Notification

×

Iklan

Iklan

Dari MoU ke Aksi Nyata di Tapak Geosite

Selasa, 14 April 2026 | 06:00 WIB Last Updated 2026-04-13T23:00:00Z

Oleh: Wilmar E. Simandjorang
Ketua Pusat Studi Geork Indonesia (PS_GI)


Ada kecenderungan yang berulang dalam banyak kerja sama pembangunan: kita merasa pekerjaan selesai ketika dokumen sudah ditandatangani. Padahal justru di titik itulah pekerjaan yang sebenarnya dimulai. 

MoU antara Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB) adalah langkah penting. Namun pengalaman menunjukkan, tantangan utamanya bukan pada isi kesepakatan, melainkan pada keberanian menurunkannya ke lapangan. Kita terlalu lama hidup dalam jargon geopark: besar di narasi, tetapi lemah di aksi. Padahal geopark bukan dokumen. 

Geopark adalah praktik hidup. Jika tidak segera diwujudkan, MoU ini hanya akan menjadi arsip administratif, sementara Danau Toba terus menghadapi tekanan nyata.

Kunci dari MoU ini adalah membangun satu sistem yang utuh, bukan kegiatan yang terpisah. Sistem itu menghubungkan Gedung TOSIN di Medan dan kawasan Tugu Toga Sinaga di Urat Palipi, Samosir. Alurnya jelas dan harus dirasakan: belajar → memahami → mengalami.

TOSIN Medan tidak boleh berhenti sebagai ruang penyelenggaraan pesta adat dan seminar. Ia harus dioptimalkan fungsinya, antara lain menjadi gerbang edukasi geopark yang hidup dan berkelanjutan. 

Aula yang ada perlu diaktifkan secara rutin: seminar, lokakarya, pelatihan pemandu wisata, dan diskusi ilmiah tentang geologi, ekologi, dan budaya Danau Toba. Lebih jauh, TOSIN dapat difungsinkan  menjadi pusat museum digital geopark yang memuat sejarah geologi Danau Toba sebagai supervolcano, budaya Batak termasuk marga Sinaga, ritual, musik, cerita rakyat, arsip visual dan video, serta peta interaktif geosite. 

Yang lebih penting, TOSIN menjadi titik awal pembelajaran bagi pelajar dari berbagai lapisan bumi. Sebelum datang ke Danau Toba, pelajar dari Indonesia, bahkan mahasiswa dari Malaysia dan Singapura, terlebih dahulu belajar di Medan. Mereka datang bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai pembelajar yang sudah memahami konteks.

Dalam konteks ini, PPTSB memiliki peran strategis yang jauh melampaui sekadar organisasi kekerabatan. PPTSB adalah simpul sosial-budaya yang hidup, dengan jejaring anggota lintas daerah, lintas profesi, dan lintas generasi. Perannya bukan hanya sebagai mitra formal, tetapi sebagai motor penggerak sosial budaya di tingkat komunitas. 

PPTSB dapat menjadi jembatan antara ruang pengetahuan di TOSIN Medan dan ruang hidup di Samosir, memastikan bahwa nilai geopark tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar masuk ke kehidupan masyarakat. 

Lebih dari itu, PPTSB dapat menjadi ruang kaderisasi generasi muda untuk terlibat dalam edukasi geopark, dokumentasi budaya, penguatan UMKM, hingga pemanduan wisata berbasis komunitas. Di titik ini, PPTSB bukan sekadar penerima manfaat, tetapi pelaku utama transformasi sosial berbasis geopark.

Tahap berikutnya adalah kawasan Tugu Toga Sinaga di Urat Palipi, Samosir. Di sini geopark harus menjadi pengalaman nyata. Rumah Bolon, Gedung Mardame Sinaga, open stage, dan taman endemik sudah tersedia sebagai modal yang tidak boleh dibiarkan pasif. 

Rumah Bolon dapat dikembangkan menjadi museum tematik geopark berbasis budaya Sinaga, Gedung Mardame Sinaga menjadi pusat seminar dan pelatihan, open stage menjadi ruang ekspresi budaya, dan taman menjadi laboratorium ekologi terbuka serta perkemahan. 

Ruang parkir di kawasan ini sudah tersedia dengan baik dan strategis, demikian pula di TOSIN Medan, sehingga hambatan dasar pengembangan tidak lagi menjadi persoalan utama.

Kekuatan kawasan ini juga terletak pada lanskapnya. Pemandangan Bukit Barisan  di hadapannya menghadirkan sejarah geologi yang panjang, sementara Danau Toba menjadi pusat geopark yang tidak tergantikan. 

Di hilir kawasan Tugu Toga Sinaga terdapat pantai yang indah, tenang, dan sangat menarik. Pantai ini bukan sekadar pemandangan, tetapi ruang transisi alami antara budaya, daratan, dan perairan. Di sinilah geopark menjadi pengalaman utuh: bukan hanya dilihat, tetapi dirasakan.

Tidak ada geopark tanpa pemuda. Kawasan ini harus menjadi ruang tumbuh generasi muda sebagai pemandu wisata, kreator konten, dokumentator budaya, relawan konservasi, dan penggerak edukasi. Tanpa pemuda, geopark menjadi statis; dengan pemuda, geopark menjadi gerakan.

Jika dirangkum, sistem ini sederhana tetapi utuh: TOSIN Medan sebagai pintu masuk pengetahuan, Urat Palipi (Tugu Toga Sinaga) sebagai ruang pengalaman, dan Geosite Danau Toba sebagai ruang praktik lapangan. Alurnya tegas: belajar di Medan → memahami → turun ke Samosir → mengalami geopark. Ini juga menjadi ruang belajar bagi pelajar dari berbagai daerah sebelum mereka masuk ke kawasan Danau Toba.

Kita tidak kekurangan konsep. Kita tidak kekurangan fasilitas. Yang kurang adalah keberanian untuk menghubungkan semuanya menjadi sistem yang hidup. TOSIN sudah siap, Urat Palipi sudah siap, museum digital sangat mungkin dibangun, PPTSB siap memainkan peran strategis sebagai penggerak sosial budaya, pemuda siap bergerak, dan pelajar dari berbagai lapisan bumi siap belajar.

MoU ini hanya akan bermakna jika berubah dari dokumen menjadi aksi nyata. Sebab pada akhirnya, kita tidak dinilai dari apa yang kita tulis, tetapi dari apa yang benar-benar kita hidupkan di lapangan. Dan masa depan Danau Toba tidak ditentukan oleh MoU—melainkan oleh sistem pembelajaran dan aksi nyata yang kita bangun bersama.

×
Berita Terbaru Update