Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Parsadaan Menuju Peradaban

Senin, 27 April 2026 | 08:40 WIB Last Updated 2026-04-27T01:40:28Z

Oleh: Wilmar E.Simandjorang Sinaga
           Anggota Dewan Pakar PPTSB


Sejarah tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari keberanian manusia untuk bertahan, dari pengorbanan yang tidak selalu tercatat, dan dari kesadaran kolektif yang dibangun di tengah keterbatasan zaman. 

Dalam perspektif sejarah, PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru) bukan sekadar organisasi genealogis, melainkan perjalanan panjang manusia Batak dalam merumuskan persaudaraan sebagai kekuatan sosial dan kultural lintas generasi.

Pada dekade 1930-an, arus perantauan masyarakat Batak ke berbagai daerah, termasuk Medan, melahirkan realitas baru kehidupan. Di tanah rantau, di tengah tekanan ekonomi dan situasi kolonial, mereka menemukan satu kekuatan yang tidak tergantikan: ikatan kekerabatan. Dari keterbatasan itu tumbuh kesadaran bahwa bertahan hidup tidak mungkin dilakukan sendiri, melainkan harus dalam kebersamaan.

Kesadaran itu menemukan bentuk historisnya pada 15 Desember 1940, ketika di Gedung Cherestelijke Batak School, Medan, berdirilah Parsadaan Pomparan Toga Sinaga (PPTS). Para pendiri seperti Ranatus Sinaga, Djongok Manase Sinaga, Monis Levi Sinaga, Simon Sinaga, Boengaran Sinaga, dan Herman Sinaga, tidak hanya membentuk perkumpulan, tetapi sedang meletakkan fondasi kesadaran kolektif: bahwa identitas harus dijaga melalui organisasi yang hidup dan berkelanjutan.

Pada 2 Januari 1941, PPTS memperoleh pengesahan resmi dari pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui surat No. 8027 Medan yang ditandatangani wg. Van Gelder. Pengakuan ini menandai bahwa sejak awal, PPTSB telah hadir tidak hanya sebagai ikatan sosial, tetapi juga sebagai entitas yang diakui dalam struktur formal zamannya.
Namun yang lebih penting dari aspek legalitas itu adalah visi yang melahirkannya. PPTS sejak awal tidak dibangun hanya sebagai wadah kekerabatan, tetapi sebagai sistem kehidupan. Kehadiran dana suka-duka (Steinfonds), tabungan anggota (Spaarfonds), dan koperasi kebutuhan keluarga (Verbruiks Coöperatie) menunjukkan bahwa para pendiri telah melampaui zamannya. Mereka tidak hanya memikirkan kebersamaan sebagai nilai, tetapi juga keberlanjutan hidup sebagai sistem.

Memasuki periode 1955–1959, lahirlah Punguan Naposo Bulung Toga Sinaga (PNBTS) di Medan sebagai wujud kesadaran regenerasi. Di titik ini terlihat bahwa sebuah organisasi tidak akan bertahan hanya karena sejarahnya, tetapi karena keberanian untuk menyiapkan generasi penerus yang memahami dan melanjutkan nilai-nilainya.

Dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, rumpun Sinaga juga tercatat hadir dalam ruang-ruang pengabdian yang lebih luas. Di antara tokoh-tokoh pendidikan dan pergerakan awal republik, Aidan Sinaga dikenal sebagai pendidik dan sosok yang berkarya dalam dunia pendidikan pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, serta terlibat dalam dinamika sosial-kebangsaan di Kalimantan Selatan. 

Jejak ini menunjukkan bahwa kontribusi intelektual dan pengabdian dari rumpun Sinaga tidak berhenti pada ruang adat, tetapi juga menyatu dalam arus besar pembentukan bangsa Indonesia modern.

Di sisi lain, dalam konteks pengabdian publik yang lebih kontemporer, nama dr. Hadrianus Sinaga diabadikan secara resmi oleh masyarakat Kabupaten Samosir sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusinya dalam pelayanan kemanusiaan. 

Penghormatan tersebut diwujudkan melalui RSUD dr. Hadrianus Sinaga Pangururan dan Jalan Dr. Hadrianus Sinaga di Pangururan. Pengabadiaan ini bukan sekadar penamaan, melainkan bentuk pengakuan bahwa pengabdian seseorang dapat terus hidup melalui institusi yang melayani masyarakat luas.

Dalam perjalanan panjang ini, tampak satu refleksi yang perlahan mengemuka: bahwa dalam setiap fase sejarah, selalu hadir tokoh dan peran yang berbeda. Dengan kata lain, setiap zaman melahirkan tokohnya sendiri, dan setiap tokoh hadir untuk menjawab tantangan zamannya. Di situlah kesinambungan nilai dijaga—bukan oleh satu generasi, tetapi oleh estafet pengabdian lintas waktu.

Tonggak kedewasaan organisasi PPTSB kemudian hadir melalui Musyawarah Besar I pada 21–22 September 1966. Sejak saat itu hingga kini, perjalanan terus berlanjut hingga persiapan MUBES XVI pada Oktober 2026. Rentang ini bukan sekadar urutan waktu, melainkan bukti ketahanan nilai dan kesinambungan kesadaran lintas generasi.

Dalam perjalanannya, PPTSB juga membangun simbol dan ruang peradaban. Peresmian Tugu Parsadaan Toga Sinaga pada 1970 dengan lambang timbangan menjadi simbol keadilan dan keseimbangan. 

Lebih jauh, berkembang pula kawasan budaya di Urat Palipi, mulai dari tugu, rumah parsantian, gedung serbaguna, open stage budaya, hingga porlak etnobotani Batak dan panorama lanskap Bukit Barisan. Semua ini menandai transformasi dari organisasi genealogis menjadi ekosistem budaya yang hidup.

Namun dalam perspektif kontemporer, muncul satu refleksi penting: besarnya jaringan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya dampak. PPTSB hari ini memiliki sumber daya manusia yang tersebar di berbagai sektor kehidupan, namun tantangan utama bukan pada jumlah, melainkan pada kemampuan mengintegrasikan potensi menjadi kekuatan kolektif yang terarah.

Di sinilah terjadi pergeseran penting: dari organisasi berbasis aktivitas menjadi organisasi berbasis misi. Dari sekadar jaringan menjadi orkestrasi kekuatan manusia. Dari simbol menjadi dampak nyata bagi komunitas dan masyarakat luas.

Generasi muda membawa inovasi, sementara generasi senior membawa pengalaman dan kebijaksanaan. Ketika keduanya bertemu dalam ruang yang terstruktur dan saling menguatkan, maka lahirlah energi peradaban yang tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga menciptakan masa depan.

Pada akhirnya, sejarah PPTSB mengajarkan satu hal yang paling mendasar: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada besar kecilnya organisasi, tetapi pada manusia yang menghidupinya. Warisan tidak akan bermakna jika tidak diolah menjadi energi perubahan.

Maka dari Parsadaan menuju peradaban, PPTSB berdiri bukan hanya sebagai penjaga masa lalu, tetapi sebagai pelanjut masa depan. Sejarahnya terus bergerak—dari para pendiri, kepada generasi hari ini, dan kepada generasi yang akan datang.

Sebab sejarah tidak pernah selesai. Ia hanya berpindah tangan, dan setiap tangan baru membawa satu tanggung jawab yang sama: menjaga, menghidupkan, dan memberi makna agar api peradaban tidak pernah padam.*

×
Berita Terbaru Update