![]() |
| Kondisi bangunan dengan penyangga bambu agar tidak ambruk |
Purwakarta.Internationalmedia.id.– Kondisi bangunan SD Negeri 2 Nangewer di Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, kian mengkhawatirkan. Sekolah yang berlokasi di Jl. Haji Ahmad Dasuki, Kp. Krajan ini kini terpaksa menggunakan bambu sebagai penyangga atap guna mencegah bangunan roboh saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung.
Kepala Desa Nangewer, Asep Munajat, mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan. Ia menekankan bahwa keselamatan anak didik tidak bisa ditunda hanya karena persoalan administratif.
“Saya berharap pemerintah segera memberikan perhatian penuh terhadap sekolah ini. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan yang dapat membahayakan anak-anak saat KBM berlangsung,” ujarnya saat dihubungi lewat pesan, Senin (11/5/2026).
Bangunan sekolah dengan NPSN 20217219 tersebut tercatat berdiri sejak tahun 1979. Namun, di usianya yang hampir setengah abad, fasilitas pendidikan ini justru tampak lapuk dan membahayakan keselamatan siswa serta tenaga pengajar.
Pihak sekolah mengaku telah berkali-kali melayangkan surat permohonan renovasi kepada instansi terkait. Namun, hingga kini, janji perbaikan tersebut belum juga terealisasi di lapangan.
"Kami sudah beberapa kali mengajukan bantuan perbaikan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan," ujar salah satu sumber dari pihak sekolah.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Heri Wijaya, membenarkan bahwa gedung SDN 2 Nangewer masuk dalam daftar bangunan yang mengalami kerusakan.
Namun, saat dikonfirmasi pekan lalu melalui pesan WA, Heri menjelaskan bahwa proses realisasi perbaikan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Menurutnya, usulan perbaikan gedung tersebut baru diproyeksikan melalui mekanisme dana aspirasi pada tahun mendatang.
"Kondisi sekolah memang membutuhkan perhatian. Kami sudah mengusulkan agar perbaikannya dapat di-cover melalui dana aspirasi revitalisasi tahun 2027," ungkap Heri Wijaya saat dikonfirmasi.
Keterangan dari pihak Disdik ini menuai reaksi dari masyarakat. Mengingat tahun 2027 masih cukup jauh, warga berharap pemerintah daerah tidak kaku pada anggaran rutin dan segera mencari solusi dana darurat atau bantuan tidak terduga.
"Jangan sampai menunggu ada korban baru diperbaiki. Kalau alasannya harus menunggu tahun 2027, lantas bagaimana nasib keamanan anak-anak kami selama setahun lebih ke depan?" keluh salah satu wali murid.
Hingga saat ini, aktivitas KBM di SDN 2 Nangewer masih berjalan seperti biasa, meskipun di bawah bayang-bayang risiko atap bangunan yang sewaktu-waktu bisa ambruk. (Ir)
