Notification

×

Iklan

Iklan

Tahta Tidak Direbut, Tahta Dikembalikan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:06 WIB Last Updated 2026-08-15T03:07:43Z

Oleh: Wilmar Eliaser Simanjorang

Yang perlahan hilang dari Tanah Batak bukan hanya hutan, air, atau ruang hidup. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar dan mengkhawatirkan: ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, serta nilai-nilai apa yang semestinya kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Saya tinggal di lereng Dolok Pusuk Buhit, Samosir. Setiap hari saya memandang Danau Toba dari tempat yang memiliki makna sejarah dan budaya yang begitu kuat bagi masyarakat Batak. Dari sini saya semakin memahami bahwa tanah, alam, dan kebudayaan tidak pernah benar-benar dapat dipisahkan.

Ketika alam rusak, kebudayaan kehilangan ruang hidupnya. Ketika adat dilupakan, masyarakat kehilangan salah satu pedoman dalam memperlakukan alam, sesama manusia, dan kehidupan.

Karena itu, berbicara tentang kelestarian lingkungan di Tanah Batak tidak cukup hanya membicarakan hutan, air, dan ekosistem. Kita juga harus berbicara tentang nilai, ingatan, identitas, dan kebudayaan.

Saya teringat pada The Chronicles of Narnia: Prince Caspian, karya C.S. Lewis. Dalam kisah tersebut, Pangeran Caspian kehilangan tahta setelah direbut oleh pamannya, Miraz. Namun persoalannya bukan semata-mata tentang perebutan kekuasaan. Ada pula upaya untuk memutus hubungan masyarakat dengan sejarah, leluhur, dan ingatan kolektif mereka.

Tradisi dianggap usang. Kisah leluhur perlahan dijauhkan dari kehidupan. Ingatan tentang asal-usul menjadi kabur.

Di titik inilah kisah Narnia terasa relevan untuk kita renungkan.

Masyarakat Batak memiliki "terompet" yang dapat memanggil kembali ingatan itu. Namanya Dalihan Na Tolu.

Dalihan Na Tolu bukan sekadar konsep adat. Nilai-nilainya hidup dalam umpasa, umpama, gondang, ulos, gotong royong, musyawarah, serta berbagai tata hubungan sosial yang mengajarkan bagaimana seseorang menempatkan diri, menghormati sesama, membangun hubungan kekeluargaan, dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi penting:
Apakah terompet itu masih kita tiup?.


Ketika Adat Tinggal Seremoni

Krisis adat tidak selalu datang dalam bentuk larangan atau penghapusan secara terang-terangan. Ia dapat hadir perlahan, bahkan tanpa kita sadari.

Anak-anak semakin jauh dari bahasa Batak. Makna marga tidak selalu dipahami sebagai bagian penting dari identitas. Musyawarah dapat kalah oleh kepentingan pribadi. Semangat gotong royong perlahan berhadapan dengan individualisme.

Adat tetap disebut dalam berbagai upacara. Ulos tetap dikenakan. Gondang tetap dimainkan. Dalihan Na Tolu tetap diucapkan.

Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah nilai-nilainya masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah kita perlu melakukan introspeksi.

Jangan sampai adat hanya menjadi seremoni tanpa nilai. Jangan sampai kita begitu bangga menyebut warisan leluhur, tetapi lupa menjalankan tanggung jawab yang melekat di dalamnya.

Modernisasi memang membawa perubahan besar. Teknologi, pendidikan, urbanisasi, dan perkembangan ekonomi telah mengubah cara manusia berkomunikasi serta menjalani kehidupan.

Namun, modernisasi tidak seharusnya dijadikan satu-satunya alasan atas semakin jauhnya generasi muda dari adat.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana kita sendiri memperlakukan adat.

Kita sering bangga mengenakan ulos, memainkan gondang, menyebut Dalihan Na Tolu, atau menampilkan berbagai simbol budaya dalam kegiatan tertentu. Tetapi kebanggaan simbolik tidak akan cukup jika nilai yang terkandung di dalamnya tidak menjadi pedoman dalam kehidupan.

Sebab adat bukan sekadar warisan. Adat adalah tanggung jawab.


Dalihan Na Tolu sebagai Kompas Kehidupan

Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan hubungan antarmanusia. Ia mengandung nilai tentang bagaimana seseorang menempatkan diri, menghormati pihak lain, membangun hubungan kekeluargaan, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, serta menjaga keharmonisan kehidupan bersama.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya tidak bertentangan dengan kehidupan modern.

Justru sebaliknya. Ketika dunia semakin individualistis, kita membutuhkan kembali nilai kebersamaan. Ketika konflik semakin mudah terjadi, kita membutuhkan tradisi musyawarah. Ketika kepentingan ekonomi sering mengalahkan kepentingan lingkungan, kita membutuhkan kesadaran bahwa manusia tidak berdiri di luar alam, melainkan menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Karena itu, menjaga adat bukan berarti menolak perubahan.

