Notification

×

Iklan

Iklan

Sri Lestari, Pejuang Sosial Purwakarta Hidup di Rumah Tak Layak Huni

Jumat, 06 Maret 2026 | 20:50 WIB Last Updated 2026-03-06T13:50:00Z
Sri Lestari

Purwakarta.Internationalmedia.id.– Di balik sosoknya yang tangguh dalam membantu warga miskin mengakses layanan kesehatan, tersimpan kisah pilu dari Sri Lestari (Bu Tari), seorang tenaga lapangan di Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta.

Meski telah mendedikasikan hidupnya selama sembilan tahun untuk urusan kemanusiaan, "Malaikat" bagi warga kurang mampu ini justru tinggal di rumah tidak layak huni.


Sebagai bagian dari Bidang Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos), Lestari bukan sekadar pegawai administratif. Ia adalah pejuang lapangan yang bekerja 24 jam. Mulai dari mengurus BPJS yang tertunggak, menjemput pasien terlantar, hingga beradu argumen dengan pihak rumah sakit demi memastikan warga tidak mampu mendapatkan layanan gratis.

Keikhlasan Lestari berbanding terbalik dengan kondisi kesejahteraannya. Saat ini, peraih penghargaan Perempuan Inspiratif Bidang Sosial Kemasyarakatan 2021 ini menempati rumah peninggalan orang tuanya yang dulu bekerja di POJ/PJT itu kini dalam kondisi mengkhawatirkan.

Rumah tumpangan Lestari porakporanda diterjang angin dan hujan besar

"Orang tua saya dulu karyawan PT Pesona Optima Jasa/Perum Jasa Tirta Purwakarta. Semua juga yang tinggal di Perum kebanyakan di rumah orang tuanya" ujar wanita kelahiran Purwakarta ini dalam keterangannya lewat pesan Whatsapp, Jumat, (6/3/2026).

Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan struktur bangunan yang signifikan, porakporanda. Atap rumah roboh, mengancam keselamatan saat hujan turun. Dinding lembap dan rapuh yang menciptakan suasana hunian yang tidak sehat. Ini diakibatkan terjangan angin dn hujan yang turun deras.

Dengan keadaan apa adanya, Ibu Tari sekarang masih tinggal di situ, pinjem uang sana sini buat tutup atap sementara.

Meski rumahnya rusak, Lestari tetap menampung seorang lansia berusia 80 tahun dan seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang ditelantarkan keluarganya.

Yang lebih mengejutkan, demi menutupi biaya operasional membantu warga—seperti ongkos bensin ambulans hingga menebus obat—Lestari tidak mengandalkan gaji semata. Ia tak malu melakoni pekerjaan sampingan sebagai buruh cuci pakaian.

"Gaji sering habis untuk membantu warga yang benar-benar tidak punya ongkos ke Bandung atau sekadar makan saat menunggu di RS. Jadi saya kuli nyuci atau beres-beres rumah orang untuk tambah-tambah," tambahnya dengan nada rendah hati.

Kisah Ibu Lestari memantik simpati publik. Banyak pihak menilai sudah sepatutnya Pemerintah Kabupaten Purwakarta maupun instansi terkait memberikan perhatian khusus. Dedikasi Lestari dalam menangani isu stunting, gizi buruk, hingga pendampingan kanker di Purwakarta telah banyak membantu meringankan beban pemerintah daerah.

Kini, nurani publik diuji. Akankah sosok yang telah menjadi "payung" bagi ribuan warga ini dibiarkan terus bertahan di bawah atap yang roboh? Pemberian hunian yang layak bagi Ibu Lestari bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ia tegakkan. (Ir)

×
Berita Terbaru Update