![]() |
| Bersama keluarga besar: Ny. Nurhaida Br. Simarmata, Ny. Br. Silaen, Ir. Saibun Sinaga, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Ir. Sahat Maruli Sinaga, Ny. Br. Nasution. |
Pertemuan tersebut mempertemukan salah satu penggagas Kabupaten Samosir, Ir. Sahat Maruli Sinaga, didampingi tokoh bisnis Ir. Saibun Sinaga beserta keluarga, serta Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si, Penjabat Bupati Samosir pertama periode 2004–2005, bersama ibu.
Dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan, para tokoh mengenang perjuangan awal terbentuknya Kabupaten Samosir, mulai dari proses pemekaran, pembangunan fondasi pemerintahan, hingga tantangan dalam membangun daerah baru di kawasan Danau Toba tersebut.
Pertemuan ini juga menjadi momen melepas kerinduan di antara para tokoh yang dahulu bersama-sama ikut serta dengan para tokoh-tokoh penting di antaranya Dr.Benny Pasaribu, Tagor Lumban Raja, Kolonel Harianja, Manaek Sinaga dan tokoh-tokoh lainnya termasuk para tokoh lokal Tingkat kabupaten dan kecamatan ikut Bersatu padu memperjuangkan lahirnya Kabupaten Samosir demi kemajuan bona pasogit yang dicintai.
Pada kesempatan itu, dilakukan wawancara nostalgia bersama Internationalmedia.id mengenai sejarah awal berdirinya Kabupaten Samosir dan arah pembangunan daerah ke depan.
Ir. Sahat Maruli Sinaga, yang dikenal sebagai salah satu penggagas terbentuknya Kabupaten Samosir, menyampaikan bahwa perjuangan pemekaran dahulu dilandasi harapan besar agar masyarakat Samosir dapat hidup lebih sejahtera dan memiliki kesempatan ekonomi yang lebih baik.
Sementara itu, Dr. Wilmar E. Simandjorang menegaskan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan demi meningkatkan income per kapita masyarakat Samosir dan memperkuat perekonomian daerah.
Dan Wilmar Simanjorang menyatakan Samosir sudah berjalan dalam 22 thun terakhir ini, tetapai perlu bukan hanya berjalan tetapi meloncat dengan inovasi dan kreasi pemerintah kabupaten Samosir.
Dalam diskusi tersebut, para tokoh juga menyoroti pentingnya menghapus stigma negatif yang masih melekat di tengah masyarakat, antara lain:
Pertama, “Ndang parsahalian”, “Hosom, teal dohot late”dan Potensi buah-buahan dan aneka ragam pangan khas Samosir yang memiliki karakteristik istimewa perlu dikembangkan dengan diferensiasi produk agar menjadi selling point unggulan daerah.
Kemudian, “Patangkas posisinta be — Anak ni Raja, na pina raja, unang manian pa-raja-rajahon,” pesan Dr. Wilmar Simandjorang, mengingatkan pentingnya rendah hati, persatuan, dan semangat melayani.
Dalam suasana penuh haru, ketiga tokoh juga menyampaikan kerinduan dan harapan besar kepada generasi muda, khususnya putra-putri keturunan Toga Sinaga, agar terus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang profesional, tahan uji, berintegritas, serta tetap menguasai nilai-nilai kearifan lokal Batak sebagai dasar kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
Mereka memohon kiranya Tuhan senantiasa memberikan berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga di masa yang akan datang lahir dari keturunan Toga Sinaga seorang pemimpin yang mampu menjadi Bupati Samosir dan membawa Kabupaten Samosir ke arah yang lebih baik, lebih maju, sejahtera, bermartabat, serta tetap berakar pada budaya dan nilai luhur Batak.
Pesan persaudaraan juga disampaikan kepada seluruh keturunan marga Sinaga di mana pun berada.
