Notification

×

Iklan

Iklan

Menuju Green Toba dan Kritik Konstruktif

Senin, 06 Juli 2026 | 11:34 WIB Last Updated 2026-07-06T04:34:36Z

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
           Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI)


Keberhasilan Toba Caldera UNESCO Global Geopark (UGGp) memperoleh kembali Green Card pada tahun 2025 merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. 

Setelah menerima Yellow Card pada 2023, status tersebut menunjukkan bahwa berbagai rekomendasi UNESCO telah ditindaklanjuti melalui kolaborasi pemerintah, badan pengelola, akademisi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. 

Namun, Green Card bukanlah garis akhir. Ia adalah titik awal untuk membuktikan bahwa pengakuan internasional mampu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Dalam Operational Guidelines for UNESCO Global Geoparks (2023), UNESCO menegaskan bahwa geopark bukan sekadar kawasan konservasi ataupun destinasi wisata. 

Geopark adalah wilayah pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan konservasi warisan geologi, pendidikan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat. 

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada status yang diperoleh, tetapi pada perubahan yang dirasakan masyarakat yang hidup di dalam kawasan geopark.

Momentum tersebut menjadikan Geofest ke-7 Tahun 2026 sangat strategis. Geofest seharusnya tidak hanya menjadi festival tahunan, melainkan etalase tata kelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark. Sudah saatnya penyelenggaraannya diarahkan pada empat agenda reformasi agar benar-benar menjadi instrumen pembangunan kawasan.

Pertama, reformasi orientasi. Geofest perlu dikembalikan kepada lanskap geopark. Selama ini sebagian besar kegiatan masih didominasi seminar, konferensi, dan seremoni di ruang-ruang pertemuan. 

Padahal, ruang belajar geopark yang sesungguhnya adalah geosite, jalur geotrail, desa adat, kawasan konservasi, dan bentang alam Kaldera Toba. Geowalk, interpretasi geosite, edukasi lapangan, penelitian, konservasi, hingga kegiatan budaya berbasis masyarakat akan memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar presentasi di dalam gedung. 

Demikian pula penghijauan, hendaknya bergeser dari seremoni penanaman pohon menuju rehabilitasi ekologis yang direncanakan, dipelihara, dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Kedua, reformasi manfaat ekonomi. Prinsip UNESCO Global Geopark menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Oleh karena itu, Geofest harus menjadi ruang pemberdayaan ekonomi lokal. UMKM, koperasi, pengrajin, petani, nelayan, pelaku ekonomi kreatif, pengelola homestay, dan pemandu geowisata perlu menjadi bagian utama penyelenggaraan. 

Keberhasilan Geofest tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau luas pemberitaan media, tetapi juga dari meningkatnya pendapatan masyarakat, berkembangnya usaha lokal, bertambahnya jejaring pemasaran, dan terciptanya lapangan kerja baru. Geopark akan memperoleh legitimasi sosial apabila manfaat ekonominya benar-benar kembali kepada masyarakat.
Ketiga, reformasi infrastruktur edukasi. Toba Caldera membutuhkan Geoheritage Interpretation Center sebagai gerbang utama untuk memahami sejarah supererupsi, kekayaan geologi, biodiversitas, budaya Batak, dan perjalanan Toba menjadi UNESCO Global Geopark. 

Namun, pembangunan pusat interpretasi ini hendaknya mengikuti filosofi geopark. Penempatannya di kawasan yang manfaat ekonominya cenderung terkonsentrasi pada area privat patut menjadi bahan evaluasi. Pendekatan tersebut berisiko membuat arus kunjungan dan manfaat ekonomi hanya berputar di lokasi tertentu.

Sebaliknya, Toba Caldera memiliki 16 geosite yang tersebar di tujuh kabupaten dan menyimpan nilai geologi yang luar biasa. Membangun Geoheritage Interpretation Center pada salah satu tapak geosite akan memperkuat fungsi konservasi sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang autentik. 

Kehadiran pusat interpretasi di jantung geosite akan menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar melalui homestay, kuliner, kerajinan, transportasi lokal, dan jasa pemandu geopark. 

Dengan demikian, investasi pemerintah tidak hanya menghasilkan sebuah bangunan, tetapi juga menciptakan pemerataan manfaat pembangunan, memperkuat identitas setiap geosite, dan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan kawasan.

Keempat, reformasi budaya kerja. Profesionalisme penyelenggaraan harus menjadi identitas Geofest. Ketepatan waktu, kepastian jadwal, koordinasi antarlembaga, informasi yang akurat, dan pelayanan kepada peserta merupakan ukuran sederhana yang menentukan kredibilitas sebuah kegiatan bertaraf internasional. 

Mengumumkan kehadiran pejabat sebelum ada kepastian, membiarkan acara dimulai jauh dari jadwal, atau mengubah susunan acara tanpa komunikasi yang baik merupakan kebiasaan yang sudah saatnya ditinggalkan. Profesionalisme tidak dibangun melalui slogan, tetapi melalui disiplin dan konsistensi.

Green Card telah membuktikan bahwa Toba mampu bangkit. Kini tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kebangkitan tersebut tidak berhenti sebagai keberhasilan administratif, melainkan menjadi perubahan nyata di lapangan. Geofest 2026 harus menjadi titik tolak transformasi dari festival menjadi instrumen pembangunan kawasan yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan UNESCO Global Geopark bukanlah warna kartu yang diterima, melainkan terjaganya warisan bumi, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, dan tumbuhnya rasa memiliki terhadap kawasan. 

Inilah saatnya mengubah Green Card menjadi Green Toba—sebuah kawasan yang hijau alamnya, kuat kelembagaannya, hidup geositenya, dan sejahtera masyarakatnya.*

×
Berita Terbaru Update