Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Yang Lain Berhenti, Kita Harus Berjalan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:20 WIB Last Updated 2026-08-11T08:20:15Z

Oleh: Wilmar Eliaser Simanjorang


Ada kalanya sesuatu yang benar justru tampak keliru karena hanya sedikit orang yang mempercayainya. Pada situasi seperti itu, seseorang dihadapkan pada pilihan: ikut berhenti karena orang lain berhenti, atau tetap melangkah karena meyakini bahwa jalan yang ditempuh masih memiliki tujuan yang benar.

Gagasan tersebut mengingatkan saya pada kisah Lucy dalam *The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader* karya C.S. Lewis. Lucy melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh saudara-saudaranya. Ia tetap percaya meskipun orang lain meragukannya.

Pelajaran yang dapat dipetik bukan semata-mata tentang siapa yang paling banyak percaya, melainkan tentang keberanian mengikuti apa yang diyakini benar ketika orang lain belum mampu melihatnya.

Bagi saya, pelajaran itu sangat relevan dengan kondisi masyarakat Batak saat ini.
Kita sedang menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar berkurangnya penggunaan bahasa Batak atau semakin sedikitnya generasi muda yang memahami umpasa dan umpama. 

Persoalan yang lebih mendasar adalah “melemahnya keyakinan terhadap nilai-nilai budaya yang selama berabad-abad menjadi salah satu penyangga kehidupan masyarakat”

Adat masih hadir dalam berbagai seremoni. Ulos masih dikenakan. Pesta adat masih dilaksanakan. Istilah Dalihan Na Tolu masih sering disebut.

Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari ?

Di sinilah tantangan sesungguhnya.

Adat tidak hilang semata-mata karena orang berhenti mengenakan pakaian adat. Adat mulai kehilangan makna ketika nilai yang dikandungnya tidak lagi dipahami, dipercaya, dan dijalankan.

Dalihan Na Tolu, misalnya, bukan hanya sistem kekerabatan. Di dalamnya terdapat nilai tentang bagaimana seseorang menempatkan diri, menghormati orang lain, menjaga keseimbangan hubungan, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan, bahkan ketika masyarakat memasuki kehidupan yang semakin modern dan kompleks.

Modernisasi tidak harus menjadi lawan adat. Teknologi tidak harus menjadi musuh budaya. Pendidikan tinggi tidak semestinya membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk membedakan mana yang memang harus berubah dan mana yang justru perlu dipertahankan. Tidak semua yang lama harus dibuang. Tidak semua yang baru harus diterima.

Iman dan Keberanian Memegang Nilai

Di titik inilah iman dan ketaatan memperoleh makna yang lebih luas.

Iman bukan hanya persoalan keyakinan pribadi kepada Tuhan. Dalam kehidupan sosial, iman juga dapat diwujudkan melalui keberanian memegang nilai yang diyakini benar, bahkan ketika nilai tersebut tidak populer.

Ketaatan juga bukan sekadar menjalankan aturan. Ketaatan berarti kesediaan menjalankan tanggung jawab meskipun hasilnya belum dapat segera dilihat.

Mengajarkan bahasa Batak kepada anak mungkin tidak memberikan keuntungan ekonomi secara langsung. Namun, tindakan tersebut membantu menjaga mata rantai identitas dan pengetahuan antargenerasi.

Mengajarkan umpasa dan umpama mungkin terlihat sederhana. Padahal, di dalamnya tersimpan pengalaman, pandangan hidup, nasihat, serta cara suatu masyarakat memahami hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya.

Demikian pula dengan menjaga hutan dan Danau Toba.
Manfaat dari menjaga lingkungan mungkin tidak selalu dapat dirasakan hari ini. Sebaliknya, kerusakan yang dibiarkan sekarang dapat menjadi persoalan serius bagi generasi yang akan datang.

Karena itu, menjaga adat dan menjaga lingkungan memiliki akar tanggung jawab yang sama: kesediaan merawat sesuatu yang tidak semata-mata menjadi milik kita.

Danau Toba dan Pelajaran dari Alam

Saya tinggal di lereng Dolok Pusuk Buhit. Dari tempat ini, Danau Toba menjadi bagian dari keseharian sekaligus ruang untuk belajar tentang hubungan manusia dengan alam.

