Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Telan Bulat-Bulat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 14:57 WIB Last Updated 2026-10-07T07:57:17Z

Oleh: Dr Wilmar Eliaser Simandjorang


Coba kita jujur. Dalam sehari, berapa banyak tulisan yang masuk ke telepon seluler kita? Puluhan, bahkan mungkin ratusan.

Apakah semuanya kita baca? Belum tentu. Tetapi sering kali baru membaca judul, kita sudah percaya. Lebih cepat lagi, baru melihat siapa yang mengirim, kita langsung berkata, “Benar ini.”

Ada yang mengatakan air hangat dapat menyembuhkan kanker. Ada yang mengajak tidak percaya kepada pemerintah. Ada pula pesan yang mengatakan, kalau tidak diteruskan, rezeki akan seret sampai tujuh turunan.

Kalau semua ditelan bulat-bulat, bukan hanya perut yang bisa kembung. Pikiran juga bisa kembung.

Orang tua kita dahulu punya nasihat sederhana: jolo tiniktik sanga dipangallang—periksa dahulu sebelum dimakan.

Kalau makanan saja harus diperiksa sebelum masuk ke mulut, apalagi informasi yang masuk ke kepala kita.

Nasihat lama itu justru semakin penting di zaman sekarang. Hanya dengan satu tombol, siapa pun bisa mengirim informasi kepada siapa saja. Masalahnya, tidak semua yang mudah dikirim berarti benar.

Berpikir jernih bukan soal gelar
Kadang kita mengira berpikir jernih hanya urusan orang pintar, profesor, atau mereka yang sekolahnya tinggi.

Saya tidak setuju.

Lihat saja tukang becak di Pangururan. Mungkin ia tidak pernah belajar teori lalu lintas di kampus, tetapi setiap hari ia tahu jalan mana yang macet, mana yang berlubang, dan mana yang sebaiknya dihindari.

Ibu-ibu di pasar juga begitu. Dengan memegang cabai sebentar, mereka bisa tahu mana yang segar dan mana yang mulai busuk.

Mereka sedang berpikir jernih.
Jadi, berpikir jernih bukan soal gelar. Lebih dari itu, berpikir jernih adalah soal mau menyaring sebelum percaya.
Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita ingat.

Pertama, manusia diberi akal budi.

Akal budi adalah anugerah Tuhan. Karena itu, jangan malas berpikir. Iman tidak mengajarkan manusia untuk membuang akalnya.

Dengan akal budi, kita bertanya, belajar, menimbang, membedakan, lalu mengambil keputusan. Dari sanalah manusia melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, musik, dan kebudayaan.

Kedua, manusia bisa salah.

Ini yang sering kita lupakan.

Orang yang tidak banyak tahu bisa salah. Orang yang pintar juga bisa salah. Bahkan orang yang sangat pintar bisa membuat kesalahan yang lebih sulit dikenali karena penjelasannya terdengar meyakinkan.

Bungkusnya rapi, isinya belum tentu benar.

Kita sering tertipu oleh kemasan. Makanan di foto terlihat begitu menggoda. Setelah datang, ternyata rasanya biasa saja. Begitu pula dengan informasi. Jangan hanya melihat bungkusnya.

Ketiga, kita semua perlu diluruskan.

Saya termasuk di dalamnya.

Tulisan ini pun tidak berarti saya selalu benar. Saya juga masih belajar. Karena itu, saya tidak sedang berdiri di depan pembaca sebagai orang yang sudah selesai berpikir.

Justru karena manusia bisa salah, kita perlu terus belajar, membaca, bertanya, dan membuka diri terhadap pemikiran yang berbeda.

Pengetahuan yang baik seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin sombong.

Jangan langsung percaya
Setiap kali membaca sebuah tulisan atau menerima sebuah pesan, ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan:

Dari sudut pandang mana penulis melihat persoalan ini?
Apa dasar atau buktinya?
Apa yang sejak awal dianggap benar?
Apakah ada kepentingan tertentu di balik cara persoalan itu disampaikan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa menjadi saringan agar kita tidak mudah dibawa ke mana-mana.

Ada satu cara lagi yang menurut saya menarik.

Coba jelaskan apa yang kita baca kepada seorang anak SMP yang sedang berjualan gorengan di pinggir jalan.

Gunakan bahasa sederhana. Jangan memakai istilah yang rumit.

Kalau kita sendiri tidak mampu menjelaskannya dengan sederhana, mungkin kita memang belum benar-benar memahami persoalan tersebut.

Bertanya bukan berarti tidak beriman
Kadang kita mendengar kalimat, “Sudahlah, jangan banyak tanya. Imani saja.”

Saya tidak hendak menghakimi siapa pun. Tetapi kita tetap perlu bertanya: apakah keyakinan kita semakin kuat karena kita memahami, atau kita berhenti bertanya karena malas berpikir?

Menurut saya, bertanya bukan berarti tidak beriman.

Pertanyaan yang jujur justru bisa membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam.

Karena itu, kebiasaan berpikir jernih tidak perlu hanya dilakukan di ruang kuliah. Bawa ke meja makan, ke ladang, ke warung kopi, ke arisan, ke pertemuan keluarga, bahkan ke grup WhatsApp.

Jangan setiap pesan langsung diberi jempol lalu diteruskan kepada puluhan orang.
Berhenti sebentar.
Baca lagi.
Pikirkan.
Periksa.

Kalau belum yakin, tidak apa-apa mengatakan, “Saya belum tahu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat sehat.

Kita tidak harus mengetahui semua hal hari ini. Kita juga tidak harus mengomentari semua hal yang beredar.

Tujuan berpikir jernih
Berpikir jernih bukan untuk memenangkan perdebatan. Hidup tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kita berhasil membuat orang lain kalah dalam percakapan.

Tujuannya jauh lebih sederhana: agar kita tidak mudah ditipu, tidak mudah menipu diri sendiri, dan tidak ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata tidak benar.

Kita tidak perlu S3 untuk melakukan itu.
Tidak perlu merasa paling pintar.
Kita hanya perlu mau memakai saringan.

Baca dengan akal.
Timbang dengan hati.
Periksa dengan bukti.
Dan jangan malu mengatakan, “Saya belum tahu.”

Mungkin dari situlah kejernihan mulai tumbuh. *

Salam jernih dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula.


(Penulis, adalah Pegiat lingkungan dan Literasi- tinggal di Lereng Pusuk Buhit Samosir)

×
Berita Terbaru Update