Pernah tidak, niatnya membuka ChatGPT hanya untuk mencari referensi tugas atau menanyakan sesuatu yang sederhana, tetapi beberapa menit kemudian malah berakhir dengan curhat? Awalnya mungkin hanya mengeluh soal tugas kuliah yang tak kunjung selesai. Lama-kelamaan pembicaraan melebar ke urusan pertemanan, hubungan, sampai hal-hal yang bahkan belum pernah kita ceritakan kepada orang terdekat.
Kalau dipikir lagi, ini sedikit aneh.
Sejak kapan sebuah teknologi yang tidak punya perasaan bisa terasa lebih aman untuk diajak bercerita dibandingkan manusia?.
Fenomena seperti ini bukan lagi hal yang asing. Di media sosial, semakin banyak orang mengaku memakai AI bukan hanya untuk merangkum materi, mencari ide, atau menyusun tulisan, tetapi juga untuk mengurai isi kepala yang sedang semrawut. Ada yang meminta pendapat tentang hubungan, ada yang bercerita soal tekanan kuliah, bahkan ada yang sekadar ingin ditemani mengobrol sebelum tidur.
Sekilas, semua itu memang terlihat seperti bukti bahwa teknologi berkembang semakin pesat. Namun, menurutku, cerita ini bukan tentang AI. Yang lebih menarik justru kita.
Mengapa semakin banyak orang merasa lebih lega setelah bercerita kepada sebuah mesin? Mengapa rasa takut dihakimi manusia bisa lebih besar daripada rasa canggung berbicara dengan sistem yang jelas-jelas tidak memiliki emosi?.
Jangan-jangan, yang membuat AI terasa istimewa bukan karena ia benar-benar memahami manusia. Bisa jadi, kita saja yang semakin sulit menemukan ruang untuk bercerita tanpa takut dinilai, dipotong pembicaraannya, atau dianggap terlalu berlebihan.
Padahal, ketika seseorang memutuskan untuk curhat, yang dicari biasanya bukan jawaban yang paling benar. Kita hanya ingin didengar sampai selesai. Sayangnya, ruang seperti itu terasa semakin mahal.
Lucunya, bukan berarti kita tidak punya tempat untuk bercerita. Kita punya grup pertemanan, media sosial, bahkan orang-orang yang setiap hari kita temui. Namun, tetap saja ada keraguan untuk membuka diri.
Takut dianggap terlalu sensitif. Takut merepotkan. Atau lebih sederhana lagi, takut cerita kita dibalas dengan kalimat, “Ah, kamu terlalu dipikirkan.” Akhirnya, banyak orang memilih diam bukan karena tidak memiliki teman, melainkan karena tidak yakin akan benar-benar didengarkan.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, keadaan itu terasa semakin nyata. Semua orang tampak sibuk mengejar tenggat, pekerjaan, organisasi, atau urusan masing-masing. Tanpa sadar, kita ikut berpikir, “Nanti saja curhatnya. Kasihan, dia pasti sedang sibuk.” Kalimat sederhana itu mungkin pernah terlintas di kepala hampir semua orang.
Di saat seperti itulah AI menawarkan sesuatu yang terasa sederhana, tetapi berharga. Ia selalu tersedia. Ia tidak terlihat bosan ketika kita mengulang cerita yang sama. Ia juga tidak membuat kita merasa sedang mengganggu siapa pun.
Ironis, bukan? Teknologi yang tidak memiliki perasaan justru mampu memberikan sesuatu yang belakangan terasa mahal: waktu untuk mendengarkan.
Menariknya, sejumlah penelitian menemukan bahwa banyak orang lebih mudah membuka diri kepada chatbot karena merasa berada di ruang yang anonim dan bebas dari penilaian. Perasaan aman itulah yang membuat mereka lebih berani mengungkapkan hal-hal yang selama ini hanya disimpan sendiri.
Namun, menurutku, temuan itu sedang menunjukkan persoalan yang jauh lebih besar.
Bukan tentang seberapa pintar AI. Melainkan tentang bagaimana hubungan antarmanusia perlahan berubah. Yang Dicari Bukan Solusi, tetapi Rasa Aman.
Media sosial memang membuat kita lebih mudah terhubung. Ironisnya, bukan berarti kita lebih mudah membuka diri.
