Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenekraf dan SAC Hadirkan Seniman Jerman Bahas Teknik En Plein Air

Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:45 WIB Last Updated 2026-08-20T02:45:37Z
Menko AHY, Christopher L dan Menekraf Teuku Riefky Harsya, saat meninjau pameran

Jakarta.Internationalmedia.id – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) bersama SBY Art Community (SAC) menghadirkan seniman asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl, dalam Artist Talk bertajuk “Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration” di Lounge Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” yang mengangkat tema “Plein Air Painting sebagai Media untuk Kolaborasi Seni Antar-Budaya dan Antar-Nasional”. Pameran resmi dibuka pada Selasa (18/8/2026) dan berlangsung hingga 30 Agustus 2026.

Dalam Artist Talk tersebut, Christopher Lehmpfuhl berbagi pengalaman dan teknik melukis en plein air, yakni melukis langsung di ruang terbuka. Diskusi turut menghadirkan seniman I Gede Arya Sucitra, Naufal Abshar, dan Willy Himawan.

Christopher Lehmpfuhl yang telah berkarya selama sekitar 20 tahun secara resmi mewakili Kornfeld Galerie, Berlin, sebagai salah satu kolaborator dalam pameran. Ia dikenal memiliki teknik melukis yang unik dengan menggunakan tangan secara langsung.

Menurut Christopher, melukis en plein air memiliki tantangan sekaligus keunggulan tersendiri karena seniman berhadapan langsung dengan kondisi alam.

“Melukis di luar ruang mempunyai banyak tantangan sekaligus keuntungan. Kita tidak hanya menghadapi cuaca, tetapi juga hujan, salju, cahaya, bahkan warna yang mampu memberikan pengalaman emosi yang dalam. Ini memberikan pengalaman yang berbeda dari melukis di studio,” ujar Christopher.

Ia menjelaskan, ketertarikannya menggunakan jari dalam melukis justru berkembang ketika dirinya mulai menekuni teknik en plein air. Baginya, sebuah lukisan tidak sekadar merekam apa yang dilihat, tetapi juga menggambarkan bagaimana seorang seniman mengalami suatu tempat secara fisik dan emosional.

“Lukisan tidak hanya merekam apa yang dilihat, tetapi juga bagaimana sebuah tempat dialami secara fisik dan dituangkan dalam karya,” katanya.

Pandangan berbeda datang dari seniman muda Naufal Abshar yang turut berpartisipasi dalam pameran kedua yang digelar SAC pada 2026. Selama ini, Naufal lebih banyak berkarya di studio yang memiliki kondisi lebih tertata.

Ia justru melihat en plein air sebagai sebuah “new school” karena menawarkan pengalaman berkarya yang berbeda dan penuh tantangan.

“En plein air memiliki banyak layer dan tantangan yang dapat memengaruhi karya, mulai dari cuaca hingga kondisi landscape. Hasilnya tentu memberikan rasa yang berbeda. Bagi saya, ini merupakan new school, terutama bagi seniman seperti saya yang banyak bekerja di studio,” tutur Naufal.

Diskusi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif dan latar belakang. Melalui proses berkarya bersama, seni lukis tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga jembatan untuk mempererat hubungan antarbudaya dan antarnegara.

Pameran “Art for Peace and a Better Future: Collaboration” diselenggarakan oleh SBY Art Community dan mendapat dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya.

Pameran ini dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, serta Christopher Lehmpfuhl.

Memasuki penyelenggaraan kedua, pameran ini menghadirkan 150 lukisan karya 27 seniman lintas generasi dan budaya, termasuk 29 karya Christopher Lehmpfuhl.

Pameran yang berlangsung di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, tersebut tidak hanya menyuarakan pesan perdamaian dan harapan akan masa depan yang lebih baik melalui seni, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia dan HUT ke-499 DKI Jakarta.

Kolaborasi ini sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global dan ruang pertemuan seni internasional, terlebih Jakarta memiliki hubungan sebagai sister city dengan Berlin.(RBS)

×
Berita Terbaru Update