Notification

×

Iklan

Iklan

"Dalihan Na Tolu": Cara Batak Belajar Hidup Bersama

Selasa, 22 September 2026 | 17:34 WIB Last Updated 2026-09-22T10:45:50Z

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
            Sebuah Catatan Belajar dari Kampung

Tulisan ini bukan karya yang sempurna. Saya hanya seorang anak dari Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, yang sampai hari ini masih belajar mengenal budaya sendiri dan mencoba memahaminya dalam terang Firman Tuhan yang saya imani.

Karena itu, tulisan ini saya buat bukan untuk merasa paling tahu. Saya hanya mencoba merangkum apa yang saya temukan dari sekitar 50 referensi Batakologi, mulai dari tulisan Van der Tuuk pada abad ke-19 sampai pengetahuan dan cerita para orang tua kita yang masih hidup di kampung hingga hari ini.

Kalau ada yang benar dalam tulisan ini, kiranya itu menjadi kebaikan yang saya terima dari Tuhan dan dari para guru yang telah lebih dahulu menulis dan mengajarkan tentang Batak. Kalau ada yang kurang atau keliru, saya menyadari bahwa itu adalah bagian dari keterbatasan saya sebagai seorang yang masih belajar.

Dari situlah saya mencoba memahami Dalihan Na Tolu: bukan hanya sebagai aturan adat, tetapi sebagai cara orang Batak belajar hidup bersama.

Dalam sejumlah tulisan tentang masyarakat Batak, antara lain Vergouwen (1933/1964) dan Ihromi-Simatupang, dikenal pembagian Banua Ginjang, Banua Tonga, dan Banua Toru. Gambaran ini menunjukkan adanya pandangan tentang dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah yang saling berhubungan.

Sementara itu, Siahaan, Mangaradja Asal (1938–1939) dalam Patik dohot Ochoem dan Sangti (1977) dalam Sejarah Batak mencatat kedudukan Sianjur Mula-Mula dalam ingatan sejarah dan tradisi Batak sebagai tempat awal kehidupan leluhur.

Van der Tuuk (1860–1862), Gultom (2010), dan Kozok (2009) menjelaskan dalihan sebagai tungku yang ditopang oleh tiga batu.

Bagi saya, gambaran itu sederhana, tetapi dalam.Tiga batu harus berdiri seimbang agar periuk dapat diletakkan dengan baik. Kalau satu batu hilang, tungku menjadi tidak kokoh dan periuk bisa jatuh.

Dari tungku sederhana itulah saya belajar tentang kehidupan.
Tiga unsur harus saling menopang.
Orang tua kita mengenal ungkapan:
“Tolu dalihan, tolu sahala.”

Saya tidak memahaminya sebagai sesuatu yang harus dibawa kepada pengertian kesaktian. Saya lebih melihatnya sebagai gambaran tentang tiga penopang kehidupan yang diwariskan leluhur kepada kita.

Bagi saya, Dalihan Na Tolu mengajarkan bahwa manusia tidak dapat berdiri sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk saling menopang.

Dalihan Na Tolu sebagai Dasar Hidup Bersama
Butarbutar (2016) dan S. Sagala (1996) menjelaskan bahwa Dalihan Na Tolu pada dasarnya merupakan sistem kekerabatan yang kemudian berkembang menjadi falsafah hidup.

Simanjuntak, B.A. (2006), Sherman (1982), dan Hutagalung, W.M. (1926) juga menjelaskan tiga unsur utama dalam sistem tersebut:

Dongan Tubu atau Dongan Sabutuha, yaitu saudara semarga atau satu garis keturunan;

Hula-hula, yaitu keluarga dari pihak pemberi istri;
Boru, yaitu keluarga pihak menantu, termasuk hela dan kerabat yang berada dalam hubungan boru. Ketiganya tidak berdiri sendiri.

Saya membayangkannya seperti rumah adat. Ada bagian-bagian yang berbeda, tetapi semuanya dibutuhkan agar rumah tetap berdiri.

Karena itu, Dalihan Na Tolu bukan sekadar soal siapa berada di posisi apa. Ia mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap terhadap orang lain.