Alam tidak selalu memberikan peringatan dalam bentuk bencana besar. Kerusakan sering berlangsung perlahan dan baru disadari ketika dampaknya sudah melewati batas.

Hal yang sama dapat terjadi pada kebudayaan.

Ketika bahasa mulai ditinggalkan, nilai musyawarah melemah, dan anak-anak tidak lagi mengenal sejarah keluarga serta lingkungan budayanya, kehilangan tersebut mungkin tidak langsung terasa.

Namun, secara perlahan, masyarakat dapat kehilangan kemampuan untuk menjelaskan siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang seharusnya menjadi pijakan dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, kita tidak boleh menunggu sampai kehilangan menjadi sempurna untuk mulai bertindak.

Kita tidak perlu menunggu semua orang percaya bahwa adat penting. Kita juga tidak harus menunggu semua orang sepakat bahwa lingkungan harus dijaga.

Kita harus berjalan lebih dahulu.

Bukan karena merasa paling benar, melainkan karena ada nilai yang layak dipertahankan dan ada warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Perubahan Dimulai dari Hal Sederhana

Pelajaran dari Lucy mengingatkan bahwa keyakinan tidak selalu lahir dari dukungan mayoritas. Ia tetap melangkah ketika orang lain belum melihat apa yang dilihatnya.

Masyarakat Batak juga membutuhkan keberanian semacam itu.

Ada keluarga yang harus lebih dahulu menggunakan bahasa Batak di rumah. Ada generasi muda yang perlu lebih dahulu merasa bangga terhadap budayanya. Ada komunitas yang harus lebih dahulu menghidupkan kembali nilai-nilai adat. Dan ada warga yang perlu lebih dahulu bersuara ketika lingkungan di sekitarnya mulai mengalami kerusakan.

Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Sering kali perubahan justru bermula dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Menggunakan bahasa Batak di rumah adalah tindakan kecil. Mengajarkan umpasa kepada anak adalah tindakan kecil. Mengenalkan sejarah leluhur kepada generasi muda adalah tindakan kecil.

Menjaga kebersihan sungai, hutan, dan lingkungan sekitar juga merupakan tindakan kecil. Namun, tindakan-tindakan kecil yang dilakukan oleh banyak orang dan secara terus-menerus dapat menjadi gerakan besar.

Karena itu, menjaga adat tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau tokoh adat.

Menjaga adat adalah tanggung jawab bersama: keluarga, sekolah, komunitas, gereja, pemerintah, dunia usaha, dan setiap orang yang merasa memiliki keterikatan dengan kebudayaan Batak.

Jika kita percaya bahasa Batak harus tetap hidup, gunakanlah.
Jika kita percaya nilai Dalihan Na Tolu masih relevan, jalankanlah dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita percaya anak-anak perlu mengenal akar budayanya, ajarkanlah sejak sekarang.

Jika kita percaya Danau Toba harus diwariskan dalam keadaan baik, mulailah menjaga lingkungan dari tempat kita berada.

Sebab, yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar apa yang kita katakan tentang adat, melainkan “apa yang kita lakukan agar adat tetap hidup”.

Berjalan Lebih Dahulu.
Mungkin hari ini kita harus berjalan sendirian.
Tidak apa-apa.

Sebab kebenaran tidak selalu menunggu kerumunan. Sesuatu yang bernilai tidak otomatis menjadi tidak penting hanya karena belum banyak orang yang memperjuangkannya.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk memulai.
Kita tidak harus menjadi yang paling hebat. Kita hanya perlu memastikan bahwa apa yang baik tidak berhenti pada generasi kita.

Ketika generasi berikutnya datang, mereka harus masih menemukan bahasa yang dapat mereka gunakan, nilai yang dapat mereka jadikan pedoman, budaya yang dapat mereka banggakan, dan lingkungan yang masih layak mereka tinggali.

Karena itu, “ketika yang lain berhenti percaya, kita harus jalan duluan”.
Bukan untuk menjadi yang paling hebat, melainkan agar ketika generasi berikutnya datang, mereka masih menemukan sesuatu yang layak disebut akar:

Adat yang hidup, budaya yang bermartabat, dan tanah yang tetap menjadi rumah.*

(Penulis, adalah: Penggiat Lingkungan Basis Budaya,Tinggal di Lereng Dolok Pusuk Buhit, Samosir)

×
Berita Terbaru Update