Notification

×

Iklan

Iklan

Empat Tokoh PPTSB Dorong Pusuk Buhit Menjadi Ruang Pemulihan Peradaban Batak

Jumat, 10 Juli 2026 | 21:32 WIB Last Updated 2026-07-10T14:32:32Z
Empat tokoh PPTSB, Mangihut Sinaga,SH,MH, anggota Komisi III DPR RI, Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si, penggiat lingkungan, Drs Jawali Sinaga, Ketua Departemen Sejarah PPTSB dan Ir Edison Sinaga, Ketua Umum PPTSB.

Jakarta.Internationalmedia.id.-Di tengah menguatnya perhatian terhadap pelestarian kawasan Danau Toba sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark, empat tokoh yang tergabung dalam Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB) menyatakan komitmen bersama untuk mendorong Gunung Pusuk Buhit menjadi pusat konservasi alam sekaligus ruang pemulihan peradaban Batak.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap pengembangan Porlak Nabadia, Taman Monumen Dalihan Natolu Batak, serta perluasan Porlak Etno Botani Batak di kawasan Sigulatti, Geosite Pusuk Buhit, yang merupakan bagian dari Toba Caldera UNESCO Global Geopark.

Kesepakatan itu lahir dalam forum "Happy Hour Putra Toga Sinaga", sebagai tindak lanjut atas pesan dan kerinduan mendiang Uskup Agung Dr. A.B. Sinaga agar masyarakat Batak tidak tercabut dari akar sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang membentuk identitasnya.

Empat tokoh yang menyatakan dukungan tersebut ialah anggota DPR RI Komisi III Mangihut Sinaga, SH, MH, penggiat lingkungan Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si, Ketua Departemen Sejarah PPTSB Drs. Jawali Sinaga, M.Phil., M.Si, dan Ketua Umum PPTSB Ir. Edison Sinaga.

Penggiat lingkungan Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si, dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat(10/7) petang lebih jauh menjelaskan, bagi mereka, Pusuk Buhit tidak cukup dipandang sebagai objek wisata ataupun bentang geologi yang memiliki nilai ilmiah tinggi. Gunung yang berada di jantung Kaldera Toba itu merupakan ruang budaya yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Batak, tempat berbagai narasi asal-usul, nilai adat, dan pandangan hidup diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pengembangan Porlak Nabadia maupun Taman Monumen Dalihan Natolu tidak dimaknai sebagai pembangunan fisik semata, melainkan sebagai ikhtiar menghadirkan kembali ruang yang menghubungkan manusia dengan sejarah, alam, dan kebudayaannya.

"Ini bukan proyek, ini panggilan. Rap hita boi tarpatupa, tapauli dohot dengganni tahi."

Seruan tersebut menjadi penegasan bahwa pelestarian Pusuk Buhit merupakan tanggung jawab bersama. Setiap orang diajak mengambil bagian sesuai kapasitas, profesi, dan bidang pengabdiannya untuk menjaga warisan leluhur.

Menghargai Warisan, Memulihkan Peradaban

Gagasan yang mengemuka dalam pertemuan itu memperlihatkan pergeseran cara pandang terhadap pembangunan kawasan Danau Toba. Jika selama ini kawasan tersebut kerap diposisikan terutama sebagai destinasi pariwisata, para tokoh PPTSB mengingatkan bahwa nilai terbesar Pusuk Buhit justru terletak pada kekayaan sejarah, budaya, pengetahuan, dan peradaban yang dikandungnya.

Dalam tradisi masyarakat Batak, Pusuk Buhit diyakini sebagai salah satu pusat narasi asal-usul leluhur. Karena itu, gunung tersebut bukan hanya memiliki arti geografis, melainkan juga menjadi penanda identitas kultural yang menyatukan berbagai generasi Batak. 

Lanskap alam di sekitarnya merekam hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, adat, dan sistem pengetahuan lokal yang telah berkembang selama berabad-abad.

Pelestarian Pusuk Buhit, dengan demikian, bukan sekadar menjaga bentang alam, tetapi juga memulihkan memori kolektif dan menghargai kekayaan peradaban yang menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.

