Notification

×

Iklan

Iklan

Belajar Kepemimpinan Dari Burung Rangkong

Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:36 WIB Last Updated 2026-10-15T01:49:07Z

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Di tengah krisis keteladanan dan kepemimpinan yang kerap terjebak pada pencitraan, hutan tropis Indonesia menyimpan pelajaran berharga. Salah satunya datang dari burung rangkong atau hornbill.

Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, rangkong bukan sekadar satwa hutan. Ia dimaknai sebagai burung keramat, Panglima Burung, yang melambangkan perlindungan, ketegasan, dan kemuliaan. Kearifan ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menyimpan pesan ekologis tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap.

Pertama, pemimpin harus menjaga pohon besar.
Rangkong bergantung pada hutan yang masih utuh, terutama pohon-pohon besar dan tua yang menyediakan rongga untuk bersarang. Ketika pohon-pohon itu hilang, habitatnya terancam. Karena itu, keberadaan rangkong menjadi salah satu penanda penting bagi kesehatan ekosistem hutan.

Begitu pula dengan kepemimpinan. Pemimpin tidak boleh hanya mengejar hasil cepat, popularitas, dan pencitraan. Ia harus membangun fondasi yang kokoh, menjaga institusi, merawat kepercayaan, dan memastikan masa depan generasi berikutnya tetap terjamin.

Pemimpin sejati tidak sibuk memperindah sarangnya sendiri. Ia memastikan pohon tempat banyak kehidupan bergantung tetap berdiri.


Kedua, pemimpin menabur, bukan menghabiskan.
Rangkong dikenal sebagai farmers of the forest atau petani hutan karena perannya menyebarkan biji-bijian yang membantu regenerasi hutan. Ia tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan kehidupan baru.

Inilah prinsip kepemimpinan yang penting: sumber daya, kekuasaan, dan kesempatan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan dikelola demi kepentingan bersama.

Pemimpin yang hanya mengumpulkan keuntungan untuk dirinya akan meninggalkan kerusakan. Sebaliknya, pemimpin yang membagikan kesempatan, menumbuhkan potensi, dan menyiapkan penerus akan meninggalkan manfaat yang terus berkembang.

Pemimpin yang hanya mengambil akan meninggalkan kekosongan. Pemimpin yang menabur akan mewariskan kehidupan.

Ketiga, pemimpin mendengar lebih tajam daripada suaranya.
Saat berkembang biak, rangkong betina berada di dalam rongga pohon yang ditutup sebagian menggunakan material seperti lumpur dan sisa makanan. Selama periode itu, rangkong jantan mencari makanan untuk betina dan anak-anaknya. Komunikasi melalui celah sarang membantu mereka tetap terhubung.

Dari perilaku ini, kita belajar tentang tanggung jawab, kesetiaan, dan kepekaan. Seorang pemimpin harus mampu mendengar suara yang paling lemah, memahami kebutuhan masyarakat yang tidak selalu terdengar, dan hadir ketika orang lain membutuhkan perlindungan.

Kepemimpinan bukan perlombaan untuk menjadi yang paling lantang. Bukan pula panggung untuk terus-menerus menunjukkan kekuasaan. Kepemimpinan adalah kesediaan mendengar, memahami, dan bertindak.

Di sinilah kearifan Batak Toba memberikan peneguhan melalui umpasa:
Jongjong hau na bolon, tokka do si tabaon. Molo peak, si tokka do gulingon. Artinya, “Selama pohon besar masih berdiri tegak, pantang untuk menebangnya. Jika telah tumbang, pantang pula menggulingkannya sembarangan.”

Pesan ini mengajarkan penghormatan terhadap sesuatu yang telah memberi kehidupan. Pohon besar bukan sekadar kayu. Ia adalah rumah, sumber pangan, tempat berlindung, dan penopang ekosistem.

Demikian pula pemimpin, guru, dan institusi yang telah menanamkan nilai serta membangun fondasi bagi banyak orang. Semua perlu dijaga keberlanjutannya, bukan dirusak demi kepentingan sesaat.

Namun, menjaga bukan berarti mempertahankan kekuasaan tanpa batas. Ada waktunya seorang pemimpin harus menyerahkan tongkat estafet. Ketika masa tugas berakhir, ia perlu mundur dengan terhormat, memberi ruang bagi generasi baru, dan memastikan nilai-nilai baik yang telah dibangun tetap hidup.

Seperti pohon tua yang akhirnya tumbang dan menjadi bagian dari siklus kehidupan hutan, pengabdian seorang pemimpin seharusnya menyuburkan pertumbuhan berikutnya, bukan menghalanginya.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang bertengger, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang tumbuh berkat kehadirannya.

Burung rangkong mengajarkan kita untuk menjaga yang besar, menabur bagi masa depan, dan mendengar suara yang lemah. Kearifan Dayak dan Batak Toba mengingatkan bahwa kehidupan harus dihormati dan diwariskan, bukan dihabiskan.

Kita tidak sekadar mewarisi alam dari leluhur. Kita meminjamnya dari generasi mendatang. Demikian pula kekuasaan dan kepercayaan: keduanya bukan milik abadi seorang pemimpin, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Pemimpin yang baik tahu kapan harus berdiri tegak menjaga kehidupan dan kapan harus mundur agar kehidupan terus bertumbuh.

Ketika ia turun dari pohon tertinggi, hutan harus tetap hidup, benih harus tetap tumbuh, dan generasi berikutnya harus memiliki ruang untuk terbang.

(Penulis adalah, Pegiat Lingkungan dan Budaya Basis Geopark, tinggal di Samosir).

×
Berita Terbaru Update