Notification

×

Iklan

Iklan

Membangun Pemimpin yang Layak Dipercaya

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:29 WIB Last Updated 2026-08-22T13:29:09Z
 
Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
            Pegiat Lingkungan Basis Geopark

Dalam sebuah perkumpulan marga yang besar, kepemimpinan bukan semata-mata tentang siapa yang berada di depan. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah tentang bagaimana membawa seluruh anggota berjalan menuju tujuan bersama tanpa kehilangan persaudaraan.

Seorang pemimpin bukan hanya pemegang mandat. Ia adalah penjaga kepercayaan, keteladanan, persatuan, sekaligus arah organisasi. Karena itu, menjadi pemimpin seharusnya tidak dipandang sebagai kesempatan untuk memperoleh kedudukan, melainkan sebagai kesediaan untuk mengemban amanah dan melayani kepentingan bersama.

Sebagai saketurunan marga, setiap perbedaan semestinya ditempatkan dalam bingkai kasih persaudaraan. Perbedaan pandangan dan pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut membuat kita kehilangan rasa hormat sebagai saudara.

Dalam kearifan Batak, nilai Dalihan Na Tolu mengajarkan somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu. Di dalamnya terkandung pesan tentang penghormatan, kasih sayang, dan kehati-hatian dalam menjaga hubungan antarsaudara.

Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai semboyan budaya. Ia harus hadir dalam cara kita berorganisasi, memilih pemimpin, menyampaikan pendapat, menerima perbedaan, dan menyelesaikan persoalan.

Ketika Kepentingan Bersama Lebih Utama

Ada sebuah pelajaran berharga dari perjalanan sebuah perkumpulan marga besar.

Konon, seseorang berkeinginan ikut menjadi pemimpin. Dalam prosesnya, muncul pandangan dari sebagian pihak yang mempertanyakan kelayakannya, antara lain karena dukungan keluarga dan lingkungan marganya dinilai belum memadai.

Ia tidak memilih membalasnya dengan polemik. Ia juga tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk mempertajam perpecahan.

Sampai pada waktunya, ia menyampaikan sikap secara terbuka. Dengan hadir bersama istri tercintanya, ia menunjukkan dirinya apa adanya—dengan keluarga yang mendampingi dan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Namun, pada akhirnya ia memilih tidak mencalonkan diri.

Keputusan tersebut bukan berarti ia tidak memiliki keinginan atau kemampuan untuk memimpin. Sebaliknya, ia memilih memberikan jalan kepada calon yang telah memperoleh dukungan lebih kuat demi menjaga keutuhan perkumpulan dan membuka ruang bagi musyawarah untuk mencapai mufakat.

Dengan demikian, proses pemilihan tidak harus berakhir dengan pemungutan suara yang berpotensi meninggalkan sekat-sekat di antara saudara.

Di sinilah kita belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti mengejar posisi.

Terkadang, kebesaran seorang calon pemimpin justru terlihat ketika ia mampu mengendalikan ambisi pribadi dan menempatkan kepentingan persaudaraan di atas kepentingan dirinya sendiri.

Pemimpin yang matang bukan hanya tahu bagaimana memenangkan sebuah kontestasi, tetapi juga tahu kapan harus memberi ruang kepada orang lain demi kepentingan yang lebih besar.

Tiga Kemampuan Dasar Seorang Pemimpin

Dalam teori kepemimpinan situasional, terdapat tiga perilaku penting yang relevan untuk diterapkan dalam organisasi, yakni direction, supporting, dan delegation.

Direction—memberi arah.

Pemimpin harus mampu menetapkan tujuan, menentukan prioritas, dan memberikan langkah yang jelas. Organisasi membutuhkan arah agar seluruh perangkat dan anggota memahami ke mana harus bergerak.

Tanpa arah yang jelas, organisasi mudah kehilangan fokus. Program berjalan sendiri-sendiri, energi anggota terkuras, dan tujuan bersama menjadi kabur.

Supporting—memberi kekuatan.

Pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Ia harus mampu mendengar, berdialog, menguatkan dan hadir ketika anggota menghadapi persoalan.

Pemimpin bukan sekadar berada di depan, tetapi juga bersedia berdiri di tengah bersama anggota.

Delegation—memberi kepercayaan.

Pemimpin yang baik memahami bahwa dirinya tidak mungkin mengerjakan segala sesuatu seorang diri. Ia harus mampu memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada orang yang tepat sesuai kemampuan dan mandatnya.

Delegasi bukan berarti melepaskan tanggung jawab. Sebaliknya, delegasi merupakan bentuk kepercayaan yang harus disertai akuntabilitas.

Dengan demikian:

Direction memberi arah. Supporting memberi kekuatan. Delegation memberi kepercayaan.

Ketiganya bukan jenjang kekuasaan, melainkan kemampuan seorang pemimpin membaca situasi, manusia, dan kebutuhan organisasi.

Kepercayaan Adalah Modal Utama

Namun, di atas semua kemampuan tersebut terdapat satu modal yang tidak boleh diabaikan: kepercayaan.

Seseorang yang telah dipilih melalui mekanisme musyawarah dan memperoleh mandat organisasi patut diberi kesempatan untuk menjalankan tugasnya.

Sepanjang tidak terdapat keadaan yang menurut AD/ART mengharuskan tindakan lain, seorang pemimpin seyogianya dipercaya hingga selesai masa jabatannya.

Kepercayaan tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan. Kepercayaan justru berarti memberikan ruang kepada pemimpin untuk bekerja, sembari tetap melakukan pengawasan, memberikan masukan, dan mengingatkan apabila terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki.

