Notification

×

Iklan

Iklan

Ketua Komisi I Dorong Gagasan Ekoregion Sunda untuk Pembangunan Berkeadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 11:18 WIB Last Updated 2026-08-10T04:18:42Z
Ketua Komisi I DPRD Jawa Barat, DR. H. Rahmat Hidayat Djati, M.I.P.

Bandung, Internationalmedia.id – Ketua Komisi I DPRD Jawa Barat, DR. H. Rahmat Hidayat Djati, M.I.P., mendorong penguatan nilai budaya Sunda sebagai landasan dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus membangun masa depan Indonesia yang lebih berkeadilan.

Hal itu disampaikannya dalam sebuah pidato bertajuk “Merawat Warisan, Meneguhkan Masa Depan: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh”, Sabtu (8/8/2026).

Rahmat menilai filosofi silih asih, silih asah, silih asuh tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi fondasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang mengedepankan kasih sayang, kecerdasan, dan kepedulian.

Ia juga mengangkat pesan leluhur Sunda, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak,” sebagai pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Menurut Rahmat, berbagai persoalan seperti perubahan lingkungan, ketimpangan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, dan kesejahteraan masyarakat membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih terintegrasi.

Karena itu, ia mengusulkan gagasan Ekoregion Sunda sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan Sunda, Cirebon, Banten, dan Betawi dalam satu kesatuan sejarah, budaya, serta ekologi.

“Bukan sebagai batas pemisah, tetapi sebagai ruang kolaborasi. Bukan untuk membangun jarak, tetapi untuk memperkuat persatuan,” ujarnya.

Rahmat juga menilai penguatan otonomi daerah, termasuk peluang pembentukan daerah otonomi baru di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi, perlu diarahkan untuk mengembangkan potensi daerah, memperkuat kemandirian, dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Namun, menurutnya, otonomi daerah harus disertai keadilan fiskal. Daerah yang menjaga hutan, sumber air, dan kelestarian lingkungan perlu mendapatkan manfaat yang sepadan dengan kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

“Keadilan bukan hanya tentang membagi hasil, tetapi juga menghargai kontribusi,” katanya.

Rahmat menegaskan bahwa budaya Sunda tidak semestinya hanya dipandang sebagai bagian dari masa lalu. Nilai-nilai Sunda, menurutnya, harus terus dikembangkan melalui ilmu pengetahuan, karya, dan kolaborasi untuk berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.

“Budaya adalah akar kita. Ilmu adalah cahaya kita. Kolaborasi adalah kekuatan kita. Keadilan adalah cita-cita kita,” ujarnya.

Ia berharap nilai dan warisan budaya tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi mendatang untuk membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat.(lys)

×
Berita Terbaru Update