Dalam perspektif tersebut, Porlak Nabadia dirancang sebagai kawasan konservasi yang memadukan pelestarian keanekaragaman hayati, tanaman endemik Batak, pengetahuan etnobotani, serta pendidikan lingkungan. 

Kawasan ini diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi penelitian, pembelajaran, dan pewarisan kearifan lokal kepada generasi muda.

Sementara itu, Taman Monumen Dalihan Natolu Batak diharapkan menjadi simbol penghormatan terhadap falsafah hidup masyarakat Batak yang bertumpu pada prinsip Dalihan Natolu sebagai fondasi hubungan sosial yang menekankan penghormatan, keseimbangan, tanggung jawab, dan semangat saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sejalan dengan Paradigma UNESCO Global Geopark

Komitmen tersebut dinilai selaras dengan paradigma UNESCO Global Geopark yang menempatkan konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pilar utama pembangunan kawasan.

Keberhasilan Toba Caldera memperoleh kembali Green Card UNESCO Global Geopark pada 2025 dipandang sebagai pengakuan internasional atas perbaikan tata kelola kawasan. Namun, pengakuan tersebut bukanlah tujuan akhir.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa manfaat Geopark benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat melalui pelestarian lingkungan, berkembangnya penelitian, meningkatnya kualitas pendidikan, bertumbuhnya ekonomi lokal, serta semakin kuatnya penghargaan terhadap budaya dan pengetahuan tradisional.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI) yang mendorong transformasi dari Green Card menuju Green Toba, yakni kondisi ketika keberhasilan Geopark tidak hanya tercermin dalam hasil evaluasi UNESCO, tetapi juga dalam kualitas lingkungan yang semakin lestari, masyarakat yang semakin sejahtera, dan budaya yang semakin hidup.

Dari Lanskap Menuju Literasi

Dalam diskusi itu juga mengemuka pandangan bahwa masa depan Geopark Toba tidak cukup dibangun melalui promosi wisata, melainkan melalui penguatan literasi geologi, budaya, dan sejarah.

Geosite perlu menjadi ruang belajar terbuka. Jalur geotrail tidak hanya menjadi lintasan wisata, tetapi juga ruang membaca sejarah bumi. Desa adat menjadi pusat pembelajaran kebudayaan. 

Kawasan hutan berkembang sebagai laboratorium ekologis. Sementara pusat informasi Geopark diharapkan menjadi pusat interpretasi yang menjelaskan keterkaitan antara geologi, biodiversitas, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, generasi muda tidak hanya mengenal Danau Toba sebagai destinasi wisata, tetapi juga memahami bahwa kawasan itu merupakan bentang alam yang melahirkan peradaban, membentuk identitas budaya, serta menyimpan pengetahuan yang bernilai bagi masa depan.

Dari Green Card Menuju Green Toba

Para tokoh PPTSB menilai keberhasilan Toba Caldera UNESCO Global Geopark pada akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya seremoni ataupun meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika geosite semakin lestari, hutan kembali hijau, pengetahuan lokal terdokumentasi, generasi muda mengenal akar budayanya, penelitian berkembang, UMKM tumbuh bersama masyarakat, serta nilai-nilai Dalihan Natolu tetap hidup dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Pusuk Buhit diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai situs geologi yang diakui dunia, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai pusat inspirasi peradaban Batak—tempat alam, ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai kemanusiaan bertemu dalam satu kesatuan yang utuh.

Menutup pertemuan tersebut, keempat tokoh kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak sesuai panggilan dan tanggung jawab masing-masing dalam merawat warisan bumi Kaldera Toba, melestarikan kebudayaan Batak, serta mewariskan nilai-nilai peradaban kepada generasi mendatang.

"Ini bukan proyek, ini panggilan. Ayo bergegas. Lakukan sesuai panggilan masing-masing,"kata penggiat lingkungan Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si mengakhiri.*

×
Berita Terbaru Update