Notification

×

Iklan

Iklan

Menata Kepemimpinan Berbasis Nilai dalam PPTSB

Jumat, 03 April 2026 | 20:57 WIB Last Updated 2026-04-03T13:57:21Z

Oleh: Jawali Sinaga & Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga
               
Di tengah dinamika organisasi kekerabatan seperti PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru), pertanyaan tentang kepemimpinan tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus hadir, berubah bentuk, dan menuntut jawaban yang bukan saja praktis, tetapi juga berakar dan berkelanjutan. 

Dalam konteks inilah, pemikiran yang berkembang dari Jawali Sinaga dan diperdalam oleh Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga menemukan relevansinya sebagai satu kesatuan gagasan yang utuh.

Tulisan ini bukan sekadar rangkaian pendapat, melainkan dialektika antara pengalaman empiris dan refleksi konseptual—antara kebutuhan mendesak organisasi dan arah jangka panjang yang lebih mendasar.

Jawali Sinaga berangkat dari realitas yang konkret. Dinamika forum diskusi, pengalaman konflik dalam Muscab, Muswil, hingga Mubes, serta kebutuhan akan kriteria kepemimpinan yang jelas menjadi titik tolaknya. 

Ia melihat bahwa organisasi membutuhkan mekanisme yang lebih terukur—termasuk kemungkinan penggunaan sistem penilaian seperti marsoring-soring—untuk memastikan bahwa pemimpin yang lahir bukan sekadar hasil kompromi, tetapi pilihan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendekatan ini bersifat empiris dan organisatoris. Fokusnya jelas: bagaimana menghadirkan kepemimpinan yang workable, adil, dan mampu meminimalkan konflik. Dalam kerangka ini, kapasitas personal—baik dari sisi finansial, pengalaman, pendidikan, maupun kemampuan manajerial—menjadi variabel penting yang tidak bisa diabaikan.

Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga

Namun, di sinilah Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga masuk dengan kedalaman refleksi yang lebih luas. Ia tidak menolak pendekatan praktis tersebut, melainkan mengangkatnya ke tingkat yang lebih sistemik. Apa yang oleh Jawali dilihat sebagai kebutuhan mekanisme, oleh Wilmar dipahami sebagai bagian dari arsitektur kelembagaan yang lebih besar.

Bagi Wilmar, pemilihan pemimpin bukanlah peristiwa sesaat. Ia adalah bagian dari siklus manajemen yang utuh: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Tanpa kerangka ini, mekanisme apa pun—sebaik apa pun dirancang—akan kehilangan daya hidupnya.

Menariknya, Wilmar tidak berhenti pada teori manajemen modern. Ia justru menunjukkan bahwa kearifan lokal Batak telah lama mengandung prinsip-prinsip tersebut. Martahi atau martonggo raja mencerminkan perencanaan berbasis musyawarah. Dalihan na tolu menghadirkan struktur relasi dalam pengorganisasian. 

Praktik marsiadapari mencerminkan pelaksanaan kolektif, sementara nilai patik, uhum, dan hasangapon menjadi mekanisme pengawasan moral dan sosial.

Dengan demikian, nilai adat tidak sekadar menjadi simbol identitas, tetapi merupakan sistem pengelolaan yang telah teruji lintas generasi.

Lebih jauh, Wilmar menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh direduksi menjadi sekadar jabatan. Pemimpin adalah simpul integrasi—yang menghubungkan relasi, mengelola sumber daya, menjaga arah organisasi, sekaligus memelihara nilai.
Dalam perspektif ini, kepemimpinan menjadi fungsi integratif yang mencakup kemampuan beradaptasi, mencapai tujuan, menjaga kohesi, dan merawat keberlanjutan nilai.

Di titik ini, terlihat jelas bahwa apa yang dirumuskan Jawali dan diperdalam Wilmar bukanlah dua arah yang bertentangan, melainkan dua lapisan yang saling menguatkan. Jawali menyediakan fondasi realitas dan kebutuhan praktis, sementara Wilmar menghadirkan kerangka sistemik dan kedalaman nilai.

Keduanya bertemu pada satu tujuan: membangun kepemimpinan PPTSB yang efektif sekaligus bermartabat.

Lebih dari itu, gagasan ini menegaskan bahwa organisasi kekerabatan seperti PPTSB memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kekuatan sosial yang signifikan. Ketika nilai dijadikan dasar, sistem ditata dengan benar, dan kepemimpinan dijalankan dengan integritas, maka organisasi tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif yang hidup.

Dalam konteks global, fenomena ini bukan hal baru. John Naisbitt pernah menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa di Amerika Serikat bertumbuh dari kekuatan nilai, jaringan, dan konsistensi. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga memberi pengaruh nyata dalam berbagai bidang kehidupan.

Analogi ini memberi pelajaran penting: komunitas yang memiliki nilai hidup, sistem yang tertata, dan kepemimpinan yang kuat, pada akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman.

Bagi marga Sinaga melalui PPTSB, peluang itu terbuka lebar. Dengan penataan kepemimpinan yang tepat, pengelolaan organisasi yang berkelanjutan, dan komitmen untuk menghidupi nilai dalam setiap tindakan, PPTSB dapat berkembang menjadi kekuatan sosial, ekonomi, dan intelektual yang diperhitungkan.

Namun pada akhirnya, pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah semua ini akan berhenti sebagai wacana, atau benar-benar dijalankan?.

Sebab, yang menentukan bukanlah seberapa baik gagasan ini dirumuskan, melainkan seberapa setia ia dihidupi. *

( Penulis, Jawali Sinaga tinggal di Jakarta dan Wilmar Sinaga di Samosir)

×
Berita Terbaru Update