Departemen Antropologi UI
Ada banyak cara leluhur mewariskan budaya dan kebudayaan mengenai nilai kehidupan kepada keturunannya agar tetap berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya. Kadang melalui petuah adat, umpama, atau ritual-ritual sakral.
Namun sering kali, nilai yang paling dalam justru disimpan dalam benda-benda sederhana yang nyaris luput dari perhatian. Dalam kebudayaan Batak Toba, salah satu benda itu adalah susuban atau hudon tano periuk tradisional yang terbuat dari tanah liat, dahulu kala menjadi bagian penting dari kehidupan rumah tangga masyarakat Batak.
Selain dipergunakan untuk memasak nasi, susuban juga digunakan untuk mengambil air dari Danau Toba, mata air, maupun sungai. Benda sederhana ini bukan sekadar peralatan dapur, melainkan bagian dari kebudayaan hidup masyarakat Batak pada masa lampau.
Hari ini, susuban mungkin hanya tinggal kenangan di sebagian rumah orang Batak. Kehadirannya telah digantikan oleh peralatan modern seperti panci logam yang lebih praktis dan tahan lama. Akan tetapi, yang perlahan hilang sesungguhnya bukan hanya bendanya, melainkan juga cara pandang hidup yang pernah melekat di dalamnya.
Para leluhur Batak dahulu memasak dengke naniarsik menggunakan susuban. Semua bumbu dimasukkan bersama ikan ke dalam satu ruang yang sama: andaliman, serai, bawang Batak, cabai, asam, garam, hingga daun singkong.
Menariknya, masakan itu tidak diaduk keras sebagaimana lauk lainnya. Seluruh unsur dimasak dengan kayu api (soban) dibiarkan menyatu perlahan melalui panas api yang stabil. Dari proses yang sabar itulah lahir rasa arsik yang khas lebih meresap, lebih utuh, dan memiliki aroma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Aroma dan cita rasa khas ikan arsik tersebut dianalogikan tentang persaudaraan yang utuh, disenangi banyak orang karena memberikan aroma harum dan manfaat bagi banyak orang.
Kehidupan orang Batak sejak dahulu dibangun di atas relasi kekerabatan. Ada marga, punguan, parsadaan, dan berbagai bentuk solidaritas genealogis yang menjadi perekat sosial masyarakat.
Dalam ruang itu berkumpul banyak karakter: ada yang keras, ada yang lembut, ada yang dominan, ada yang pendiam, ada yang cepat marah, ada pula yang sabar mendengar. Semua seperti bumbu dalam arsik berbeda rasa, berbeda aroma, tetapi sesungguhnya saling melengkapi. Ciri-ciri kehidupan leluhur seperti ini telah digambarkan oleh seorang antropolog klasik Radcliffe Brown.
Brown mengatakan dalam pandangannya bahwa masyarakat adat sebagai suatu system social yang bekerja seperti organisme biologis, setiap nsur memiliki fungsi untuk menjaga keteraturan dan keberlangsungan masyarakat tersebut.
Sayangnya, kehidupan modern perlahan mengubah cara orang memandang persaudaraan. Ikatan genealogis yang dahulu begitu kuat mulai diuji oleh individualisme, gengsi sosial, persaingan status, bahkan konflik-konflik kecil yang melebar menjadi perpecahan panjang.
Tidak sedikit organisasi marga atau komunitas kekerabatan hari ini tampak megah secara struktur, tetapi rapuh dalam relasi sosialnya. Fenomina ini terjadi disebabkan oleh unsur kebutuhan individu sebagaimana dikatakan oleh Bronislaw Malinoski pada awal abad ke 20.
Orang semakin mudah tersinggung.
Semakin cepat marah.
Semakin sulit mendengar.
Kadang hanya karena perbedaan pendapat kecil, hubungan antarsaudara bisa renggang bertahun-tahun. Musyawarah berubah menjadi arena mempertahankan ego. Jabatan adat diperebutkan lebih keras daripada menjaga persaudaraan itu sendiri.
Dalam situasi seperti ini, susuban terasa seperti sedang mengingatkan sesuatu kepada orang Batak masa kini.
Susuban terbuat dari tanah liat. Ia kuat selama dijaga dengan baik, tetapi mudah retak bila terbentur keras. Bukankah hubungan sosial juga demikian? Kata-kata kasar, sikap saling menjatuhkan, fitnah, dan keputusan yang terburu-buru sering kali menjadi benturan yang merusak keharmonisan keluarga besar.
Sekali retak, hubungan mungkin masih bisa disambung, tetapi bekasnya tidak pernah benar-benar hilang.
Karena itu, hubungan sosial sesungguhnya membutuhkan kehati-hatian. Persaudaraan tidak cukup hanya diwariskan lewat marga atau garis keturunan, tetapi harus dirawat melalui sikap saling menghormati, kemampuan menahan diri, dan kesediaan mendengar satu sama lain.
Susuban juga mengajarkan pentingnya kesabaran. Dalam memasak arsik, api tidak boleh terlalu besar. Jika terlalu besar, susuban bisa pecah dan masakan rusak. Tetapi api juga tidak boleh terlalu kecil karena masakan tidak akan matang sempurna. Semua membutuhkan keseimbangan.
Pelajaran ini terasa sangat dekat dengan kehidupan organisasi sosial Batak hari ini. Kepemimpinan yang terlalu keras sering melahirkan ketakutan dan konflik. Sebaliknya, kepemimpinan yang terlalu lemah membuat organisasi kehilangan arah.
Pemimpin adat, tokoh marga, maupun pengurus komunitas genealogis sesungguhnya tidak hanya dituntut pandai berbicara, tetapi juga mampu menjaga “api” hubungan sosial agar tetap hangat tanpa membakar.
Yang paling menarik, ketika arsik matang dan tutup susuban dibuka, seluruh bumbu telah melebur menjadi satu rasa. Tidak ada lagi yang menonjol sendiri. Semua unsur memberi makna bagi cita rasa bersama.
Inti persaudaraan
Hidup bersama tidak berarti harus menjadi sama, tetapi belajar menyatukan perbedaan dalam satu ruang kebersamaan. Solidaritas tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling melengkapi. Masing-masing dituntut agar selalu mendahulukan pemahamn asas kesetaran, tidak menyalahkan satu sama lain dan menjauhkan pikiran saling curiga.
Di tengah dunia yang semakin sibuk oleh ego dan kepentingan pribadi, orang Batak perlu kembali belajar dari dapur leluhurnya sendiri. Belajar bahwa persaudaraan tidak dibangun melalui suara paling keras, melainkan melalui kesabaran menjaga hubungan agar tidak retak.
Antropolog Marshall Sahlins mengatakan agar pemimpin dan anggota organisasi
mengutamakan solidaritas dibanding kepentingan individual. Organisasi berbasis genealogis akan bertahan apabila identitas kolektif lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi atau kelompok kecil. Nilai “kita” harus lebih dominan daripada “saya” (Sahlins, 1972)
Seperti susuban yang tampak sederhana, tetapi mampu melahirkan aroma harum dan rasa paling lezat dan utuh.*
