menekankan perlindungan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), hak-hak kreator (creative rights), serta penerapan prinsip ekonomi yang adil (fair economy) agar manfaat ekonomi kreatif dapat dirasakan oleh para pelakunya di berbagai negara.
Menurut Teuku Riefky, perubahan teknologi yang pesat, termasuk perkembangan AI, telah membawa perubahan signifikan terhadap sektor ekonomi kreatif. Karena itu, kolaborasi dan kerja sama internasional diperlukan untuk memperkuat peran sektor ini sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inovasi, dan pengembangan budaya.
Dirumuskan Melalui Konsultasi Internasional
Penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy telah melalui serangkaian tahapan, mulai dari koordinasi lintas kementerian, pelibatan pemerintah daerah, konsultasi dengan perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional, hingga penjaringan masukan dari pemangku kepentingan ekonomi kreatif melalui FCE Square.
Dalam rangkaian WCCE 2026, dokumen tersebut dibahas lebih lanjut melalui pertemuan Friends of Creative Economy (FCE Meeting) untuk menghimpun pandangan dan menyelaraskan prioritas pengembangan ekonomi kreatif antarnegara.
Hasil pembahasan kemudian dibawa ke Ministerial Meeting WCCE 2026 hingga disepakati sebagai visi bersama bagi pengembangan ekonomi kreatif global.
Berakhirnya WCCE 2026 sekaligus menandai kelanjutan kerja sama internasional di bidang ekonomi kreatif menuju penyelenggaraan berikutnya di Glasgow pada 2028. Sementara itu, tindak lanjut Jakarta Vision on Creative Economy di forum PBB menjadi langkah penting untuk mendorong agar prinsip-prinsip yang disepakati dalam konferensi memperoleh ruang lebih luas dalam agenda pembangunan ekonomi kreatif dunia.(rbs)