“Tarlumobi ma tu hita (khususnya kepada kita-red-batak)pomparan marga Sinaga dohot boru-bere nang ibebere. Damailah kita semua (marsiamin aminan ma dibagasan las niroha),” demikian pesan yang disampaikan Ir.Saibun Sinaga (A. Tambos), disertai ajakan untuk terus berbuat bagi sesama, khususnya bagi masyarakat Samosir dan keluarga besar Sinaga sedunia.
Mengenang Peran Dr. Wilmar E. Simandjorang
Nama Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si memiliki tempat penting dalam sejarah awal Kabupaten Samosir. Pada tahun 2003, masyarakat Samosir dikejutkan dengan penunjukannya sebagai Penjabat Bupati Samosir oleh Presiden Republik Indonesia, melalui Menteri Dalam Negeri.
Di tengah harapan masyarakat terhadap figur birokrat pemerintahan, Wilmar yang berasal dari latar belakang industri dan perencanaan pembangunan justru dipercaya memimpin kabupaten baru tersebut.
Sebagai Penjabat Bupati pertama, Dr. Wilmar berhasil mendapatkan Rumah Parsanggarahan Pangururan untuk dijadikan Rumah Dinas Bupati sekaligus pusat awal pemerintahan Kabupaten Samosir pada tahun 2004.
Rumah bersejarah dengan arsitektur bergaya Melayu tersebut sebelumnya dikenal sebagai ikon Kota Pangururan dan memiliki nilai historis tinggi sejak masa pemerintahan dahulu.
Rumah Parsanggarahan Pangururan bahkan dinilai layak diusulkan menjadi situs sejarah yang dilindungi dan dilestarikan. Pada masa kepemimpinannya, Dr. Wilmar telah merintis persiapan administrasi sesuai ketentuan perundangan untuk pelestarian bangunan tersebut, meskipun belum sempat diselesaikan karena masa jabatan Dr Wilmar hanya berlangsung selama 1 tahun 9 bulan.
Bangunan tersebut memiliki sejarah panjang sebagai kantor pemerintahan sejak zaman penjajahan hingga menjadi kantor pertama Bupati Samosir pasca pemekaran.
Paradigma “Samosir Membangun”
Dalam kepemimpinannya, Dr. Wilmar mengusung paradigma “Samosir Membangun”, yakni konsep pembangunan yang menekankan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Dr Wilmar meyakini bahwa tidak ada satu kelompok pun yang mampu membangun Samosir sendirian, melainkan harus dilakukan bersama-sama secara gotong royong.
Dr. Wilmar juga menerapkan prinsip “Mission Driven, bukan Budget Driven”, yang berarti program pembangunan harus disusun berdasarkan kebutuhan dan misi pembangunan, bukan semata-mata berdasarkan ketersediaan anggaran.
Selain itu, Dr Wilmar menerapkan gaya kepemimpinan PARHOBAS (Stewardship), dengan prinsip “steering rather than rowing”, yakni lebih mengutamakan pengarahan, pengawasan, dan penguatan sistem daripada bekerja sendiri secara sentralistik.
Pada masa awal pembentukan Kabupaten Samosir, Dr. Wilmar juga merancang kelembagaan pemerintahan yang ramping dan efektif, terdiri dari dua asisten, dua badan utama, tujuh dinas teknis, serta empat kantor setingkat dinas.
Model kelembagaan tersebut dinilai mampu membuat pemerintahan lebih fleksibel dan responsif dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah baru.
Warisan Pemikiran untuk Samosir
Para peserta pertemuan nostalgia sepakat bahwa semangat persatuan, kolaborasi, dan pelayanan kepada masyarakat harus terus diwariskan demi kemajuan Kabupaten Samosir.
Warisan pemikiran Dr. Wilmar E. Simandjorang tentang “Samosir Membangun” diharapkan tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk membangun Samosir yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat.
Inilah yang terungkap dalam percakapam pada pertemuan tokoh pendiri Kabupaten Samosir tersebut.(ws)
