![]() |
| Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang |
Samosir, Internationalmedia.id.- Kearifan lokal Batak dinilai tetap relevan dan bahkan semakin penting dalam membentuk kepemimpinan masa kini di tengah dinamika era postmodern.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang dalam wawancara khusus dengan Internationalmedia.id. hari ini/
Menurut Dr. Wilmar, yang juga Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia, pola pemilihan pemimpin di komunitas Batak saat ini masih kerap dipengaruhi faktor kedekatan, senioritas, dan garis keturunan.
Padahal, kata dia, kepemimpinan sejati tidak diwariskan secara otomatis, melainkan dibentuk melalui kualitas pribadi, kebijaksanaan, serta tanggung jawab sosial.
“Dalam budaya Batak Toba, pemimpin ideal itu adalah raja urat ni uhum, na mora ihot ni hosa, yakni sumber hukum dan kebenaran. Ia harus memahami aturan, menegakkan keadilan, serta memiliki integritas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan kepercayaan yang dibangun melalui karakter. Seorang pemimpin juga harus mampu bersikap seimbang, tegas dalam menghadapi persoalan, namun tetap menjaga persatuan.
“Prinsip monang maralohon musu, talu maralohon dongan mengajarkan bahwa pemimpin harus mampu menyelesaikan konflik tanpa merusak harmoni,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Wilmar menjelaskan bahwa kearifan Batak juga menekankan pentingnya visi dan kapasitas. Seorang pemimpin dituntut memiliki pandangan jauh ke depan serta kemampuan mengarahkan masa depan organisasi.
“Nilai seperti raja si horus na lobi, sitambai na longa menunjukkan pentingnya visi. Sementara raja parbahul-bahul na bolon menekankan kemampuan menyatukan, dan partataring so ra mintop menegaskan keteguhan pendirian,” jelasnya.
Namun demikian, ketegasan tersebut harus diimbangi dengan kehati-hatian dan ketahanan dalam menghadapi tantangan. Ia juga menyoroti pentingnya kerendahan hati dalam kepemimpinan.
“Pemimpin itu bukan untuk dilayani, tetapi melayani. Ini tercermin dalam nilai siduduk na ginjang, sibalun na bolak,” katanya.
Dalam praktiknya, lanjut Dr. Wilmar, pemimpin Batak ideal juga harus memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan, mampu melihat persoalan dari berbagai sudut, menjadi pelindung, pemberi arah, sekaligus penyelesai masalah.
“Pemimpin harus menjadi rujukan, mampu menenangkan konflik, memiliki wibawa moral, jujur, sederhana, dan peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan dalam konteks adat atau komunitas marga, tetapi juga dalam pemerintahan, dunia usaha, dan organisasi modern.
Di era digital dan postmodern saat ini, menurutnya, pemimpin yang mengabaikan kearifan lokal justru berisiko kehilangan arah, moral, dan kepercayaan publik.
“Sebaliknya, pemimpin yang berakar pada nilai lokal akan mampu menjaga keberlanjutan organisasi, dari proses hingga hasil akhirnya,” tegasnya.
Dr. Wilmar juga mengingatkan agar dalam memilih pemimpin, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan popularitas atau kedekatan, tetapi harus melihat integritas, kapasitas, dan karakter.
“Pemimpin yang berakar pada kearifan lokal Batak bukan hanya memimpin, tetapi menjaga nilai, arah, dan jati diri organisasi di tengah perubahan dunia yang cepat,” pungkasnya. *
.jpg)