Siahaan, Nalom (1964), dalam pembahasannya mengenai puak-puak Batak, serta tulisan mengenai masyarakat Karo dan Simalungun, antara lain Sembiring (1975) dan Damanik (1974), memperlihatkan bahwa masyarakat Batak memiliki keragaman tradisi dan istilah.

Keragaman itu tidak harus dilihat sebagai perpecahan. Saya justru melihatnya sebagai kekayaan.

Nama dan bentuknya dapat berbeda, tetapi ada semangat yang sama: manusia hidup dalam hubungan dengan manusia lain dan harus menjaga keseimbangan hubungan itu.

Somba Marhula-hula: Belajar Menghormati
Bagian ini bagi saya perlu dipahami dengan hati-hati.

Dalam beberapa kajian, Hula-hula mendapat kedudukan yang sangat tinggi dalam hubungan adat. Simanjuntak (2015), misalnya, mencatat ungkapan yang menggambarkan Hula-hula sebagai pihak yang sangat dihormati. Gultom (2010) juga menggunakan ungkapan mataniari binsar untuk menggambarkan kedudukan tersebut.

Namun, sebagai orang yang belajar Firman Tuhan, saya memahami dengan jelas:
Hula-hula bukan Tuhan. Yang disembah hanya Tuhan.
Penghormatan kepada Hula-hula adalah penghormatan dalam hubungan kekerabatan dan adat, bukan penyembahan.

Pedersen (1970) dan Schreiner (1972) membantu kita memahami Hula-hula dalam kaitannya dengan pemberian, terutama karena melalui hubungan perkawinan, Hula-hula memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keluarga.

Orang tua kita mengajarkan:
“Molo naing ho gabe, somba ma ho marhula-hula.”(Kalau ingin hidup menjadi baik dan berkembang, hormatilah Hula-hula).
Bagi saya, pesan itu sederhana: belajarlah menghormati orang lain.

Terutama kepada mereka yang melalui perkawinan telah memberikan putrinya menjadi bagian dari keluarga kita.

Di dalamnya ada kerendahan hati.
Dan kerendahan hati adalah sesuatu yang juga sangat dekat dengan ajaran iman yang saya pegang.

Elek Marboru dan Manat Mardongan Tubu
Belajar Mengasihi dan Menjaga Persaudaraan
Elek Marboru.

Sitorus (2017) dan Siahaan Asal (1955) menjelaskan elek sebagai sikap membujuk atau memperlakukan dengan lembut. Sinaga (1981) dan Sidjabat (1965) juga menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam hubungan kekerabatan Batak.
Dari sini saya belajar bahwa Boru harus diperlakukan dengan kasih.

Boru bukan sekadar bagian dari struktur adat. Mereka adalah bagian penting dari keberlangsungan hubungan kekerabatan.

Melalui Boru lahir hubungan dengan hela, bere, dan keluarga-keluarga baru. Karena itu, memperlakukan Boru dengan lembut berarti menjaga hubungan keluarga untuk hari ini dan untuk generasi berikutnya.

Lumbangaol (2016) dan Simbolon (2010) juga mengingatkan kita tentang martabat perempuan dalam kehidupan dan warisan Batak.

Bagi saya, nilai elek marboru sangat dekat dengan ajaran untuk hidup dalam kasih dan kelemahlembutan.

Bukan keras. Bukan memerintah.Tetapi merangkul.
Manat Mardongan Tubu
Kalau kepada Boru kita diajarkan untuk elek, kepada Dongan Tubu kita diajarkan untuk manat.

Vergouwen (1964) dan de Josselin de Jong (1977) menjelaskan Dongan Tubu sebagai hubungan yang berakar pada satu garis keturunan.

Karena satu darah dan satu marga, hubungan dengan Dongan Tubu harus dijaga dengan hati-hati.

Manat bukan berarti curiga.

Manat berarti tahu menjaga perasaan.
Kita berbagi nama, sejarah, tanah, dan kehormatan keluarga. Karena itu, perselisihan kecil jangan sampai menjadi perpecahan besar.

