Notification

×

Iklan

Iklan

Totok Suryanto: AI Jadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Jurnalis

Jumat, 25 September 2026 | 14:28 WIB Last Updated 2026-09-25T07:28:54Z
Totok Suryanto mengenakan kemeja batik biru pegang Mik

Bandung.Internationalmedia.id.- Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto menegaskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semestinya ditempatkan sebagai alat bantu bagi jurnalis untuk memperluas potensi dan kreativitas, bukan sebagai pengganti peran manusia dalam kerja jurnalistik.

Penegasan itu disampaikan Totok dalam talk show bertajuk “Masa Depan Pers: Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta” yang digelar di Block71 Bandung, Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Kamis (24/9/2026). 

Menurut dia, perkembangan teknologi AI perlu disikapi secara adaptif oleh insan pers, tanpa mengesampingkan prinsip utama jurnalistik, yakni akurasi, verifikasi, dan keberpihakan pada fakta.

Mantan wartawan dan petinggi media televisi itu mengatakan kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai proses kerja jurnalistik. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan kendali dan penilaian manusia agar informasi yang dihasilkan tidak mengabaikan standar serta etika jurnalistik.
Menurut Toto, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperbesar potensi dan kreativitas, bukan untuk menggantikan peran jurnalis.

Penjelasan tersebut disampaikan mantan wartawan Surabaya Pos ini dalam talk show bertajuk Masa Depan Pers : Tumbuh Adaptif dengan Teknologi, Terjaga Kualitas dengan Fakta. Acara berlangsung di Block71 Bandung, Innovation Factory, Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung, Kamis(24/9).

Wakil Pemimpin Redaksi TV One ini menjelaskan AI sesungguhnya bukan barang baru di dunia jurnalistik, sudah ada sejak dahulu. Hanya sebutannya saja yang berbeda bank data.

AI hanya alat bantu agar jurnalis bisa meningkatkan produktivitas serta efisiensi, bukan pengendali utama karya jurnalistik.

“Manusia harus tetap memegang kendali penuh, untuk menentukan konteks, kebenaran informasi, dan keputusan akhir,” ktanya.

Dalam industri media seperti yang terjadi saat ini, insan pers didorong untuk mempelajari dan menguasai AI agar tidak merugi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, mengatakan perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan bagi media, termasuk dalam proses mendapatkan dan mengolah informasi.

Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kehati-hatian. Salah satunya ketika wartawan memanfaatkan AI untuk membantu proses produksi berita.

Menurut Fifi, informasi yang dihasilkan teknologi belum tentu sepenuhnya benar meskipun secara struktur terlihat meyakinkan.

Ia mencontohkan pernah menemukan informasi mengenai seorang tokoh nasional yang berubah setelah diproses menggunakan teknologi. Tokoh yang diketahui memiliki satu anak justru disebut mempunyai tiga anak.

“Jadi hal-hal tersebut yang harus kita benar-benar waspadai. Kita cek,” ujar Fifi.

Ia menilai AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu dalam kerja jurnalistik. Proses pengecekan dan verifikasi tetap diperlukan sebelum informasi dipublikasikan kepada masyarakat.

Ritme Ruang Redaksi
Perubahan teknologi juga membuat ritme ruang redaksi semakin cepat. Jika sebelumnya perubahan sebuah isu dapat dipantau dalam hitungan jam, kini perkembangan informasi bisa berubah dari menit ke menit.

“Sekarang itu perubahan bisa menit per menit,” kata Fifi.

Kondisi tersebut membuat media harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan kualitas pemberitaan.

Sebab, menurut Fifi, kepercayaan publik menjadi salah satu modal penting bagi media untuk terus bertahan.

“Trust atau kepercayaan itu tidak lahir secara instan. Reputasi itu dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam waktu satu hari,” tegasnya.

Dosen Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) Achmad Abdul Basith menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik dan verifikasi fakta di tengah perkembangan teknologi dan AI.

“AI dapat membantu produksi penunjang seperti ilustrasi atau foto, tetapi kerja verifikasi fakta yang disiplin tetap membutuhkan peran manusia,” katanya,(*)
×
Berita Terbaru Update