Notification

×

Iklan

Iklan

Lereng Pusuk Buhit Ditanami Pohon, Perkuat Konservasi Dan Penyelamatan Ekosistem Danau Toba

Sabtu, 06 Juni 2026 | 09:23 WIB Last Updated 2026-06-06T02:23:33Z
Wella Andany Kompas TV saat menanam pohon disaksikan Dr Wilmar Eliaser Simandjorang

Samosir.Internationalmedia.id.-Menjelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PP_DT) bersama Tim Program Sustenesia KompasTV, Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boruna (PPTSB), dan Perum Jasa Tirta I (PJT I) melakukan penanaman pohon di kawasan Parombunan The View Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir, Kamis (4/6). 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya konservasi dan penyelamatan ekosistem Danau Toba melalui penguatan fungsi ekologis kawasan hulu dan daerah tangkapan air.

Kegiatan yang dipimpin Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PPKDT), Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, tersebut merupakan bagian dari gerakan edukasi lingkungan dan konservasi di kawasan UNESCO Global Geopark Kaldera Toba. 

Penanaman pohon dilakukan pada sejumlah titik strategis di lereng Dolok Pusuk Buhit guna memperkuat fungsi ekologis kawasan, menjaga ketersediaan sumber daya air, mengurangi risiko erosi, serta mendukung keberlanjutan geowisata berbasis masyarakat.

Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Samosir, Asnita Sinaga saat akan menanam pohon

Dalam keterangannya kepada Internationalmedia.id., Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang menegaskan bahwa Geopark Kaldera Toba bukan sekadar status atau pengakuan internasional, melainkan sebuah komitmen bersama untuk menjaga warisan geologi, budaya, dan ekologi yang dimiliki kawasan Danau Toba.

“Geopark bukan hanya tentang bentang alam yang indah. Geopark adalah upaya mengintegrasikan pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat secara berkelanjutan. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat sebagai penjaga utama warisan tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, Pusuk Buhit memiliki posisi yang sangat penting, baik secara ekologis maupun spiritual. Selain dikenal sebagai bagian penting dalam sejarah dan kosmologi masyarakat Batak, kawasan ini juga merupakan daerah tangkapan air yang berperan menjaga keseimbangan hidrologi Danau Toba.

Hutan dan vegetasi di lereng Pusuk Buhit membantu menyerap air hujan, mencegah erosi, serta menjaga keberlangsungan mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Karena itu, penanaman pohon merupakan langkah nyata untuk memulihkan lahan kritis dan memperkuat fungsi ekologis kawasan. 

Bersama Tokoh Masyarakat, Tim Sustenesia Kompas TV, PP_ DT, dan PJT1


Namun konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan teknis. Diperlukan kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat, tambahnya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Asnita Era Sinaga, Ketua Tani Merdeka Kabupaten Samosir sekaligus mewakili Boru PPTSB, yang menekankan pentingnya peran marga dan lembaga adat dalam menjaga keberlanjutan Geopark Kaldera Toba.

“Dalam masyarakat Batak, struktur marga dan lembaga adat memiliki pengaruh yang kuat. Mereka bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga memiliki otoritas moral dalam mengatur hubungan masyarakat dengan tanah, hutan, dan situs-situs yang dianggap penting,” kata Asnita Era Sinaga.

Menurutnya, keterlibatan tokoh adat dan pemangku kepentingan lokal menjadi faktor penting dalam setiap program konservasi maupun pembangunan berkelanjutan di kawasan Geopark.

“Ketika masyarakat adat dilibatkan sejak awal, berbagai kebijakan pelestarian cenderung lebih mudah diterima dan dijalankan secara konsisten. Pelestarian lingkungan tidak hanya melalui regulasi formal, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan dan dijaga selama berabad-abad,” ujarnya.

Dukungan terhadap upaya konservasi dan penyelamatan ekosistem Danau Toba juga disampaikan oleh Wansen Manik, mewakili Perum Jasa Tirta I (PJT I). Menurutnya, pimpinan PJT I secara konsisten mendukung berbagai kegiatan pelestarian lingkungan di kawasan Danau Toba, khususnya pada wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Toba-Asahan.

“Pimpinan PJT I selalu mendukung setiap upaya konservasi di kawasan Danau Toba, terutama di DAS Toba-Asahan. Kegiatan penanaman pohon di lereng Dolok Pusuk Buhit merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air dan kelestarian lingkungan,” ungkap Wansen Manik.

Ia menambahkan bahwa kelestarian kawasan hulu memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi Danau Toba sebagai satu kesatuan ekosistem. Kerusakan yang terjadi di kawasan tangkapan air akan berdampak pada kualitas air, produktivitas lahan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada Danau Toba.

Sementara itu, tokoh masyarakat Sianjur Mula-Mula, Marulak Simanjorang Sinaga (Op. Hottua), mengingatkan bahwa Danau Toba saat ini menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang memerlukan perhatian dan tindakan bersama.

“Berkurangnya tutupan hutan, degradasi lahan, erosi, hingga penurunan kualitas lingkungan merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. Karena itu, menjaga kawasan hulu seperti Pusuk Buhit sama pentingnya dengan menjaga Danau Toba itu sendiri,” ujarnya.

Dikatakan, pelestarian alam harus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai budaya dan adat yang selama ini menjadi fondasi hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan di Tanah Batak.

Melalui kolaborasi antara komunitas, media, lembaga adat, pegiat lingkungan, dan pengelola sumber daya air, kegiatan penanaman pohon ini diharapkan menjadi gerakan bersama dalam menjaga warisan geologi, hayati, dan budaya Danau Toba. Aksi tersebut juga sejalan dengan paradigma UNESCO Global Geopark Kaldera Toba, yaitu: “memuliakan bumi dan mensejahterakan masyarakat melalui kegiatan geowisata.”

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lingkungan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Pelestarian alam memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, lembaga adat, dunia usaha, media, dan generasi muda.

Menurut Gito Pardede Staf BPODT mengatakan bahwa Dari lereng Pusuk Buhit, pesan itu kembali ditegaskan: menjaga Danau Toba bukan hanya menjaga sebuah danau atau destinasi wisata unggulan, melainkan menjaga sumber kehidupan, identitas budaya Batak, serta mewariskan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. 

Penanaman pohon yang dilakukan hari ini menjadi simbol harapan bahwa melalui kolaborasi dan kesadaran bersama, Danau Toba akan tetap lestari sebagai warisan geologi, budaya, dan lingkungan yang membanggakan Indonesia.(Ung)

×
Berita Terbaru Update