Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Bali untuk Pusuk Buhit

Selasa, 04 Agustus 2026 | 14:00 WIB Last Updated 2026-08-04T07:00:37Z

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
            Pegiat Lingkungan Basis Geopark Kaldera Toba

Perjalanan ke Bali menyisakan sebuah perenungan. Yang membuat Bali dihormati dunia bukan semata-mata keindahan alamnya, melainkan kemampuannya menjaga hubungan harmonis antara manusia, budaya, alam, dan spiritualitas sebagai satu sistem kehidupan. Pariwisata bertumbuh karena masyarakat mampu merawat peradabannya.

Dari sanalah lahir pertanyaan yang terus menggelisahkan hati dan pikiran penulis: mengapa Kaldera Toba yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark belum sepenuhnya menjadikan geopark sebagai paradigma pembangunan kawasan?.

Bagi saya, persoalannya terletak pada cara pandang. Selama ini geopark masih dipahami sebagai proyek pariwisata, padahal hakikatnya jauh lebih luas. Geopark adalah ruang tempat warisan geologi, keanekaragaman hayati, budaya, pendidikan, penelitian, dan kesejahteraan masyarakat dipadukan dalam satu sistem pembangunan yang berkelanjutan.

Karena itu, tesis yang saya ajukan sederhana sekaligus mendasar: Geopark bukan destinasi. Geopark adalah perjalanan peradaban (Journey of Civilization). Inilah cara pandang yang menurut saya harus menjadi arah baru pembangunan Kaldera Toba.

Sejak pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan pemerintah pusat berkomitmen melaksanakan pembangunan berbasis geopark, harapan masyarakat sesungguhnya sangat besar. Namun hingga kini implementasinya belum menunjukkan perubahan yang sistematis. 

Berbagai rekomendasi dari proses evaluasi dan revalidasi UNESCO telah diberikan selama bertahun-tahun. Esensinya selalu sama, yaitu memperkuat tata kelola, menyusun perencanaan yang terpadu, meningkatkan pendidikan, memperkuat konservasi, melibatkan masyarakat, serta membangun kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Persoalannya bukan lagi kurangnya rekomendasi, melainkan belum tuntasnya pelaksanaan rekomendasi tersebut di lapangan.

Geopark masih terlalu sering hadir dalam bentuk festival, seremoni, dan promosi. Yang belum benar-benar terbangun adalah sistemnya. Hingga kini belum tampak sebuah gerak bersama yang secara konsisten menyatukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, tujuh pemerintah kabupaten, badan pengelola, perguruan tinggi, masyarakat adat, dunia usaha, dan komunitas dalam satu arah pembangunan. Keberadaan rencana induk yang menjadi acuan bersama pun masih menjadi pekerjaan besar.

Padahal sebuah geopark tidak dibangun oleh banyaknya kegiatan, melainkan oleh kesatuan visi, kebijakan, pembiayaan, dan tindakan.

Kegelisahan itulah yang melahirkan gagasan yang saya kembangkan bersama Djinaldi Gosana, yaitu NOBLE JOURNEY PUSUK BUHIT – The Roots of Bangso Batak.

Bagi penulis, Pusuk Buhit bukan sekadar sebuah gunung atau geosite. Pusuk Buhit adalah ruang tempat tiga sejarah bertemu sekaligus: sejarah bumi yang dibentuk oleh supererupsi Toba, sejarah lahirnya Bangso Batak, dan sejarah hubungan manusia dengan alam yang diwariskan melalui adat, tarombo, pengetahuan lokal, serta spiritualitas.

Karena itu, Pusuk Buhit tidak layak dikembangkan hanya sebagai destinasi wisata. Ia harus diposisikan sebagai Living Heritage Landscape, bentang warisan hidup tempat geodiversitas, biodiversitas, dan keragaman budaya menyatu menjadi sumber pembelajaran dan pembangunan.

Inilah roh Noble Journey.

Perjalanan ke Pusuk Buhit bukan sekadar perjalanan menikmati panorama. Ia adalah perjalanan memahami asal-usul, mengenali identitas, merasakan kebijaksanaan leluhur, dan membangun tanggung jawab terhadap masa depan.

Paradigma ini mengubah makna perjalanan. Bukan lagi datang, melihat, berfoto, lalu pulang. Melainkan datang untuk mengenal akar, belajar memahami peradaban, mengalami hubungan manusia dengan alam, berkontribusi memulihkan lingkungan, dan meninggalkan warisan bagi generasi mendatang.

Dalam kerangka itu, wisatawan tidak lagi menjadi konsumen destinasi, tetapi menjadi bagian dari gerakan konservasi dan regenerasi kawasan.

Pemikiran tersebut diwujudkan melalui pengembangan Porlak Etnobotani Batak di Sigulatti, Sianjur Mulamula. Porlak tidak dibangun sebagai kebun koleksi tanaman, melainkan sebagai perpustakaan hidup pengetahuan ekologis Bangso Batak. 

Setiap tumbuhan tidak hanya dikenalkan melalui nama ilmiahnya, tetapi juga melalui fungsi ekologis, manfaat sebagai pangan dan obat, bahan bangunan rumah adat, perlengkapan pertanian, nilai budaya, serta filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dilestarikan bukan hanya tumbuhannya, melainkan pengetahuan dan peradaban yang hidup bersamanya.

Di sinilah letak kebaruan gagasan Noble Journey Pusuk Buhit. Geosite tidak lagi dipandang sebagai objek wisata, melainkan sebagai ruang pembelajaran peradaban. Ukuran keberhasilannya bukan semata jumlah pengunjung, melainkan sejauh mana kawasan mampu memperkuat identitas budaya, memulihkan ekosistem, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan bumi.

Penulis  meyakini, apabila Pusuk Buhit dikembangkan dengan paradigma ini, Indonesia tidak hanya memiliki destinasi unggulan baru, tetapi juga memiliki model implementasi UNESCO Global Geopark yang lahir dari kearifan Nusantara. Sebuah model yang menunjukkan bahwa konservasi, kebudayaan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi bukanlah tujuan yang saling bertentangan, melainkan satu perjalanan yang utuh.

Karena itu, Kaldera Toba tidak membutuhkan slogan baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah cara berpikir. Dari membangun destinasi menjadi membangun peradaban.

Sebab pada akhirnya, Geopark bukan destinasi. Geopark adalah perjalanan peradaban. Dan perjalanan itu, bagi Bangso Batak, semestinya dimulai dari Pusuk Buhit—The Roots of Bangso Batak.*

×
Berita Terbaru Update