Notification

×

Iklan

Iklan

Terjepit 10 Jam, 14 Meninggal dan 84 Korban Luka dalam Tabrakan Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur

Selasa, 28 April 2026 | 15:10 WIB Last Updated 2026-04-28T08:10:48Z

Bekasi.Internationalmedia.id.-Data terakhir dari peristiwa kecelakaan tabrakan kereta api yang terjadi di Wilayah Stasiun Bekasi Timur, 14 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka ringan dan berat.

Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, kata Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin dalam keterangan Pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Dia menyebut, penanganan korban dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.

Hal ini disampaikannya dalam keterangan pers bersama Menteri Perhubungan (Menhub), dan Kabasarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii di Stasiun Bekasi Timur, Selasa(29/4).

Bermula

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkapkan kronologi awal dugaan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang bermula saat kereta rel listrik (KRL) relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85 sehingga memicu insiden.

"Berdasarkan kronologi awal, insiden kecelakaan bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85," kata Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.

Sebagai dampaknya, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.

Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.

Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses evakuasi berjalan optimal.

Evakuasi korban dilakukan secara bertahap, terukur, dan penuh kehati-hatian guna meminimalkan risiko tambahan, dengan mempertimbangkan kondisi rangkaian kereta serta keselamatan petugas dan korban.

"Upaya ini didukung melalui pendirian Posko Tanggap Darurat di Stasiun Bekasi Timur serta penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan," ujar dia.

Kementerian Perhubungan juga mendukung penuh proses investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara objektif dan menyeluruh.

Menhub menegaskan pihaknya memberikan ruang dan menunggu KNKT untuk melakukan investigasi secara independen agar hasilnya dapat menjadi dasar evaluasi komprehensif ke depan.

Terjepit 10 Jam

Kabasarnas, Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii dalam kesempatan itu menyatakan, Basarnas terus berupaya melakukan evakuasi secara maksimal kepada seluruh korban insiden tabrakan KA Argo Bromo dan KRL CommuterLine di Stasiun Bekasi Timur. Kendala yang dihadapi yakni menyatunya gerbong KRL dengan lokomotif.

"Yang menjadi permasalahan adalah space untuk kita melakukan tindakan. Jadi kita melakukan tindakan dari luar ternyata juga mengalami kesulitan tersendiri," 

"Kemudian kita dari dalam, dari volume dari gerbong itu juga terbatas, sehingga kita di dalam tidak lebih dari 25 orang dan itu pun bercampur dengan material yang menyatu dari lokomotif dan gerbong," imbuh dia.

Syafi'i juga mengatakan, ada tujuh korban yang masih terjepit dalam gerbong KRL usai tertabrak KA Jarak Jauh di Stasiun Bekasi Timur masih hidup. Seluruh korban merupakan wanita.

"Masih ada beberapa korban yang masih dinyatakan hidup, namun kondisinya masih dalam kondisi terjepit sehingga kita akan berupaya untuk secepat mungkin bisa memisahkan antara logam-logam yang menjepit dan kita bisa evakuasi korban," ujar Syafii.

Syafii menyebut pihaknya masih melakukan pemotongan gerbong untuk memudahkan evakuasi. Ia belum bisa memastikan jumlah seluruh korban.

"Jadi yang ada di permukaan yang terlihat sementara masih ada 7 korban yang kita akan evakuasi. untuk total korban tentunya akan kita tuntaskan nanti bahwa antara himpitan dari lokomotif dan dua gerbong ini mudah-mudahan bisa kita selesaikan sehingga kita tahu persis semua korban bisa kita evakuasi," katanya.

"Yang kita lihat secara fisik semuanya perempuan, karena ini gerbong (perempuan), dan wanita dewasa" tambahnya.

Namun, ia memastikan tim medis terus bersiaga. Para korban yang terjepit akan dimaksimalkan dalam proses evakuasi, seperti upaya mengurangi rasa sakit pada kaki yang terjepit.

Dan yang terakhir dievakuasi, 5 penumpang yang keseluruhannya adalah wanita dengan posisi terjepit dalam satu ruangan. Ada 10 jam mereka terjepit, namun Basarnas Gabungan berhasil mengevakuasinya dengan sangat hati-hati. Ini yang terakhir kita evakuasi. Seluruh penumpang dapat dievekuasi hingga pukul 08 Wib, tadi pagi, kataya.(lys)

×
Berita Terbaru Update