Tulisan Wilmar Eliaser Simandjorang berjudul Ketika Merasa Diri Paling Hebat pada mulanya tampak sebagai refleksi moral sederhana tentang pentingnya kerendahan hati.
Namun di balik metafora yang ringan dan satiris, sesungguhnya tersimpan pandangan sosial yang sangat mendalam mengenai bagaimana kehidupan bersama bekerja dan dipertahankan.
Melalui kisah “Seminar Batang Tubuh”, Wilmar memperlihatkan ironi manusia modern: kecenderungan merasa paling penting sambil mengabaikan fungsi pihak lain yang dianggap kecil, biasa, atau tidak bergengsi.
Organ-organ tubuh dalam seminar itu saling membanggakan diri, hingga akhirnya menyadari bahwa kehidupan justru terganggu ketika satu unsur yang selama ini diremehkan berhenti menjalankan fungsinya.
Metafora itu sederhana, tetapi daya jelajah maknanya luas. Ia berbicara tentang kehidupan sosial manusia.
Dalam perspektif antropologi, gagasan tersebut memiliki kedekatan kuat dengan pendekatan struktur-fungsional yang dikembangkan Bronislaw Malinowski pada awal abad ke-20.
Melalui penelitiannya terhadap masyarakat Kepulauan Trobriand di Pasifik Barat, Malinowski melihat bahwa masyarakat bekerja layaknya organisme hidup: setiap unsur memiliki fungsi yang saling berkaitan demi menjaga keberlangsungan kehidupan bersama.
Masyarakat, dengan demikian, tidak berdiri di atas superioritas satu kelompok, melainkan di atas keterhubungan fungsi sosial. Ada yang tampil di depan, ada yang bekerja di belakang layar. Ada yang memimpin, ada yang menopang. Ada yang dipuji, ada yang nyaris tak terlihat. Namun seluruhnya menentukan hidup atau matinya sistem sosial.
Di sinilah tulisan Wilmar menjadi relevan bagi kehidupan modern.
Hari ini manusia semakin mudah terjebak dalam hierarki simbolik: memuja jabatan, status sosial, popularitas, kekuasaan, dan visibilitas publik.
Sementara itu, pekerjaan yang sunyi dan tidak terlihat justru sering dipandang rendah. Padahal, dalam kenyataan sosial, kehidupan berjalan justru karena ditopang oleh kerja kolektif yang sering luput dari perhatian.
Rumah sakit tidak berdiri hanya oleh dokter, tetapi juga oleh perawat, petugas laboratorium, tenaga administrasi, hingga pekerja kebersihan. Universitas tidak hidup hanya oleh profesor, melainkan juga oleh mahasiswa, pustakawan, staf administrasi, dan pekerja pendukung lainnya. Negara pun tidak mungkin berjalan hanya oleh pemimpin tanpa birokrasi dan warga yang menjalankan fungsi sosialnya masing-masing.
Kehidupan sosial selalu bergantung pada jaringan fungsi yang saling menopang.
Dalam perspektif antropologi fungsional, keadaan itu disebut sebagai integrasi sosial, yakni situasi ketika setiap unsur menjalankan fungsinya secara proporsional sehingga tercipta keteraturan dan keseimbangan sosial.
Sebaliknya, ketika satu unsur diabaikan atau dipandang tidak penting, gangguan terhadap keseluruhan sistem menjadi sulit dihindari.
Karena itu, kritik sosial dalam tulisan Wilmar sesungguhnya sangat tajam. Kesombongan lahir ketika manusia gagal memahami bahwa dirinya hanyalah bagian dari struktur kehidupan yang lebih besar. Tidak ada institusi, jabatan, ataupun individu yang benar-benar dapat berdiri sendiri.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pesan seperti ini menjadi semakin penting. Bangsa Indonesia dibangun oleh keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, kelas sosial, dan profesi. Perbedaan bukan ancaman bagi kehidupan bersama, melainkan syarat bagi terciptanya keseimbangan sosial.
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang seragam, melainkan masyarakat yang mampu menghargai keberagaman fungsi sosial di dalamnya.
Pada titik inilah tulisan Wilmar melampaui sekadar pesan moral tentang rendah hati. Ia mengingatkan bahwa harmoni sosial tidak lahir dari keinginan menjadi paling hebat, melainkan dari kesadaran bahwa kehidupan hanya mungkin berlangsung ketika setiap unsur saling menghargai dan saling menopang.
Sebab pada akhirnya, keberlangsungan sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, melainkan oleh sejauh mana seluruh unsur di dalamnya mampu bekerja bersama dalam keseimbangan.
(Penulis adalah, Ketua Departemen Sejarah, Seni & Budaya
Departemen Antropologi Universitas Indonesia)
