![]() |
| Joni Martinus |
Bandung.Internationalmedia.id.-Usulan memindahkan gerbong KRL khusus wanita ke tengah rangkaian Commuter Line yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, tidak relevan.
Pengamat Perkeretaapian, Joni Martinus dalam keterangannya pagi ini menjelaskan, bahwa wacana tersebut tidak relevan dan tidak efektif serta tidak menyentuh persoalan utama dalam operasi keselamatan kereta api, justru sebaliknya bisa menimbulkan masalah baru.
Jika gerbong KRL khusus wanita berada di tengah rangkaian, maka berpotensi penumpang pria bisa masuk melintasi gerbong tersebut guna keperluan akses ke gerbong lain. Lalu akan memunculkan kebingungan menghitung guna menentukan posisi gerbong yang di tengah saat Commuter line datang di stasiun.
Kemudian terjadi kondisi berdesakan yang lebih riuh dan sulit saat akan menuju serta masuk ke gerbong yang terletak di tengah dan tentunya ini sangat menyusahkan terutama bagi Wanita yang sedang hamil, lansia , maupun ibu yang membawa anak kecil.
Joni menegaskan bahwa Keberadaan gerbong KRL khusus Wanita lebih kepada layanan tambahan, bukan faktor penentu safety
Sebaliknya Joni berpendapat bahwa penempatan gerbong KRL khusus wanita di bagian paling depan dan paling belakang sudah tepat alasannya adalah :
1. Kemudahan Akses, dengan menempatkan Kereta Khusus Wanita (KKW) pada ujung rangkaian, maka penumpang wanita, ibu hamil, lansia, maupun yang membawa anak, lebih mudah mengakses gerbong tanpa harus berdesakan menuju bagian tengah kereta.
2.Keamanan dan Kenyamanan, Memberikan ruang yang lebih nyaman dan aman kpda pnumpang perempuan dari potensi tindak pelecehan seksual atau kriminalitas
3.Pengawasan, lokasi di ujung juga memudahkan petugas memantau area khusus perempuan secara lebih fokus karena terlokalisasi
4.Mengurangi Berdesakan, Penumpang wanita merasa risih jika harus berdesakan dengan lawan jenis saat kondisi kereta padat.
“Aspek keselamatan dan layanan transportasi kereta api tidak didasarkan pada gender, melainkan berlaku sama bagi seluruh penumpang , Pria atau pun wanita sama saja keduanya harus mendapatkan layanan yang baik dan selamat sampai tujuannya,” imbuh Joni
Penting untuk dipahami bahwa keselamatan perkeretaapian merupakan integrasi dari berbagai sistem dan praktik. Pendekatan holistik ini mencakup koordinasi antara pemeliharaan infrastruktur, kehandalan sarana , sumber daya manusia yang professional.
Kepatuhan pada regulasi, dan penerapan teknologi modern. Sinergi diantara semua komponen ini akan membentuk suatu sistem keselamatan yang kokoh dan dapat diandalkan.
Pemerintah, operator perkeretaapian, dan masyarakat umum harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan perkeretaapian yang aman. Keselamatan perkeretaapian merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan komitmen dari semua pihak terkait.” tutup Joni.(*)
