Anggota Dewan Pakar PPTSB
Ada satu hal yang perlahan saya sadari dalam perjalanan hidup: “aku” tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Saya lahir membawa nama: Sinaga. Awalnya, ia hanya terdengar sebagai penanda—sesuatu yang melekat tanpa banyak pertanyaan. Namun, seiring waktu, saya mulai memahami bahwa nama itu bukan sekadar identitas, melainkan pintu masuk menuju dunia yang lebih besar dari diri saya sendiri.
Komunitas Sinaga bukan hanya tempat saya berasal, tetapi juga ruang di mana saya belajar memahami siapa saya di tengah orang lain.
Ada momen-momen ketika saya berada di tengah komunitas itu—duduk, mendengarkan percakapan orang-orang tua, melihat cara mereka saling menyapa, saling mengingatkan, dan saling menguatkan.
Di saat-saat seperti itu, ada sesuatu dalam diri saya yang menjadi lebih tenang.
Bukan karena semuanya sempurna, melainkan karena hadirnya rasa keterhubungan yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah saya berada di ruang di mana nama saya tidak hanya disebut, tetapi diakui sebagai bagian dari sesuatu yang telah ada jauh sebelum saya hadir.
Di titik itu, “pulang” tidak lagi selalu berarti tempat. Ia menjadi keadaan batin—rasa berada di dalam sesuatu yang mengenali kita, bahkan sebelum kita sepenuhnya mengenali diri sendiri.
Belajar Menjadi “Aku” di Tengah “Kita”
Di komunitas itu saya belajar satu hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan di ruang formal: bahwa menjadi diri sendiri tidak berarti berdiri sendiri.
Saya melihat bagaimana orang-orang Sinaga hidup bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari cerita yang lebih panjang—cerita yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas kebersamaan.
Kadang muncul pertanyaan sederhana dalam diri saya: siapa saya tanpa semua ini?
Namun, pertanyaan itu tidak menakutkan. Justru di dalamnya saya menemukan arah.
Karena di tengah kebersamaan itu saya mulai memahami bahwa “aku” bukan sesuatu yang terpisah dari orang lain, melainkan sesuatu yang tumbuh di dalam relasi—dibentuk, diuji, dan diperkaya oleh keberadaan orang lain.
Waktu yang Tidak Berjalan Sendiri
Dalam pertemuan keluarga, percakapan ringan, atau cerita-cerita lama yang terus diulang, saya sering merasakan sesuatu yang menarik: waktu tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Masa lalu hadir kembali dalam cerita. Masa kini menjadi ruang pertemuan dan Masa depan diam-diam ikut dibicarakan.
Di titik itu, saya mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang “saya sekarang”, tetapi tentang bagaimana saya menjadi bagian dari aliran waktu yang lebih besar dari diri saya sendiri.
Dan komunitas Sinaga adalah salah satu ruang di mana aliran itu terasa nyata—bukan sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.
“Aku Sinaga, tetapi Sinaga Bukan Aku”
Kalimat itu lama-lama tidak lagi sekadar konsep, melainkan kesadaran yang dijalani. Saya memang Sinaga—dalam nama, dalam akar, dalam sejarah. Namun, saya juga bukan hanya itu.
Ada pikiran saya sendiri, perjalanan saya sendiri, serta luka dan harapan yang tidak selalu identik dengan orang lain dalam marga yang sama.
Di situlah keseimbangannya terbentuk: saya tidak hilang di dalam komunitas, tetapi juga tidak pernah benar-benar terpisah darinya. Identitas bukanlah penjara, tetapi jembatan—yang menghubungkan diri dengan sesuatu yang lebih luas tanpa menghapus keunikan pribadi.
Kini saya memahami bahwa komunitas Sinaga bukan hanya tempat yang saya datangi, tetapi sesuatu yang ikut berjalan bersama saya.
Kadang ia hadir sebagai ingatan. Kadang sebagai nilai yang mengingatkan saya agar tidak kehilangan arah. Kadang sebagai rasa bahwa saya tidak benar-benar sendirian dalam perjalanan hidup ini.
Komunitas itu menjadi semacam rumah yang tidak diam—rumah yang hidup, yang terus bergerak di dalam diri, bahkan ketika saya berada jauh secara fisik.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang menjadi seseorang, tetapi tentang terus menjadi seseorang di tengah hubungan dengan banyak hal: waktu, kesadaran, dan komunitas yang membentuk kita.
Saya adalah Sinaga dalam akar saya. Namun, saya juga adalah perjalanan yang terus berjalan—kadang jauh, kadang kembali, kadang mencari, kadang menemukan makna di tempat yang tidak saya duga.
Dan di antara semua itu, saya belajar satu hal sederhana namun dalam: bahwa “aku” tidak pernah benar-benar sendiri, bahkan ketika aku merasa sedang sendiri. *