Pedersen (1970) dan Bruner (1972) juga menunjukkan pentingnya hubungan kekerabatan dalam menjaga kesatuan masyarakat, termasuk ketika orang Batak hidup jauh dari kampung halaman.

Di perantauan pun kita tetap membutuhkan Dongan Tubu.
Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya membawa nama pribadi.
Kita membawa nama keluarga dan marga.

Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon
Belajar Memahami Tujuan Hidup
Dalam berbagai tulisan tentang masyarakat Batak, termasuk Sibarani (1980), Schnitger (1937), dan Parkin (1978), kita mengenal tiga cita-cita yang sering disebut:

Hagabeon, Hamoraon, dan Hasangapon.
Ketiganya dapat menjadi bahan perenungan tentang apa yang dianggap penting dalam kehidupan.

Hagabeon: Keturunan
Hagabeon berkaitan dengan keberlanjutan keturunan.

Bagi saya, anak bukan sekadar kebanggaan keluarga atau ukuran keberhasilan orang tua. Anak adalah titipan Tuhan.

Karena itu, yang penting bukan hanya berapa banyak anak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mendidik mereka agar menjadi manusia yang baik, bertanggung jawab, dan takut akan Tuhan.

Hamoraon: Kekayaan
Hamoraon berkaitan dengan kesejahteraan dan kekayaan.
Namun kekayaan bukan hanya tentang memiliki banyak harta.

Saya belajar dari iman yang saya pegang bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk mengelola apa yang dipercayakan kepadanya.

Karena itu, kekayaan harus digunakan dengan jujur, bertanggung jawab, dan tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Termasuk dalam hubungan dengan Dongan Tubu, apa yang kita miliki seharusnya dapat menjadi berkat, bukan sumber perpecahan.

Hasangapon: Kehormatan
Hasangapon berkaitan dengan kehormatan, wibawa, dan penghargaan dalam kehidupan sosial.

Tetapi menurut saya, kehormatan tidak perlu dikejar dengan kesombongan.
Orang dihormati bukan hanya karena kedudukannya, kekayaannya, atau namanya.
Orang dihormati karena hidupnya memberi arti bagi orang lain.

Ketika seseorang menolong, menjaga keluarga, menghormati Hula-hula, mengasihi Boru, dan menjaga hubungan dengan Dongan Tubu, dari situlah wibawa tumbuh.

Sinaga (2004) menggunakan istilah inkulturasi dalam membahas hubungan antara nilai budaya dan iman.

Saya sendiri masih belajar memahami hal itu.

Tetapi saya percaya, nilai-nilai baik dalam budaya dapat menjadi ruang untuk menghidupi iman, selama kita tetap mampu membedakan mana penghormatan budaya dan mana penyembahan yang hanya ditujukan kepada Tuhan.
====o
Belajar mengasihi. Manat Mardongan Tubu. Belajar menjaga persaudaraan.
Tiga sikap itu sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan.

Karena itu, Dalihan Na Tolu jangan sampai hanya tinggal dalam buku, seminar, atau upacara adat. Ia harus tetap hidup dalam cara kita berbicara, memperlakukan keluarga, menyelesaikan persoalan, dan menghormati sesama.

Saya berharap anak-anak kita kelak tidak hanya mengenal Dalihan Na Tolu sebagai warisan nenek moyang, tetapi memahami nilai yang ada di dalamnya.

Sebab budaya yang hidup bukan hanya budaya yang diingat. Budaya yang hidup adalah budaya yang dijalankan.

Dan sebagai orang percaya, saya berharap nilai-nilai baik itu dapat terus kita pelihara sambil tetap berjalan dalam terang Firman Tuhan.

Kalau tulisan sederhana ini ada manfaatnya, biarlah kemuliaan hanya bagi Tuhan.
Kalau ada kekurangannya, saya mohon dimaafkan dan sekaligus diajari. Saya masih belajar. Dari kampung. Dari leluhur. Dari para guru. Dan terutama dari Tuhan.

(Penulis, tinggal di  Lereng Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula- Samosir)

×
Berita Terbaru Update