Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenpar Gebrak 17 Kota, Kuliner Nusantara Tembus 34 Mal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:13 WIB Last Updated 2026-10-15T11:13:47Z
Menpar Widiyanti Putri (2 kanan) didampingi Deputi Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Martini (kanan) dan Anne Avanti (tengah) saat mengunjungi both

Jakarta.Internationalmedia.id.- Kementerian Pariwisata menggelar Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Culinary Festival 2026 di 34 pusat perbelanjaan di 17 kota pada 7 Oktober–1 November 2026. 

Dibuka Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Jakarta, Rabu (14/10/2026), festival ini menargetkan perluasan pasar pelaku usaha sekaligus mempromosikan kekayaan kuliner Nusantara sebagai daya tarik pariwisata Indonesia.

Penyelenggaraan WIG Culinary Festival 2026 menjadi langkah untuk membawa kekayaan gastronomi Indonesia lebih dekat kepada masyarakat. Lebih dari sekadar festival makanan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang promosi, kolaborasi, dan perluasan akses pasar bagi pelaku usaha makanan dan minuman, termasuk mereka yang mengembangkan produk berbasis kekayaan lokal.

“Keberadaan Culinary Festival juga sekaligus menjadi ruang promosi dan akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha makanan dan minuman,” ujar Widiyanti.

Widiyanti menegaskan, kekuatan kuliner Indonesia tidak hanya terletak pada keragaman rasa, tetapi juga pada cerita, tradisi, dan kearifan lokal yang melekat pada setiap hidangan.

Melalui WIG Culinary Festival, masyarakat didorong untuk mengenal lebih jauh kekayaan tersebut. Pada saat yang sama, pelaku usaha mendapat kesempatan memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas melalui pusat perbelanjaan yang memiliki jangkauan pengunjung besar.

Tahun ini, festival berlangsung di berbagai kota, antara lain Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surakarta, Sleman, Sukoharjo, Semarang, Magelang, Pontianak, Palembang, Bali, dan Yogyakarta.

Perluasan lokasi tersebut mencerminkan upaya menjadikan gastronomi sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada destinasi, tetapi juga pada produk, pelaku, dan pengalaman lokal.

“Visi kami adalah memperluas pengenalan terhadap destinasi, produk, dan talenta kuliner Indonesia, mendorong transaksi bagi pelaku usaha, serta mengembangkan kekayaan lokal menjadi pengalaman wisata yang bermakna,” kata Widiyanti.

Dari Petani hingga Koki
WIG Culinary Festival 2026 juga menandai perluasan program Wonderful Indonesia Gastronomy, yang sebelumnya dikenal sebagai Wonderful Indonesia Gourmet pada 2025.

Jika tahun lalu program tersebut memperkenalkan wajah gastronomi kontemporer di Jakarta dan Bali, tahun ini pendekatannya diperluas dengan mengangkat akar sejarah, tradisi, dan budaya kuliner, termasuk melalui rangkaian kegiatan di Surakarta dan Yogyakarta.

Pendekatan ini menempatkan gastronomi sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung. Bukan hanya pengusaha restoran dan koki profesional yang berperan, tetapi juga petani, produsen pangan artisan, serta berbagai pelaku yang terlibat dalam rantai produksi pangan.

Keterlibatan mereka menjadi penting agar promosi kuliner tidak berhenti pada pengenalan hidangan, tetapi turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang menopang keberlangsungan produk pangan lokal.

Menurut Widiyanti, kekayaan gastronomi tersebut perlu dikembangkan sebagai salah satu kekuatan pariwisata Indonesia yang berkualitas dan memberikan manfaat ekonomi secara lebih luas.

Potensi ekonominya pun besar. Sektor penyediaan makanan dan minuman tercatat menyumbang Rp503,5 triliun atau sekitar 2,11 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar pelengkap perjalanan wisata, melainkan sektor ekonomi yang memiliki peran signifikan dan peluang pengembangan lebih lanjut.

APPBI Dorong Festival Digelar Rutin
Dukungan terhadap WIG Culinary Festival juga datang dari APPBI. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menyebut pusat perbelanjaan memiliki posisi strategis untuk memperkenalkan gastronomi kepada masyarakat luas.

Menurutnya, pusat perbelanjaan tidak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, tetapi juga berkembang menjadi ruang interaksi dan koneksi sosial. Karena itu, mal dinilai relevan sebagai tempat edukasi publik sekaligus promosi kekayaan kuliner Indonesia.

“Pusat perbelanjaan merupakan fasilitas yang paling dekat dengan publik, sehingga sangat strategis untuk digunakan sebagai sarana edukasi, salah satunya dalam memperkenalkan gastronomi. Kemudian, pusat perbelanjaan sebagai social connection hub,” ujar Alphonzus.

Ia berharap WIG dapat dikembangkan dalam skala lebih kecil, tetapi diselenggarakan secara rutin setiap bulan dengan lokasi bergilir di berbagai kota.

Pola tersebut, menurutnya, dapat menjaga konsistensi promosi sekaligus memberikan kesempatan lebih luas bagi pelaku usaha kuliner untuk berpartisipasi. APPBI pun menyatakan dukungannya terhadap program-program Kementerian Pariwisata.

Tantangan

Penyelenggaraan WIG Culinary Festival 2026 membuka peluang untuk mempertemukan kekayaan kuliner daerah dengan pasar yang lebih luas. Namun, dampak program semacam ini pada akhirnya perlu terlihat dari manfaat nyata yang diterima pelaku usaha.

Peningkatan transaksi, perluasan jaringan pemasaran, penguatan produk lokal, serta keberlanjutan keterlibatan pelaku dari hulu ke hilir menjadi aspek penting agar festival tidak berhenti sebagai agenda promosi sesaat.

Usulan APPBI agar kegiatan serupa digelar secara rutin juga membuka peluang bagi promosi kuliner yang lebih berkesinambungan, bukan hanya terpusat pada periode festival.

Dengan mempertemukan pemerintah, pengelola pusat perbelanjaan, komunitas gastronomi, dan pelaku usaha, WIG Culinary Festival diharapkan mampu memperkuat posisi kuliner Nusantara sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi pariwisata Indonesia.(rbs)

×
Berita Terbaru Update