Dalam kosmologi Batak, manusia tidak lahir dari kekosongan. Manusia lahir dari Huta. Huta lahir dari Bius, dan Bius lahir dari Banua. Banua adalah pemberian Mulajadi Nabolon, Sang Pencipta.
Karena itu, ketika saya berbicara tentang Sinaga, saya tidak sekadar berbicara tentang marga. Saya berbicara tentang jalan untuk memuliakan Tuhan melalui karya bagi Banua. Jalan itu bukan untuk memisahkan, tetapi untuk menyatukan. Bukan eksklusif, melainkan inklusif.
Parsadaan Pomparan Toga Sinaga (PPTS) Medan, Langkat dan Deli Serdang telah berdiri sejak 15 Desember 1940. Perkumpulan itu dibentuk di Gedung Chrestelijke Batak School (CBS), Sei Kera, Medan, setelah memperoleh izin Pemerintah Hindia Belanda melalui M. Levi Sinaga.
Bagi saya, ini adalah bentuk hasundulan: kesadaran untuk duduk bersama sebagai satu saudara.
Huta sudah mengenal persatuan jauh sebelum negara berbicara tentang persatuan. Orang Sinaga sudah memahami arti marsada sebelum Indonesia mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika.
Kita bukan sekadar perkumpulan yang dibentuk oleh negara. Kita adalah persaudaraan yang ikut membangun negara.
Dari Sianjur Mula-Mula ke Panggung Republik
Aidan Sinaga, putra Tarutung yang lahir 6 Maret 1906, adalah seorang guru HIS yang kemudian menjadi pejuang. Bersama tokoh SKI, ia menghadap Wakil Presiden Mohammad Hatta di Yogyakarta pada 20 November 1946 untuk menyatakan kesetiaan Kalimantan kepada Republik Indonesia. Perjuangan itu kemudian mengantarkannya menjadi Wali Kota Banjarmasin pada 1950–1958.
Ada pula Hadrianus Sinaga, kelahiran Hatoguan, Palipi, Samosir. Ia seorang dokter ahli bedah, pendiri FK UKI, dan kemudian dipercaya menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada 1956–1957.
Philemon Sinaga, kelahiran Sibaganding tahun 1906, berkiprah sebagai jaksa dan politisi. Ia menjadi anggota DPR Republik Indonesia Serikat mewakili Negara Sumatera Timur.
Mereka tidak hadir hanya sebagai orang Batak. Mereka hadir sebagai manusia Indonesia yang dipercaya dan mengabdi.
Itulah makna Sinaga untuk Dunia: membawa nilai yang lahir dari Huta untuk memberi manfaat bagi Banua yang lebih luas.
Tradisi kepemimpinan itu terus berlanjut. Mangaraja S.M. Sinaga pernah dipercaya memimpin Tapanuli Utara, disusul Tahan Mangaraja Halomoan Sinaga. Dalam tradisi Batak, pemimpin bukan hanya orang yang berada di depan. Ia adalah panungkun—tempat bertanya, tempat mencari arah, dan tempat mengayomi.
Sinaga juga dikenal melalui ilmu, seni, dan karya.
Prof. Rudolf S. Sinaga, misalnya, meninggalkan karya dalam bidang agraria dan kelembagaan pedesaan. Ia menunjukkan bahwa pengetahuan tentang tanah dan kehidupan masyarakat adalah bagian penting dari pembangunan.
Dalam bahasa Batakologi, ia adalah parbinoto—orang yang membaca tanda-tanda alam dan memahami kehidupan di sekitarnya.
Di bidang seni, ada Dolorosa Sinaga, seniman kelahiran Sibolga. Karyanya The Crisis dan replikanya yang berdiri di International Sculpture Park, Chianti, Italia, menunjukkan bahwa karya yang lahir dari tanah Batak dapat berbicara kepada dunia.
Patung tidak membutuhkan bahasa Batak untuk dipahami. Karya yang jujur akan menemukan bahasanya sendiri.
Di situlah saya melihat kemuliaan Tuhan: tidak hanya di dalam rumah ibadah, tetapi juga dalam ilmu, seni, tanah, air, hutan, dan pohon yang kita tanam.
Itulah jalan yang saya pilih.
Saya, Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga, pernah dipercaya sebagai Penjabat Bupati Samosir pada 15 Januari 2004 hingga 13 September 2005. Hari ini saya tidak lagi mengejar jabatan. Tugas saya adalah mangadopi—menjaga wajah Banua.
Karena itu saya kembali kepada Porlak Etnobotani.
Saya menanam di Hutan Parombunan, di Ladang Sibelle dan Sitatar Palippi, serta di kawasan Danau Lombang Nabagas. Saya memilih untuk ikut menjaga kawasan Danau Toba dari kerusakan.
Bagi saya, menanam satu pohon di Sianjur Mula-Mula sama nilainya dengan berpidato satu jam di Den Haag, jika keduanya dilakukan untuk kebaikan dunia dan kemuliaan Tuhan.
Sebab dunia tidak hanya membutuhkan kata-kata. Dunia membutuhkan karya.
Prihatin.
Saudara kita, Tumpal Manjo Sinaga, pernah mengingatkan bahwa panggung PPTSB mulai diwarnai pertarungan Kubu A dan Kubu B. Kita sibuk mencari kelemahan satu sama lain, sampai lupa bahwa yang sedang kita kecilkan adalah diri kita sendiri.
Sinaga yang seharusnya besar untuk dunia, akhirnya dipersempit menjadi Sinaga untuk kelompok.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika Tangiang Borhat-Borhat, doa yang sakral dalam budaya Batak, digunakan sebagai bagian dari kegiatan politik.
Tangiang Borhat adalah doa orang tua ketika anak hendak berangkat merantau, pergi ke ladang, atau memulai sebuah karya. Doa itu sederhana. Tidak membutuhkan panggung, spanduk, panitia, atau kemeriahan. Yang dibutuhkan adalah ketulusan.
Karena itu, persoalannya bukan boleh atau tidak boleh berdoa. Berdoa tentu baik dan wajib.
Persoalannya adalah: untuk apa doa itu ditempatkan?
Apakah untuk memohon penyertaan Tuhan dan kebaikan Banua? Ataukah untuk mendukung calon dan memenangkan satu kelompok atas kelompok yang lain?
Kita harus berhati-hati. Jangan sampai nama Tuhan yang universal kita bawa ke dalam kepentingan yang sempit.
Tuhan bukan milik kubu A. Tuhan juga bukan milik kubu B.
Tuhan adalah milik seluruh Banua.
Karena itu, mari kita kembalikan Sinaga kepada ukuran yang sebenarnya: besar, terbuka, dan bermartabat.
Satu Huta. Satu Bius .Satu Banua.
Jangan bertarung dengan toa di tepi Danau Toba. Bertarunglah dengan menanam.
Jangan berlomba mengumpulkan massa.Berlombalah meninggalkan karya.
Jangan sibuk bertanya siapa yang menang. Tanyakan apa yang sudah kita berikan kepada Banua.
Pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya, “Kamu dari kubu mana?”
Tuhan akan bertanya:
“Apa yang sudah kamu tanam untuk Banua yang Kuberikan kepadamu?”
Di sanalah seharusnya Sinaga berdiri. Bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Sinaga untuk Indonesia.
Sinaga untuk dunia.
Sinaga untuk Banua.
(Penulis tinggal di Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula-Samosir)
