Kita sering bertanya, mengapa Indonesia bisa berdiri kokoh sampai hari ini? Jawabannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam: karena bangsa ini dibangun dengan perencanaan yang matang.
Para pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soepomo tidak bekerja secara spontan. Mereka duduk bersama dalam forum BPUPKI dan PPKI, mendengar berbagai pandangan, lalu merumuskan dasar negara dengan penuh kebijaksanaan.
Dari proses itu lahir Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan satu prinsip penting: bumi, air, dan kekayaan alam digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Artinya, kesejahteraan harus bersifat kolektif, bukan individual.
Semangat inilah yang relevan bagi seluruh perkumpulan marga, paguyuban, dan komunitas adat di Indonesia.
Perkumpulan Marga dan Komunitas Adat
Jika sebuah negara besar saja dibangun dengan visi dan perencanaan, maka organisasi berbasis marga atau kekerabatan juga harus memiliki arah yang jelas.
Di era digital ini, kita membutuhkan visi bersama: Jejaring Global Marga 2045
Bukan sekadar nama, tetapi arah strategis:
• menguatkan identitas budaya
• membangun ekonomi kolektif
• menghubungkan diaspora di seluruh dunia
• memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan akar tradisi.
Pepatah lama tetap relevan: “Fail to plan is plan to fail.”Perencanaan Harus Dimulai dari Akar Rumput. Kekuatan sejati organisasi ada di anggota, bukan hanya di pengurus pusat. Artinya:
• suara dari kampung/desa harus didengar
• kebutuhan anggota harus dipahami
• keputusan tidak boleh bersifat top-down
Di sinilah pentingnya prinsip Free, Prior and Informed Consent( FPIC) dalam Bahasa Sederhana. Agar mudah diterapkan dalam semua komunitas:
1. Free (Bebas). Setiap anggota bebas berbicara tanpa tekanan.
2. Prior (Didahulukan). Pembahasan dilakukan sejak awal, bukan setelah
keputusan dibuat.
3. Informed (Terbuka Informasinya). Semua anggota memahami:
• tujuan program
• manfaat dan risiko
• dampak jangka Panjang
4. Consent (Persetujuan Bersama).
Keputusan diambil melalui musyawarah, bukan paksaan.
Praktik Nyata dalam Organisasi Marga
Agar tidak berhenti di teori, prinsip ini bisa diterapkan sebagai budaya kerja:
1. Mendengar suara anggota terlebih dahulu
2. Membahas bersama sebelum mengambil keputusan
3. Menyampaikan informasi secara transparan
4. Mengutamakan musyawarah mufakat
5. Melakukan evaluasi Bersama.
Dengan cara ini, organisasi menjadi kuat karena didukung oleh anggotanya sendiri.
Kepemimpinan di Era Digital: Mendengar, Bukan Sekadar Berbicara. Sedangkan di masa lalu, pemimpin identik dengan pemberi arahan. Hari ini, pemimpin yang efektif adalah yang mampu mendengar.
Konsepnya sederhana: “Hear Your Member Voice”
Caranya:
• survei digital
• grup komunikasi (WhatsApp, Telegram, dll.)
• forum rutin online/offline
• dialog lintas generasi
Karena kebutuhan anggota berbeda:
• di desa: penguatan ekonomi
• generasi muda: pendidikan dan peluang digital
• di kota/diaspora: jaringan usaha dan kolaborasi
Tanpa mendengar, program akan kehilangan arah.
Ekonomi Berbasis Komunitas: Koperasi sebagai Solusi
Belajar dari Mohammad Hatta, sistem ekonomi yang paling sesuai untuk komunitas adalah:Koperasi.
Karakter koperasi:
• milik bersama
• dikelola bersama
• hasil untuk kesejahteraan bersama
Dalam konteks marga atau komunitas:
• membantu UMKM anggota
• menyediakan akses permodalan
• membangun usaha kolektif
• memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Dengan ini, organisasi tidak hanya kuat secara budaya, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Dari Musyawarah Lokal ke Jejaring Global
Model pembangunan juga bisa diadopsi: dari bawah ke atas.
Dimulai dari:
• komunitas kecil
• cabang/kelompok wilayah
• regional
• hingga tingkat nasional dan global
Di era digital, ini bisa diperluas menjadi:
• database anggota global
• platform kolaborasi online
• marketplace komunitas
• pendidikan digital berbasis budaya
Penutup: Warisan untuk Generasi Mendatang
Para pendiri bangsa tidak berpikir untuk satu generasi saja. Mereka membangun untuk masa depan Indonesia.
Begitu juga komunitas marga dan adat: harus berpikir lintas generasi:
• anak
• cucu
• cicit
Kunci keberhasilan:
• perencanaan yang matang
• keterlibatan anggota
• transparansi dan kejujuran
• penguatan ekonomi bersama
• adaptasi terhadap digitalisasi tanpa kehilangan jati diri.
Karena pada akhirnya, organisasi yang besar bukan yang paling ramai, melainkan yang paling dirasakan manfaatnya oleh anggotanya. Dan pesan itu tetap relevan hingga hari ini: “Fail to plan is plan to fail.”
Maka mari kita rencanakan dengan bijak, agar setiap perkumpulan marga dan komunitas adat benar-benar menjadi kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi—hari ini dan sepanjang masa.
(Penulis, adalah Bupati Pertama di Samosir dan tinggal di Samosir).