Adat dapat menjadi kompas agar perubahan tidak membuat kita kehilangan arah.

Kita boleh membangun jalan, kawasan permukiman, pusat ekonomi, teknologi, dan berbagai infrastruktur modern. Namun pembangunan seharusnya tidak membuat kita kehilangan akar.

Kemajuan tidak harus berarti meninggalkan adat. Justru nilai-nilai adat dapat menjadi landasan agar kemajuan tetap berpihak pada manusia, lingkungan, kebersamaan, dan keberlanjutan.

Dalam konteks inilah krisis adat sesungguhnya bukan hanya krisis budaya.

Krisis adat adalah krisis cara hidup.

Tahta yang Harus Dikembalikan

Dalam kisah Prince Caspian, tahta bukan sekadar kursi kekuasaan. Ia melambangkan sejarah, legitimasi, tanggung jawab, dan hak untuk menjaga kehidupan yang diwariskan.

Dari kisah itu saya belajar satu kalimat:
Tahta tidak direbut. Tahta dikembalikan.

Dalam konteks kita, tahta bukanlah kekuasaan politik atau kedudukan sosial. Tahta adalah martabat, identitas, nilai, dan kepercayaan untuk menjaga warisan leluhur.

Karena itu, kita tidak perlu menunggu seseorang datang untuk menyelamatkan adat Batak.

Kitalah yang harus menghidupkannya.

Mulailah dari keluarga.

Ajarkan anak-anak bahasa Batak. Kenalkan mereka pada marga dan sejarah keluarga. Ceritakan kisah para leluhur. Jelaskan makna umpasa dan umpama. Hidupkan kembali tradisi musyawarah. Rawat semangat gotong royong.

Yang tidak kalah penting, ajarkan bahwa adat bukan hanya sesuatu yang dikenakan ketika pesta atau upacara.

Adat harus hadir dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menyelesaikan persoalan, dan menjaga lingkungan.

Jika nilai adat hanya diucapkan tetapi tidak dijalankan, ia perlahan akan kehilangan daya hidupnya.

Sebab adat yang hanya dikenang tidak akan menyelamatkan generasi. Adat harus dijalankan.


Menyalakan Kembali Ingatan

Kita mungkin tidak memiliki jabatan. Kita mungkin tidak memiliki kekuasaan.
Namun setiap orang memiliki "terompet": suara, tulisan, teladan, dan tindakan.

Tiup terompet itu.

Bukan untuk melawan perubahan. Bukan pula untuk mengajak generasi muda kembali ke masa lalu.

Sebaliknya, kita harus memastikan bahwa ketika melangkah menuju masa depan, kita tidak kehilangan jati diri.

Anak-anak muda Batak tidak harus memilih antara menjadi modern atau menjadi Batak. Mereka dapat menjadi keduanya: maju dalam pengetahuan dan teknologi, sekaligus memiliki akar budaya yang kuat.

Sebab manusia yang mengetahui asal-usulnya akan lebih mudah menentukan ke mana ia hendak melangkah. Demikian pula dengan sebuah masyarakat.

Pembangunan tidak semata-mata diukur dari gedung yang berdiri, jalan yang terbentang, atau pertumbuhan ekonomi yang tercatat dalam angka. Pembangunan juga harus dilihat dari apa yang berhasil kita jaga: lingkungan, kebudayaan, solidaritas sosial, dan martabat manusia.

Pada akhirnya, generasi mendatang mungkin tidak akan bertanya berapa banyak yang telah kita bangun.

Mereka mungkin justru bertanya:

"Apa yang masih kami terima dari kalian?"

Jangan sampai jawaban kita hanya berupa cerita tentang masa lalu.

Wariskan hutan yang masih dapat bernapas. Wariskan air yang masih dapat diminum. Wariskan bahasa yang masih dapat digunakan. Wariskan adat yang masih hidup. Wariskan nilai yang masih dijalankan.

Sebab warisan terbaik bukanlah benda yang kita tinggalkan, melainkan nilai yang tetap hidup setelah kita tiada.

Mari kita wariskan adat yang hidup, bukan adat yang tinggal nama.

Mari kita kembalikan "tahta" itu kepada tempat yang semestinya: kepada generasi yang akan datang, kepada mereka yang memiliki hak untuk mengenal akar budayanya sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya.

Karena pada akhirnya, menjaga adat bukan sekadar mempertahankan masa lalu. Menjaga adat adalah memastikan masa depan tetap memiliki arah.

Tahta tidak direbut. Tahta dikembalikan—kepada generasi yang tetap setia menjaga akar, nilai, alam, dan martabatnya.

(Penulis, adalah Penggiat Lingkungan Berbasis Budaya, tinggal di Lereng Dolok Pusuk Buhit, Samosir)




×
Berita Terbaru Update