Notification

×

Iklan

Iklan

“Ketika Merasa Diri Paling Hebat”

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:00 WIB Last Updated 2026-05-19T05:00:03Z

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
            Bupati Pertama Samosir

Dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, maupun bernegara, sering kali muncul sikap merasa diri paling penting, paling berjasa, paling benar, bahkan paling hebat. Sikap seperti ini perlahan melahirkan kesombongan, meremehkan orang lain, dan menumbuhkan keyakinan bahwa keberhasilan hanya berasal dari kemampuan diri sendiri.

Padahal, kehidupan tidak pernah dibangun oleh satu unsur saja. Ia berjalan karena kerja sama, keterhubungan, keterkaitan dan saling melengkapi dalam sebuah sistem yang utuh.

Untuk memahami makna tersebut, mari kita renungkan sebuah metafora sederhana berikut.

“Seminar Batang Tubuh”

Suatu hari seluruh organ tubuh sepakat mengadakan sebuah seminar besar yang diberi nama “Seminar Batang Tubuh”. Seminar ini berlangsung secara resmi dan penuh khidmat sebagaimana layaknya sebuah forum organisasi yang tertata dan bergengsi.

Acara berlangsung resmi, diawali dengan doa, lagu kebangsaan dan lagu mars perkumpulan, dan laporan panitia sebagaimana sebuah forum organisasi pada umumnya. Selanjutnya Ketua Panitia menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. 

Ia menjelaskan tujuan seminar, dasar pelaksanaan, sumber pendanaan, serta seluruh peserta yang hadir beserta fungsi masing-masing dalam sistem tubuh. Setelah laporan selesai, Ketua Komunitas Batang Tubuh memberikan sambutan dan arahan sekaligus membuka seminar secara resmi. Diskusi pun dimulai.

Suasana awalnya penuh antusiasme. Setiap organ ingin menjelaskan perannya masing-masing. Namun perlahan, forum berubah menjadi ajang saling membanggakan diri.

Yang pertama berbicara adalah Otak.
“Sayalah pusat kendali tubuh. Saya mengatur pikiran, keputusan, memori, dan koordinasi seluruh aktivitas. Tanpa saya, tubuh tidak memiliki arah.” Kemudian Mata menimpali.
“Tanpa saya, tubuh tidak dapat melihat jalan, membaca situasi, dan mengenali bahaya.”

Jantung ikut berbicara: “Saya memompa darah ke seluruh tubuh. Tanpa saya, tidak ada kehidupan yang berjalan.”
Paru-paru menambahkan:
“Saya menyediakan oksigen dan membuang karbon dioksida. Tanpa pernapasan, sistem tubuh akan berhenti.”

Lalu Mulut berkata:“Saya menjadi sarana komunikasi, makan, dan menyampaikan gagasan.”Tangan menyusul:
“Saya membantu bekerja, mencipta, dan menolong.” Dan Kaki menegaskan:
“Saya menopang dan membawa tubuh ke mana pun ia harus pergi.”

Satu demi satu organ tubuh menyampaikan peran masing-masing. Semuanya benar, semuanya penting. Namun tanpa disadari, suasana berubah menjadi perlombaan siapa yang paling berjasa.

Organ yang Terpinggirkan
Di sudut ruangan tampak satu peserta yang sejak tadi hanya diam. Ia adalah Organ Pengeluaran (Excretory and Elimination System), yaitu sistem tubuh yang bertugas membuang sisa metabolisme dan zat yang tidak lagi dibutuhkan tubuh.

Sistem ini bekerja melalui organ-organ seperti ginjal, usus besar, rektum, anus, saluran kemih, dan kulit. Seluruhnya berfungsi menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjadi penumpukan zat sisa yang dapat mengganggu kesehatan.

Namun karena perannya tidak terlihat dan dianggap kurang bergengsi, keberadaannya sering diabaikan. Bahkan dalam seminar itu, ia hampir tidak diberi kesempatan berbicara. Dengan perasaan kecewa, ia meninggalkan forum tanpa suara.

Dampak yang Tidak Disadari

Hari pertama setelah kepergiannya, tidak ada yang merasa kehilangan. Hari kedua masih terasa normal. Namun beberapa hari kemudian, keadaan mulai berubah. Tubuh menjadi tidak nyaman, perut terasa penuh, rasa sakit muncul, dan keseimbangan fisiologis terganggu. Aktivitas seluruh organ mulai terhambat.

Mereka baru menyadari bahwa sistem pengeluaran yang selama ini dianggap kecil justru sangat vital dalam menjaga keseimbangan tubuh.
Tanpa proses pembuangan yang baik, zat sisa menumpuk dan meracuni sistem kehidupan.

Kesadaran Kolektif
Akhirnya seluruh organ mencari kembali keberadaan Organ Pengeluaran. Setelah ditemukan, mereka menyadari kesalahan cara pandang selama ini.

Dengan penuh penghormatan, mereka meminta agar ia kembali bergabung demi menjaga keutuhan sistem tubuh.

Dengan kerendahan hati, ia pun kembali.
Sejak saat itu, seluruh organ memahami satu hal penting: tidak ada bagian tubuh yang lebih hebat dari yang lain. Semua memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam satu sistem kehidupan yang utuh.

Makna dan Refleksi Kehidupan

Metafora “Seminar Batang Tubuh” mengajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun oleh kesombongan, melainkan oleh kerja sama dan penghargaan terhadap setiap peran.

Dalam kehidupan nyata, manusia sering lebih menghormati yang terlihat: pemimpin, pejabat, orang pintar, atau mereka yang berada di panggung utama. Sementara pekerjaan yang tidak terlihat sering kali dianggap kurang penting.

Padahal kenyataannya, sistem kehidupan tidak akan berjalan tanpa peran-peran yang sering diabaikan.
Seorang pemimpin tidak akan berhasil tanpa rakyatnya. Guru tidak akan berarti tanpa murid.

Dokter tidak akan bekerja tanpa perawat dan petugas kebersihan. Dunia kerja tidak akan berjalan tanpa staf dan pekerja lapangan. Sering kali, yang tampak kecil justru menjadi penentu keseimbangan yang besar.

Disimpulkan bahwa kehidupan ini ibarat tubuh manusia: utuh karena semua bagian bekerja bersama.Yang kecil jangan merasa rendah. Yang besar jangan merasa paling tinggi.Yang terlihat jangan meremehkan yang tidak terlihat.

Karena ketika satu bagian diabaikan, seluruh sistem akan terganggu.
Mari belajar menghargai setiap peran, sekecil apa pun itu, sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh sorotan, melainkan oleh manfaatnya bagi kehidupan bersama.

“Kehebatan sejati bukanlah ketika merasa diri paling penting, melainkan ketika mampu menghargai pentingnya orang lain.”*

×
Berita Terbaru Update