Notification

×

Iklan

Iklan

Meledaknya Eceng Gondok di Jatiluhur

Rabu, 01 Juli 2026 | 17:54 WIB Last Updated 2026-07-01T10:54:10Z
Eceng Gondok di Waduk Jatiluhur Purwakarta

Purwakarta.Internationalmedia.id.– Hamparan tanaman eceng gondok yang kerap menutupi sebagian permukaan Danau Jatiluhur, Purwakarta, bukan sekadar fenomena alam biasa. 

Keberadaan tumbuhan gulma ini ternyata memiliki hubungan erat dengan aktivitas budidaya ikan, kualitas air, serta keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.

Beberapa keterangan yang diperoleh dari masyarakat dan peternak di sekitar Danau Jatiluhur menyatakan, keberadaan eceng gondok ini sudah menjadi masalah pelik yang dihadapi di lapangan, terutama pada musim-musim tertentu. 

Disebutkan, tanaman gulma ini tidak muncul begitu saja secara alami dari hilir, melainkan merupakan gulma "kiriman" yang terbawa arus dari wilayah hulu.

Dari pengamatan petani di lapangan mengungkapkan bahwa hamparan eceng gondok tersebut sebagian besar merupakan alihan tanaman yang hanyut dari bendungan yang berada di atasnya, yaitu Waduk Cirata. Saat debit air meningkat atau terjadi pembersihan di hulu, tumpukan eceng gondok ini terbawa arus sungai menuju hilir dan akhirnya menumpuk serta tertahan di genangan Danau Jatiluhur.

Faktor Sisa Pakan Ikan

Meskipun asal fisik tanaman ini sebagian besar merupakan kiriman dari hulu seperti Waduk Cirata, fenomena meledaknya populasi (blooming) eceng gondok secara masif di Jatiluhur tetap dipicu oleh kondisi kualitas air itu sendiri. Secara ilmiah, proses ini dikenal sebagai eutrofisasi atau pengayaan unsur hara secara berlebihan.

Menurut penelitian dalam Journal of Limnology, fenomena eutrofisasi (pencemaran air)di waduk yang padat aktivitas budidaya utamanya disebabkan oleh akumulasi unsur fosfor (P) dan nitrogen (N). Unsur-unsur ini berasal dari sisa-sisa pakan ikan (pelet) yang tidak terkonsumsi serta ekskresi metabolisme dari ikan itu sendiri.

Ketika volume KJA di sebuah area melebihi daya dukung lingkungan (carrying capacity), sisa pakan yang larut bertindak sebagai "pupuk raksasa". Akibatnya, eceng gondok kiriman yang masuk ke Jatiluhur mendapatkan asupan nutrisi yang melimpah, membuatnya tumbuh dan berkembang biak dengan kecepatan luar biasa hingga menutupi permukaan danau.

Oleh karena itu, program validasi data dan pembarkodan KJA yang tengah gencar dilakukan oleh petugas Satgas Citarum Harum bersama PJT II dan pemerintah daerah menjadi langkah krusial. Pendataan ini bertujuan untuk menemukan patokan jumlah kolam yang ideal bagi setiap peternak, sehingga penumpukan zat hara dari sisa pakan dapat ditekan dan disesuaikan dengan kemampuan alami danau. 

Dampak Ganda bagi Petani dan Lingkungan

Kehadiran eceng gondok yang tidak terkontrol membawa dampak domino yang cukup berat, baik dari sisi ekologi maupun kelangsungan usaha masyarakat:

* Penurunan Kadar Oksigen Air: Berdasarkan studi dari Environmental Monitoring and Assessment, tutupan eceng gondok yang terlalu padat menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam kolom air. Akibatnya, proses fotosintesis fitoplankton terhambat dan memicu penurunan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO) yang bisa membuat ikan stres.

* Menghambat Mobilitas: Tanaman yang menjalar dan menyatu membentuk pulau-pulau hanyut ini seringkali menyangkut di struktur kolam atau menutup akses jalur perahu, sehingga menyulitkan petani untuk memberi pakan atau memanen ikan.

