Dalam khazanah kebudayaan Batak Toba, folklor bukan sekadar warisan kata-kata masa lalu. Ia adalah tempat para leluhur menyimpan petuah, nilai, dan etika hidup secara ringkas namun mendalam. Dua folklor klasik berikut menawarkan cermin jernih untuk merenungkan kembali cara kita menghidupi Dalihan Na Tolu.
Folklor pertama, “Tungkot Jumulluk Mata” (tongkat yang mencolok mata sendiri), membawa pesan tegas tentang konsekuensi. Setiap tutur kata dan tindakan selalu meninggalkan jejak bagi diri sendiri, keluarga, maupun relasi sosial.
Dalam bingkai Dalihan Na Tolu (dongan tubu, boru, hula-hula), kehati-hatian adalah mutlak. Kesadaran ini menuntut kita menimbang akibat sebelum bertindak: bukan sekadar menuntut apa yang diinginkan, melainkan menanggung tanggung jawab atas dampaknya terhadap orang lain.
Folklor kedua memberikan gambaran hubungan yang padat:
“Ansimun sada holbung, pege sangkarimpang. Manibung rap tu toru, mangangkat rap tu ginjang.” (Mentimun satu tempat, jahe satu rangkai; melompat bersama ke bawah, meloncat bersama ke atas).
Ungkapan ini merekam etika kebersamaan (dongan sabutuha) saat menghadapi pasang surut kehidupan. Manibung rap tu toru mengajarkan kesetiaan untuk tidak saling meninggalkan di masa sulit. Sebaliknya, mangangkat rap tu ginjang mengingatkan agar keberhasilan di masa lapang tidak membuat seseorang lupa pada mereka yang berjuang bersama.
Dua Ungkapan, Satu Etika
Bila dirajut, kedua folklor ini membentuk satu garis etika yang utuh: yang pertama menuntut tanggung jawab, yang kedua menegaskan kesetiaan.
Dalihan Na Tolu pada akhirnya diuji bukan dalam pidato atau ornamen adat, melainkan saat kepentingan bertabrakan dan ujian hidup melanda. Nilai kebudayaan ini baru menemukan bentuk aslinya ketika bertransformasi dari sekadar ucapan menjadi perilaku nyata.
Tiga prinsip sederhana menjadi pengingat bagi kita hari ini:
Jangan membuat "tongkat" yang melukai diri dan relasi sendiri.
Jangan meninggalkan sesama saat berada di bawah.
Jangan melupakan kebersamaan saat diangkat ke atas.*
(Penulis, tinggal di Dolok Pusuk Buhit, Sianjurmulamula-Samosir)
