Notification

×

Iklan

Iklan

Jejaring Global Marga 2045

Rabu, 18 Maret 2026 | 09:31 WIB Last Updated 2026-03-18T02:31:58Z

Oleh:  Dr. Wilmar Simandjorang, Dipl_Ec.,Dipl_Plan.,M.Si

Kita sering bertanya, mengapa Indonesia bisa berdiri kokoh sampai hari ini? Jawabannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam: karena bangsa ini dibangun dengan perencanaan yang matang. 

Para pendiri bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soepomo tidak bekerja secara spontan. Mereka duduk bersama dalam forum BPUPKI dan PPKI, mendengar berbagai pandangan, lalu merumuskan dasar negara dengan penuh kebijaksanaan.

Dari proses itu lahir Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan satu prinsip penting: bumi, air, dan kekayaan alam digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Artinya, kesejahteraan harus bersifat kolektif, bukan individual.

Semangat inilah yang relevan bagi seluruh perkumpulan marga, paguyuban, dan komunitas adat di Indonesia.

Perkumpulan Marga dan Komunitas Adat

Jika sebuah negara besar saja dibangun dengan visi dan perencanaan, maka organisasi berbasis marga atau kekerabatan juga harus memiliki arah yang jelas.

Di era digital ini, kita membutuhkan visi bersama: Jejaring Global Marga 2045
Bukan sekadar nama, tetapi arah strategis:
menguatkan identitas budaya
membangun ekonomi kolektif
menghubungkan diaspora di seluruh dunia
memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan akar tradisi.

Pepatah lama tetap relevan: “Fail to plan is plan to fail.”Perencanaan Harus Dimulai dari Akar Rumput. Kekuatan sejati organisasi ada di anggota, bukan hanya di pengurus pusat. Artinya:
suara dari kampung/desa harus didengar
kebutuhan anggota harus dipahami
keputusan tidak boleh bersifat top-down

Di sinilah pentingnya prinsip Free, Prior and Informed Consent( FPIC) dalam Bahasa Sederhana. Agar mudah diterapkan dalam semua komunitas:
1. Free (Bebas). Setiap anggota bebas berbicara tanpa tekanan.
2. Prior (Didahulukan). Pembahasan dilakukan sejak awal, bukan setelah 
        keputusan dibuat.
3. Informed (Terbuka Informasinya). Semua anggota memahami:
tujuan program
manfaat dan risiko
dampak jangka Panjang
4. Consent (Persetujuan Bersama).
Keputusan diambil melalui musyawarah, bukan paksaan.

Praktik Nyata dalam Organisasi Marga

Agar tidak berhenti di teori, prinsip ini bisa diterapkan sebagai budaya kerja:
1. Mendengar suara anggota terlebih dahulu
2. Membahas bersama sebelum mengambil keputusan
3. Menyampaikan informasi secara transparan
4. Mengutamakan musyawarah mufakat
5. Melakukan evaluasi Bersama.
Dengan cara ini, organisasi menjadi kuat karena didukung oleh anggotanya sendiri. 

Kepemimpinan di Era Digital: Mendengar, Bukan Sekadar Berbicara. Sedangkan di masa lalu, pemimpin identik dengan pemberi arahan. Hari ini, pemimpin yang efektif adalah yang mampu mendengar.
Konsepnya sederhana: “Hear Your Member Voice”
Caranya:
survei digital
grup komunikasi (WhatsApp, Telegram, dll.)
forum rutin online/offline
dialog lintas generasi
Karena kebutuhan anggota berbeda:
di desa: penguatan ekonomi
generasi muda: pendidikan dan peluang digital
di kota/diaspora: jaringan usaha dan kolaborasi

Tanpa mendengar, program akan kehilangan arah.
Ekonomi Berbasis Komunitas: Koperasi sebagai Solusi
Belajar dari Mohammad Hatta, sistem ekonomi yang paling sesuai untuk komunitas adalah:Koperasi.

Karakter koperasi:
milik bersama
dikelola bersama
hasil untuk kesejahteraan bersama
Dalam konteks marga atau komunitas:
membantu UMKM anggota
menyediakan akses permodalan
membangun usaha kolektif
memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Dengan ini, organisasi tidak hanya kuat secara budaya, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Dari Musyawarah Lokal ke Jejaring Global

Model pembangunan juga bisa diadopsi: dari bawah ke atas.
Dimulai dari:
komunitas kecil
cabang/kelompok wilayah
regional
hingga tingkat nasional dan global
Di era digital, ini bisa diperluas menjadi:
database anggota global
platform kolaborasi online
marketplace komunitas
pendidikan digital berbasis budaya
Penutup: Warisan untuk Generasi Mendatang
Para pendiri bangsa tidak berpikir untuk satu generasi saja. Mereka membangun untuk masa depan Indonesia.
Begitu juga komunitas marga dan adat: harus berpikir lintas generasi:
anak
cucu
cicit
Kunci keberhasilan:
perencanaan yang matang
keterlibatan anggota
transparansi dan kejujuran
penguatan ekonomi bersama
adaptasi terhadap digitalisasi tanpa kehilangan jati diri.

Karena pada akhirnya, organisasi yang besar bukan yang paling ramai, melainkan yang paling dirasakan manfaatnya oleh anggotanya. Dan pesan itu tetap relevan hingga hari ini: “Fail to plan is plan to fail.”

Maka mari kita rencanakan dengan bijak, agar setiap perkumpulan marga dan komunitas adat benar-benar menjadi kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi—hari ini dan sepanjang masa.

(Penulis, adalah Bupati Pertama di Samosir dan tinggal di Samosir).

×
Berita Terbaru Update