Notification

×

Iklan

Iklan

Generasi Muda Indonesia Tionghoa DKI Gelar Dialog Kebangsaan

Selasa, 21 April 2026 | 13:50 WIB Last Updated 2026-04-21T06:50:49Z
Nara sumber Sukardi Rinakit saat menyampaikan paparan

Jakarta. Internationalmedia-Dalam memperingati 27 tahun berdirinya Perhimpunan INTI(Indonesia Tionghoa), Generasi Muda Indonesia Tionghoa (GEMA  INTI) DKI Jakarta menyelenggarakan Dialog Kebangsaan bertajuk "Makna Kebangsaan Indonesia bagi Generasi Muda", di Sekretariat Perhimpunan INTI, Mega Glodok Kemayoran Tower B-Lt. 10, jakarta Pusat, Sabtu (18/04).

Tampil sebagai nara sumber, tokoh   Siauw Tiong Djin yang merupakan tokoh komunitas diaspora Indonesia di Melbourne, juga merupakan salah satu pendiri FAKTA (Forum Aktual Kekerabatan Tionghoa Australia)  bersama ⁠Ir. Azmi Abubakar, Ketua INTI Aceh yang juga pendiri Musium Peranakan Tionghoa.

Hadir dalam acara, Ketua Pembina Perhimpunan INTI Teddy Sugianto, Pendiri dan Pembina PINTI Nancy Widjaja, Ketua INTI DKI I Wayan Suparmin, Koordinator Acara Dialog Kebangsaan Candra Jap, jajaran pengurus INTI DKI GEMA INTI Pdan sejumlah tokoh.

Siauw Tiong Djin menyampaikan musti dipahami betul makna kebangsaan dan status warga menurut aturan hukum dimana seseorang berdomisili. ” Saya tinggal di Australia dengan status bangsa Indonesia. Tanah Air tercinta saya Indonesia,” ungkapnya.

Narasumber Siauw Tong Djin, saat menjawab pertanyaan peserta dialog, didampingi Azmi Abubakar

Siauw Tiong Djin menyampaikan beberapa sejarah kelam orang Tionghoa di Indonesia, Iapun membuka peran sang ayah Siauw Giok Tjhan: dalam pendirian BAPERKI (Badan Persiapan Kewarganegaraan Indonesia). Dimana sang ayah mengalami diskrimasi hukum dan diduga mendukung sebuah aliran partai yang condong bersebrangan dengan pemerintah.

Tokoh Azmi Abubakar, menyampaikan bahwa sangat sulit orang Tionghoa bersuara tentang perjuangan dan jasa serta eksitensinya dalam membangun negeri. Keprihatinan ini, membuat ia melangkah mencari indetitas Ke Tionghoaan yang dan mendirikan Musium Peranakan Tionghoa.

Sedikit demi sedikit sejarah orang Tionghoa yang tidak ditulis, dibahas Azmi. Ia juga memaparkan dari Peran Orang Tionghoa sejak penjajahan Belanda, Jepang, Persiapan Kemerdekaan dan perjuangan membantu sebangsa setanah Air dalam Kemerdekaan dan pembangunan pendidikan serta ekonomi, hingga saat ini.

Dialog semakin menarik ketika I Wayan Suparmin menyampaikan beberapa catatan. Namun Nancy Widjaja lebih gamblang, menyampaikan rasa keprihatinannya ketika tempat tinggalnya di rusak, pada tahun 60 an di Garut, Jawa Barat. Semua persiapannya untuk belajar dan kembali ke Tiongkok dibakar.

Indra Wahidin menyampaikan potongan Kue Ulang Tahun simbol estafet kepemimpinan, didampingi para ketua PD INTI

Semakin tertekan, justru Nancy Widjaja semakin kuat untuk mengabdi, ”Saya lahir di Indonesia, Saya menghirup udara di Indonesia, saya mencari makan dan berusaha di indonesia. Saya Orang Indonesia, dan saya Cinta Tanah Air Indonesia,” ungkapnya. 

Nancy Widjaja juga mengungkapkan, walaupun pendidikan dijaman ORBA terbatas, Ia mampu mengikuti berbagai Pendidikan. Ia aktif di bebagai organisasi, turut mendirikan PSMTI, INTI dan PINTI. Ditahun 1998, Ia juga bergabung dengan Komnas Perempuan Indonesia,

Dalam acara yang diharapkan menggugah generasi muda untuk mencintai tanah air ini, ditutup dengan peniupan lilin kue ulang tahun Perhimpunan INTI ke-27, yang telah memberikan kontribusi besar dalam mewarnai perjalanan sejarah di indonesia. 

Dialog Kebangsaan  Perhimpunan INTI DKI
 
Sebelumnya, bertepatan dengan MUNASLUB III Perhimpunan INTI, dilaksanakan juga Dialog Kebangsaan mengupas seorang sejarawan yang sangat mencintai negeri Indonesia  Benny G Setiono, melalui buku yang ditulis ”Tionghoa dalam Pusaran Politik”.

Tampil sebagai nara sumber Sukardi Rinakit (Peneliti Bidang Politik)dan Stanley Adi Prasetyo,  yang menyatakan buku ini merupakan salah satu karya paling komprehensif mengenai perjalanan sejarah dan dinamika politik etnis Tionghoa di Indonesia.

Melalui tumpukan dokumen dan hasil perbincangannya dengan beberapa tokoh sejarah, Benny berhasil merekonstruksi nasib orang Tionghoa dalam berbagai perubahan besar politik di negeri ini. 

Mengapa isu anti-Tionghoa selalu ada dalam setiap pergolakan politik? Mengapa  orang-orang Tionghoa selalu menjadi bahan politisasi dan “objek penderita” dalam catatan sejarah? Atau, mengapa muncul anggapan umum bahwa orang Tionghoa adalah “Binatang Ekonomi”?.
  
Diskusi menarik dihadiri peserta Munaslub para ketua Pengurus Daerah dan tokoh pendiri INTI, menurut Ketua PD DKI I Wayan Suparmin, Dialog ini dimaksudkan untuk membuka wawasan agar setiap Ketua Pengurus Daerah mencermati apa yang menjadi tugas utama dalam mengembangkan Perhimpunan INTI.

Sukardi Rinakit secara gamblang menegaskan, Perhimpunan INTI sudah berada dalam reel, memperjuangkan hak hak sebagai suku bangsa, berbakti untuk negeri, dan seiring perkembangan jaman.

Perhimpunan INTI memainkan peran terobosan dengan turut berperan dalam Ketahanan Pangan, Memajukan UMKM dan berkontribusi nyata setiap terjadinya bencana diberbagai daerah. Salah satunya Tragedi Banjir di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh.

Lebih lanjut Sukardi Rinakit juga menyampaikan bahwa slogan  Terbang Lebih Tinggi, Berbakti Untuk Negeri , sangat tepat untuk Perhimpunan INTI yang menginjak usia ke 27 tahun,” . pungkasnya.

Sukardi juga mengapresiasi, ditengah bencana Perhimpunan INTI justru menunjukan baktinya dengan mengelola lahan untuk Ketahanan pangan, dan hasilnya luarbiasa, Panen terlaksana pada April 2026.

Dialog ini diahiri dengan pemotongan kue Ulang Tahun, dan pemberian potongan kue sebagai simbol estafet kepemimpinan, dari Teddy Sugianto kepada dr. Indra Wahidin. (Adv/RBS).

×
Berita Terbaru Update