Setiap hari kita melihat potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak begitu sempurna. Ada yang baru diterima kerja, lulus tepat waktu, bertunangan, membeli mobil pertama, atau sekadar terlihat selalu bahagia. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan potongan cerita orang lain yang belum tentu utuh.
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai Social Comparison Theory yang diperkenalkan Leon Festinger. Ketika semua orang terlihat baik-baik saja, mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja terasa semakin sulit.
Menjadi menarik.
Bukan karena ia memiliki empati seperti manusia, melainkan karena kita tahu ia tidak akan menghakimi. Tidak ada tatapan heran, komentar yang meremehkan, atau kekhawatiran bahwa cerita kita akan menjadi bahan obrolan esok hari.
Namun, ada satu pertanyaan yang menurutku jauh lebih penting. Kalau sebuah mesin bisa terasa lebih aman daripada manusia untuk diajak bercerita, jangan-jangan persoalannya memang bukan terletak pada teknologinya.
Bisa jadi, kita memang mulai kehilangan kebiasaan untuk saling mendengarkan.
Lihat saja kehidupan sehari-hari. Percakapan yang seharusnya berlangsung pelan sering kali berubah menjadi balasan singkat seperti, “Semangat, ya,” atau, “Nanti juga lewat.” Kalimat-kalimat itu tentu lahir dari niat baik. Hanya saja, kadang seseorang tidak sedang mencari motivasi. Ia hanya ingin ada yang bertahan mendengarkan ceritanya sampai selesai.
AI mungkin mampu menyusun respons yang terdengar hangat, tetapi ia tidak benar-benar memahami kehilangan, kekecewaan, atau rasa takut seperti manusia. Ia belajar dari pola bahasa, bukan dari pengalaman hidup. Karena itu, secanggih apa pun jawabannya, tetap ada jarak yang tidak bisa dijembatani.
Hal itu juga terlihat dalam penelitian yang dimuat dalam JMIR Mental Health. Meski chatbot dapat memberikan rasa nyaman dan membantu seseorang lebih berani membuka diri, manusia tetap merasakan empati yang lebih kuat ketika berhadapan dengan sesama manusia.
Yang membuat sebuah hubungan terasa berarti bukan sekadar kata-kata yang tepat, melainkan kehadiran seseorang yang benar-benar ikut merasakan apa yang kita alami.
AI Bukan Pengganti, tetapi Pengingat
Karena itu, menurutku, melihat semakin banyak orang curhat kepada AI seharusnya tidak membuat kita panik. Fenomena ini bukan pertanda bahwa manusia akan berhenti membutuhkan manusia lain. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ada ruang dalam hubungan kita yang perlahan mulai kosong.
Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk membicarakan seberapa cepat teknologi berkembang, sampai lupa menanyakan hal yang jauh lebih sederhana: apakah kita masih menyediakan waktu untuk benar-benar hadir bagi orang lain?.
Di tengah notifikasi yang tidak ada habisnya, jadwal yang semakin padat, dan kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus, mendengarkan seseorang sampai selesai perlahan berubah menjadi sesuatu yang mewah. Padahal, bisa jadi, itulah yang paling dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita.
Ironisnya, teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia justru mengingatkan kita pada kemampuan paling mendasar yang mulai jarang dipraktikkan: mendengarkan.
Barangkali, AI tidak sedang mengalahkan manusia. Ia hanya mengisi ruang yang perlahan kita tinggalkan.
Kalau hari ini semakin banyak orang merasa lebih aman membuka isi hatinya kepada sebuah mesin, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Seberapa canggih AI akan berkembang?”
Melainkan, “Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan seseorang tanpa buru-buru memberi nasihat, tanpa sibuk melihat layar ponsel, dan tanpa membuatnya merasa sedang merepotkan?”
Sebab, pada akhirnya, yang dicari manusia sejak dulu tidak pernah berubah. Kita semua hanya ingin merasa didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.
Mungkin, kita tidak benar-benar sedang mencari AI sebagai tempat bercerita. Kita hanya sedang merindukan seseorang yang mau berhenti sejenak, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tetap tinggal sampai cerita itu selesai.
Kalau ruang seperti itu masih bisa kita hadirkan untuk satu sama lain, barangkali AI akan kembali menjadi apa adanya: alat yang membantu pekerjaan kita, bukan tempat pertama yang kita tuju ketika hati sedang lelah. *
(Penulis adalah, Mahasiswa Program Studi Psikologi untuk Universitas di UPI Bandung)
