![]() |
| General Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis saat menandatangi MoU |
Langkah ini memperkuat komitmen lokal yang terhubung langsung dengan prinsip global UNESCO dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis geopark.
Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh General Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis, dan Ketua Umum PPTSB, Ir Edison Sinaga, mencakup kerja sama strategis di bidang pendidikan, inovasi, pariwisata, ekonomi lokal, pembinaan generasi muda, hingga pelestarian budaya dan lingkungan selama lima tahun ke depan.
Dalam rangkaian kegiatan, PPTSB memaparkan rekam jejak organisasi sejak berdiri tahun 1940, termasuk berbagai program konkret seperti penghijauan berbasis marga, pengelolaan kebun bibit, serta pengawasan kawasan hijau di sekitar Danau Toba.
![]() |
| Ketua Umum PPTSB, Ir Edison Sinaga saat menandatangani MoU |
Sementara itu, BP TCUGGp menyoroti capaian internasional berupa “Green Card” dari UNESCO untuk Toba Caldera UNESCO Global Geopark, sekaligus memaparkan rencana pengembangan geosite baru, pelaksanaan Geofest 2026, dan penguatan program reboisasi.
Namun, di balik optimisme tersebut, suara kritis justru menjadi penegas arah kolaborasi.
Penggiat lingkungan sekaligus anggota Dewan Pakar PPTSB, Wilmar Eliaser Simandjorang, menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi pada kekurangan konsep, melainkan pada keberanian mengeksekusi.
Ia menggarisbawahi adanya jarak yang masih nyata antara rencana dan pelaksanaan, antara komitmen di atas kertas dan dampak yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, status sebagai geopark kelas dunia menuntut standar kerja yang tidak biasa—tidak cukup berhenti pada administrasi dan sosialisasi.
“Kerja sama ini akan diuji bukan oleh dokumennya, tetapi oleh jejaknya di lapangan—apakah lingkungan semakin terjaga, masyarakat merasakan perubahan, dan generasi muda benar-benar terlibat,” tegasnya.
![]() |
| Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis dan Ketua Umum PPTSB, Edison Sinaga bersama para Pengurus dan Dewan Pakar DPP PPTSB |
Wilmar juga menyoroti pentingnya peran BP TCUGGp dalam menjaga arah dan konsistensi implementasi, sementara PPTSB dinilai memiliki kekuatan sosial yang strategis melalui jaringan komunitas dan kedekatan kultural sebagai motor perubahan di tingkat akar rumput.
Diskusi yang berlangsung antara pimpinan PPTSB yang ikut hadir di antaranya Eduard Sinaga, Aldon Sinaga, dan Yas Sinaga, serta turut dihadiri Ketua Yayasan PPTSB Hombar Sinaga dan anggota Dewan Pakar PPTSB Osbet Sinaga, bersama para Manager BP TCUGGp.
Juga hadir, Petrus Parlindungan Purba, Tikwan Raya Siregar, dan Ovi Vensus Samosir. Mereka, turut menekankan perlunya pelibatan generasi muda dalam jaringan geopark global, pengembangan ruang edukasi seperti museum tematik, serta penguatan program berbasis rekomendasi UNESCO.
Semua ini diarahkan untuk memastikan geopark tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah, namun pesan yang ditinggalkan tegas: kolaborasi ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Dari tepian Danau Toba, dunia diingatkan kembali bahwa menjaga bumi bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata lintas generasi—dari komitmen menuju aksi, dari rencana menuju dampak.(wil/lys)