* Beban Ekonomi di Tengah Krisis: Kondisi lingkungan yang terganggu ini kian memperparah situasi ekonomi para petani lokal. Saat ini, pembudidaya ikan sudah dihadapkan pada kendala eksternal yang sangat berat, yakni tingginya harga pakan ikan di pasaran serta rendahnya harga jual ikan hasil panen. Gangguan pertumbuhan ikan akibat penurunan kualitas air tentu berisiko memperlebar potensi kerugian finansial mereka.

Turunnya Kualitas Air

Keluhan mendalam dirasakan langsung oleh para pembudidaya di lapangan. Ajat, salah seorang petani KJA Waduk Jatiluhur yang berlokasi di wilayah Pasir Kole, mengeluhkan kondisi hamparan gulma yang kian mengepung area budidaya mereka.

"Kami sangat mengeluhkan dengan adanya banyak eceng ini, yang kemungkinan kiriman dari Cirata. Dampaknya eceng tersebut ke warga sekitar sini, yang pertama ya akses untuk para petani itu sangat terhambat," ungkap Ajat saat memberikan keterangan di atas kolam KJA miliknya.

Tidak hanya menghambat akses perahu, Ajat juga membeberkan dampak buruknya terhadap kondisi air dan laju pertumbuhan ikan yang merugikan para petani secara materi. 

"Yang kedua, untuk perkembangan ikan itu juga sangat mengganggu. Memang ada sedikit penurunan kualitas air. Biasanya hasil panen bisa dilakukan 2 atau 3 bulan, sekarang (pertumbuhannya terhambat) bisa sampai 6 hingga 8 bulan baru bisa panen," jelasnya menambahkan. Selasa (30/6/2026).

Melalui momentum ini, para petani juga menaruh harapan besar agar pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan memberikan solusi nyata yang cepat guna mengatasi masalah pembersihan gulma ini. 

"Harapan saya buat pemerintah, mohon solusinya mengatasi eceng tersebut yang sangat mengganggu kami sebagai para petani ataupun nelayan di Waduk Jatiluhur. Mohon untuk solusi bantuan atau alat berat untuk mengangkut eceng tersebut," harap Ajat.

Di sisi lain, penataan ruang melalui validasi kuota juga menjadi perhatian tersendiri bagi keberlangsungan jangka panjang waduk. Mayoritas petani lokal menyatakan dukungannya terhadap validasi dan pembarkodan ini karena memberikan rasa aman dan kejelasan kuota agar daya dukung danau tidak terlampaui. 

Namun, para peternak kecil tetap menitipkan harapan agar rencana pengurangan jumlah KJA ke depan dilakukan secara adil dan proporsional di tengah sulitnya beban biaya pakan saat ini. 

Beberapa pembudidaya ikan lokal di pinggiran Danau Jatiluhur seperti Hendri dan Hasan mengungkapkan harapannya agar kebijakan ini berjalan beriringan dengan kepastian nasib para peternak kecil.

"Kami pada dasarnya sangat mendukung penuh program pendataan dan pembarkodan ini supaya ada patokan yang jelas mengenai jumlah kolam yang ideal untuk setiap orang. Jujur, dulu kami sempat cemas dan takut kolam kami diapa-apain. Sekarang dengan adanya barkod resmi, kami merasa lebih aman karena kepemilikan kolam kami jadi terdata jelas," ujar mereka.

Namun, mereka juga menitipkan harapan besar kepada pemerintah terkait rencana pengurangan jumlah KJA ke depan. "Harapan kami, kalau nanti ada pengurangan, prosesnya harus dilakukan secara adil dan proporsional. Tolong pertimbangkan juga bahwa saat ini kami sedang kesulitan akibat harga pakan ikan yang sangat mahal sedangkan harga jual ikan hasil panen justru rendah. Kami hanya ingin bisa terus berusaha dengan tenang untuk menyambung hidup," tambahn ya. Senin (29/6/2026).

Melalui sinergi antara regulasi penataan KJA yang ketat berdasarkan riset daya dukung lingkungan, penanganan sampah gulma lintas bendungan dari hulu, serta bantuan fasilitas pengangkutan eceng gondok di hilir, pertumbuhan gulma ini diharapkan dapat dikendalikan. 

Dengan demikian, Danau Jatiluhur tidak hanya terjaga kelestarian ekologinya, tetapi juga tetap mampu menjadi sumber penghidupan yang sehat bagi masyarakat.(Ir)

×
Berita Terbaru Update