Dalihan Natolu kerap digaungkan sebagai benteng jati diri masyarakat Batak. Nilai Luhur ini senantiasa hadir dalam ritus adat, musyawarah perkumpulan, mimbar pidato para tokoh, hingga lembaran anggaran dasar organisasi.
Namun, di tengah gemuruh ucapan tersebut, sebuah pertanyaan reflektif yang mendasar perlu diajukan secara jujur: Apakah Dalihan Natolu sungguh-sungguh kita pahami dan hidupi dalam tindakan nyata, atau sekadar menjelma jargon normatif yang hampa makna?
Pertanyaan ini krusial untuk direnungkan. Banyak pengurus dan anggota perkumpulan marga sangat fasih melafalkan istilah Dalihan Natolu, tetapi belum tentu meresapi kedalaman filosofinya.
Menguasai peristilahan adat tidak otomatis berbanding lurus dengan penghayatan esensi, dan penghayatan pun kerap berhenti tanpa berwujud dalam praksis organisasi.
Kearifan kultural ini mestinya dibaca ulang melalui kacamata yang dinamis dan relevan. Dalihan Natolu bukanlah struktur kekerabatan statis warisan masa lalu, bukan pula sekadar aksesoris identitas di era modern yang serba cepat.
Ia adalah sistem relasi dinamis yang menuntun cara manusia Batak berinteraksi dan berada bersama orang lain di tengah pusaran perubahan zaman. Karena itu, hakikat Dalihan Natolu sejati lebih dekat pada domain being (cara berada dan menghidupi) ketimbang having (kepemilikan material).
Perangkap Paradigma Having
Disfungsi fatal terjadi ketika perkumpulan marga terjebak dalam paradigma having. Cara pandang ini memosisikan segala hal sebagai objek kepemilikan dan alat transaksi:
Marga dijadikan komoditas kebanggaan yang dangkal.
Jabatan adat dikejar demi status sosial.
Pengaruh diburu untuk kepentingan pragmatis.
Wadah organisasi diperlakukan seolah properti pribadi yang wajib dikuasai.
Ketika persekutuan digerakkan oleh motif transaksional dan hasrat memiliki (having), gesekan internal menjadi tak terelakkan. Keretakan dalam persekutuan jarang dipicu oleh badai besar dari luar, melainkan oleh ambisi senyap yang mengikis kekeluargaan dari dalam.
Sebuah ironi kultural yang menyusup ke ruang adat kita: ketika ketulusan bertutur sapa digantikan oleh dahaga kekuasaan, dan persaudaraan batin yang dalam menyusut menjadi ajang perebutan pengaruh yang fana.
Pemulihan Kesadaran Being
Keutuhan perkumpulan marga hanya dapat dipulihkan melalui pencerahan relasi being. Prinsip being menempatkan manusia berdasarkan keberadaan substantif mereka dalam jalinan relasi yang setara dan bermartabat. Kita tidak sekadar "memiliki" marga secara hukum, melainkan "menjadi" saudara sejati yang saling menopang dalam filosofi dasar:
Manat mardongan tubu: Bukan sekadar nasihat praktis untuk berhati-hati, melainkan kesadaran moral untuk menjaga martabat sesama, merangkul perbedaan pandangan, dan menolak mengorbankan persaudaraan demi ambisi pribadi.
Elek marboru: Menuntut sikap mengayomi dengan penuh kasih, kelembutan, dan kerendahan hati.
Somba marhula-hula: Mengajarkan kehormatan yang tulus demi menjaga keharmonisan tatanan spiritual dan sosial bersama.
Cermin Diri Persekutuan
Sering kali kita berhenti pada pengetahuan verbal—hafal doktrinnya, piawai mengkhotbahkannya, namun gagal mentransformasikannya menjadi karakter kolektif. Begitu berhadapan dengan benturan kepentingan atau krisis kepemimpinan, egoisme personal justru tampil mengangkangi roh Dalihan Natolu.
Di sinilah seluruh elemen organisasi perlu bercermin secara jujur:
Apa gunanya mendengungkan manat mardongan tubu jika perbedaan pendapat justru memicu aksi saling menjatuhkan?
Apa artinya elek marboru jika potensi mereka hanya dimanfaatkan saat tenaga dan dukungannya dibutuhkan demi meloloskan agenda tertentu?
Apa makna somba marhula-hula jika penghormatan hanya dipertontonkan saat kepentingan pribadi terakomodasi?
Kekuatan sejati perkumpulan marga tidak terletak pada seberapa sering nama Dalihan Natolu diteriakkan dalam perayaan upacara, melainkan pada keberanian untuk bergeser dari egoisme having menuju kemurnian relasi being.
Pemimpin marga yang otentik tidak lahir dari hasrat menguasai struktur organisasi, melainkan dari keteladanan konkret dalam memelihara tali persaudaraan. Pada akhirnya, Dalihan Natolu bukanlah aset yang bisa diklaim atau dimonopoli oleh segelintir elite, melainkan panggilan etis yang menuntut pertanggungjawaban moral dari setiap penyandang nama marga hari ini.*
(Penulis, tinggal di Lereng Pusuk Bukit, Samosir)
.jpg)