Anggota Dewan Pakar PPTSB
Tahun 2045 akan menjadi tonggak bersejarah bagi bangsa Indonesia: satu abad kemerdekaan. Bangsa ini menaruh harapan besar untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju dunia. Pada saat yang sama, Pomparan Toga Sinaga juga sedang menapaki perjalanan menuju masa depan yang menentukan.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar: siapakah yang akan mengisi dan mewujudkan Era Emas 2045 itu?. Jawabannya ada pada generasi muda.
Gambaran itu tampak indah dalam lukisan The Stages of Life karya Caspar David Friedrich. Di tepi pantai, anak-anak memandang jauh ke cakrawala, sementara para orang tua berdiri di belakang mereka. Anak-anak melambangkan masa depan yang sedang berlayar menuju samudra kehidupan, sedangkan generasi tua melambangkan pengalaman dan kebijaksanaan yang tetap menjadi penuntun arah.
Inilah gambaran ideal perjalanan Toga Sinaga menuju tahun 2045: generasi muda yang berani mengarungi lautan zaman, dengan generasi tua yang setia menjaga nilai, arah, dan warisan luhur.
Penulis mengingatkan kita pada panggilan Tuhan dalam Yesaya 49. Panggilan itu mula-mula ditujukan kepada Hamba Tuhan dan digenapi secara sempurna dalam Kristus. Sejak dari kandungan, Kristus dipanggil bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, melainkan untuk mengembalikan umat kepada Tuhan dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi.
Di dalam panggilan itulah generasi muda Toga Sinaga menemukan arah hidupnya.
1. Jangan Menjadi Penonton di Pantai
Anak-anak dalam lukisan Friedrich tidak sibuk bermain pasir. Mereka menatap kapal-kapal yang sedang berlayar di cakrawala. Pandangan mereka tertuju jauh ke depan.
Demikian pula generasi muda Toga Sinaga tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman. Era Emas 2045 tidak akan hadir dengan sendirinya. Masa depan dibangun oleh mereka yang memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bertindak.
Generasi muda harus berani menjadi pelaku, bukan sekadar pengamat; menjadi pencipta peluang, bukan hanya penikmat hasil. Mereka harus hadir di berbagai bidang strategis: pendidikan, teknologi, ekonomi, pemerintahan, kesehatan, lingkungan, dan pelayanan sosial.
Panggilan dalam Yesaya 49:6 adalah menjadi “terang bagi bangsa-bangsa”. Artinya, keberhasilan tidak boleh berhenti pada kebanggaan pribadi atau kebesaran marga semata. Talenta dan kompetensi yang dimiliki harus menjadi berkat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Marga yang besar tidak diukur dari banyaknya anggota, melainkan dari besarnya kontribusi yang diberikan kepada sesama.
2. Estafet, Bukan Kompetisi Antargenerasi
Salah satu tantangan terbesar dalam sebuah komunitas adalah ketika hubungan antara generasi tua dan generasi muda berubah menjadi arena persaingan.Yang tua merasa tidak lagi dihargai. Yang muda merasa tidak diberi ruang untuk berkembang.
Padahal kehidupan bukanlah perlombaan antargenerasi, melainkan estafet yang harus diteruskan.
Dalam lukisan Friedrich, sosok tua yang memegang tongkat tidak sedang menghalangi anak-anak. Ia sedang menunjukkan arah perjalanan. Di situlah makna kepemimpinan sejati: membimbing tanpa mengekang, mengarahkan tanpa menguasai.
Ulangan 32:46 menegaskan.
"Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu menyampaikannya kepada anak-anakmu."
Amanah orang tua adalah mendidik, membimbing, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus. Amanah itu tidak boleh terputus oleh perubahan zaman.
Warisan tersebut bukan hanya tentang iman dan pengetahuan umum, tetapi juga tentang kearifan lokal yang diwariskan oleh Ompu Palti Raja Sinaga. Dalam kehidupannya, beliau dikenal sebagai pribadi yang adil, jujur, bijaksana, dan tulus. Karena itu beliau dikenang dengan julukan Ompu Palti Raja dan Ompu Palti Pandapotan.
Falsafah yang diwariskannya tetap relevan hingga hari ini:
“Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali; parparik sinombani gaja, naso tarangkat manunuk sabungan.”
Maknanya sangat dalam: senantiasa menjaga keseimbangan, ketelitian, keadilan, serta kebersamaan dalam kehidupan. Timbangan harus tetap tepat. Tali pengikat persaudaraan tidak boleh putus.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, nilai-nilai ini justru semakin penting. Generasi muda Toga Sinaga harus menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan kokoh dalam persaudaraan.
Namun estafet tidak berjalan satu arah. Generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk membawa perspektif baru. Mereka harus berani memperkenalkan inovasi, menguasai teknologi digital, peduli terhadap lingkungan, serta mampu menjawab tantangan global yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Ketika kebijaksanaan masa lalu bertemu dengan kreativitas masa depan, di situlah lahir kemajuan yang berkelanjutan.
3. Amanah adalah Bentuk Penghormatan Tertinggi
Toga Sinaga patut bersyukur atas berbagai berkat yang telah dianugerahkan Tuhan. Berdirinya Tugu Toga Sinaga beserta kawasannya di Urat Palipi dan Gedung Tosin di Kota Medan merupakan simbol persatuan, perjuangan, dan identitas bersama.
Namun sesungguhnya nilai sebuah warisan tidak terletak pada kemegahan bangunannya.
Bangunan dapat berdiri kokoh selama puluhan tahun, tetapi maknanya akan hilang apabila tidak dijaga oleh karakter generasi penerusnya.
Tanpa amanah, monumen hanya menjadi batu. Tanpa nilai, gedung hanya menjadi bangunan.
Karena itu, penghormatan tertinggi kepada para leluhur bukanlah sekadar mengagumi peninggalan mereka, melainkan melanjutkan semangat hidup yang mereka wariskan.
Kristus berkata dalam Yesaya 49:5: "Aku dipermuliakan di mata Tuhan, dan Allahku menjadi kekuatanku."
Kemuliaan Toga Sinaga pada tahun 2045 tidak akan diukur dari seberapa tinggi tugu yang dibangun atau seberapa megah gedung yang dimiliki. Kemuliaan itu akan diukur dari sejauh mana generasi penerus tetap hidup dalam kebenaran, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan takut akan Tuhan. Itulah warisan yang sesungguhnya.
Berlayarlah Sekarang
Tahun 2045 tidak lagi jauh. Anak yang lahir hari ini akan berusia sekitar dua puluh tahun ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaannya. Mereka adalah generasi yang akan menerima estafet kepemimpinan bangsa dan marga.
Karena itu, waktu terbaik untuk mempersiapkan masa depan bukanlah besok, melainkan hari ini.
Generasi muda Toga Sinaga harus berani bermimpi besar, belajar tanpa henti, bekerja dengan integritas, menjaga persaudaraan, menghormati warisan leluhur, dan mengabdi bagi masyarakat luas.
Jangan hanya berdiri di pantai memandangi kapal yang berlayar. Naiklah ke atas kapal itu. Bentangkan layar. Pegang kompas nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Dan berlayarlah menuju cakrawala Indonesia Emas 2045, sebagai generasi Toga Sinaga yang bukan hanya berhasil, tetapi juga membawa terang, kehormatan, dan manfaat bagi banyak orang.*