Jika pada periode berikutnya muncul aspirasi untuk menghadirkan kepemimpinan yang berbeda, aspirasi tersebut sebaiknya diproses melalui mekanisme yang telah disepakati dalam AD/ART perkumpulan.

Dengan cara demikian, regenerasi dapat berlangsung secara tertib, bermartabat, dan tidak mengorbankan persaudaraan.

Membangun Tradisi Pencalonan yang Sehat

Menjelang pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes), proses pencalonan pemimpin sebaiknya tumbuh secara sehat dari aspirasi anggota secara bottom-up.

Aspirasi tersebut dapat berkembang dari cabang, wilayah, hingga akhirnya menjadi bagian dari pembahasan dalam Mubes.

Dukungan pribadi maupun kelompok merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, dukungan tersebut tidak semestinya langsung diposisikan sebagai suara resmi perkumpulan sebelum memperoleh legitimasi melalui mekanisme organisasi.

Karena itu, seseorang yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin seyogianya tidak tergesa-gesa menerima ataupun membangun deklarasi pencalonan, baik secara tertulis maupun melalui pernyataan terbuka di hadapan publik, terlebih jika mengatasnamakan suara perkumpulan sebelum Mubes mengambil keputusan.

Seorang yang sungguh-sungguh siap memimpin tidak perlu mendahului musyawarah untuk memperoleh legitimasi.

Justru sebaliknya, ia menunjukkan kebesaran hati dengan menghormati proses, membiarkan aspirasi anggota tumbuh secara alami, serta menerima keputusan Mubes dengan lapang dada.

Di situlah kualitas seorang calon pemimpin dapat terlihat.

Bukan dari seberapa banyak orang yang mampu dikumpulkannya, bukan pula dari seberapa cepat namanya dideklarasikan, melainkan dari seberapa besar kesediaannya menghormati aturan dan proses organisasi.

Mendukung Bukan Berarti Membenarkan

Sebagai bagian dari pegiat lingkungan berbasis budaya, sikap yang patut dikedepankan adalah mempercayai pemimpin yang telah menerima mandat dan membantu keberhasilannya.

Jika ada kekurangan, berikan masukan.
Jika muncul persoalan, cari jalan keluar bersama.
Jika terdapat perbedaan pandangan, tempuh dialog dengan kepala dingin dan penuh hormat.

Sebab, mendukung bukan berarti selalu membenarkan; mengingatkan bukan berarti melemahkan.

Kritik yang disampaikan dengan niat baik dan kasih persaudaraan justru dapat menjadi kekuatan bagi seorang pemimpin. Sebaliknya, kritik yang dibungkus dengan kebencian, prasangka, atau kepentingan pribadi hanya akan memperlebar jarak dan merusak kepercayaan.

Dalam organisasi kekeluargaan, kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara. Kita membutuhkan orang-orang yang mampu menjaga hati, menahan diri, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Jangan Biarkan Ambisi Mengalahkan Persaudaraan

Sebagai saketurunan marga, marilah kita menjaga agar tidak ada ambisi kepemimpinan yang lebih besar daripada kasih persaudaraan.

Kita boleh memiliki calon yang berbeda.
Kita boleh memiliki pandangan yang berbeda.
Kita boleh menyampaikan kritik dan gagasan yang berbeda.
Namun, setelah seluruh proses selesai, kita tetaplah saudara.

Jangan sampai proses mencari pemimpin justru membuat saudara saling menjauh. Jangan sampai sebuah kontestasi organisasi meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masa jabatan seorang pemimpin.

Dalam konteks inilah filosofi Batak “Au do ho, ho do au; hita” menjadi sangat relevan.

Engkau adalah aku, aku adalah engkau; kita adalah satu.

Makna tersebut mengingatkan bahwa hubungan kekerabatan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Kepemimpinan datang dan pergi, periode organisasi berganti, tetapi persaudaraan harus tetap dijaga.

Mandat Adalah Amanah Bersama
Musyawarah telah selesai, amanah telah dimulai.
Yang terpilih adalah pemimpin bersama.
Mandatnya adalah amanah bersama.
Keberhasilannya adalah tanggung jawab bersama.

Karena itu, setelah seorang pemimpin memperoleh mandat, seluruh anggota seharusnya mengambil bagian dalam memastikan roda organisasi berjalan dengan baik.

Pemimpin membutuhkan dukungan. Anggota membutuhkan kepemimpinan yang dapat dipercaya. Organisasi membutuhkan aturan. Dan persaudaraan membutuhkan ketulusan.

Semua unsur tersebut harus berjalan bersama.

Kepemimpinan yang sehat bukanlah kepemimpinan yang membuat anggota takut untuk berbeda pendapat. Kepemimpinan yang sehat adalah kepemimpinan yang mampu menciptakan ruang bagi perbedaan, kemudian mengolahnya menjadi kekuatan bersama.

Pada akhirnya, pemimpin yang layak dipercaya bukanlah mereka yang paling cepat mendapatkan dukungan, paling banyak menyatakan kesiapan, atau paling kuat membangun pencitraan.

Pemimpin yang layak dipercaya adalah mereka yang mampu menghormati proses, memegang amanah, mendengarkan anggota, memberikan ruang kepada orang lain, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Sebab, dalam sebuah perkumpulan yang dibangun atas dasar darah, budaya dan persaudaraan, jabatan hanyalah sementara, tetapi hubungan persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga lintas generasi.

Maka, sebelum bertanya “Siapa yang akan menjadi pemimpin?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Sosok seperti apa yang layak kita percaya untuk memimpin?”
Dari sanalah kepemimpinan yang bermartabat seharusnya dimulai.

(Penulis, tinggal di lereng Dolok Pusuk Buhit, Samosir).

×
Berita Terbaru Update