Notification

×

Iklan

Iklan

Merawat Persaudaraan dalam Kepemimpinan Marga

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:52 WIB Last Updated 2026-03-15T06:52:56Z

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan.,M.Si.

Dalam tradisi masyarakat Batak, organisasi marga bukan sekadar wadah administratif. Ia adalah ruang persaudaraan yang lahir dari sejarah panjang kekerabatan, tempat nilai adat, martabat keluarga, dan tanggung jawab moral dipelihara bersama. 

Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalamnya seharusnya dipandang bukan sekadar persoalan organisasi, melainkan persoalan menjaga keutuhan relasi dalam keluarga besar.

Sejak dahulu masyarakat Batak mengenal falsafah Dalihan Na Tolu, yang menempatkan keseimbangan relasi sebagai dasar kehidupan bersama. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap pihak memiliki posisi yang harus saling dihormati, saling menopang, dan saling melayani. 

Di dalamnya terkandung pesan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari keputusan sepihak, melainkan dari kesediaan untuk mendengar dan mempertimbangkan suara bersama.

Dalam praktik adat, persoalan yang menyangkut kepentingan bersama biasanya diselesaikan melalui musyawarah. Para tetua dan pemangku tanggung jawab duduk bersama, berbicara dengan tenang, dan mencari jalan keluar yang menjaga martabat semua pihak. 

Proses seperti ini mungkin tidak selalu cepat, tetapi sering kali justru lebih bijaksana karena mempertimbangkan dimensi relasi yang tidak selalu tertangkap oleh pendekatan formal semata.

Di zaman modern, tidak jarang muncul kecenderungan untuk terlalu mengandalkan pendekatan formalistik dalam menyelesaikan persoalan organisasi. Segala sesuatu diukur dari aturan tertulis, prosedur, dan kewenangan jabatan. Pendekatan seperti ini tentu memiliki tempatnya. 

Namun pengalaman dalam banyak bidang, termasuk dalam praktik diplomasi, menunjukkan bahwa persoalan yang sensitif sering kali justru lebih efektif diselesaikan melalui komunikasi informal, dialog yang terbuka, serta kesediaan untuk saling memahami.

Pendekatan yang terlalu menonjolkan disiplin formal tanpa disertai kebijaksanaan relasi kadang berisiko mengabaikan dimensi kemanusiaan yang menjadi inti dari kehidupan bersama. Dalam organisasi yang berakar pada persaudaraan seperti marga Batak, keseimbangan antara aturan dan kearifan menjadi sangat penting.

Karena itu, kepemimpinan dalam persekutuan marga sesungguhnya menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar kewenangan administratif. Ia menuntut keteladanan, kerendahan hati, dan kemampuan merawat persatuan. Pemimpin bukan hanya penjaga struktur organisasi, tetapi juga penjaga harmoni keluarga besar.

Dalam perspektif iman Kristen, kepemimpinan selalu dipahami sebagai panggilan untuk melayani. Teladan Yesus Kristus menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang menegaskan kuasa atas orang lain, melainkan mereka yang merendahkan diri demi membangun dan memulihkan relasi.

Alkitab juga memberikan refleksi melalui kisah para raja Israel. King Josiah dikenang karena keberaniannya mengembalikan kehidupan bangsa kepada firman Tuhan. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak lahir dari kekuasaan semata, tetapi dari kesetiaan kepada nilai yang benar. Sementara King David memperlihatkan bahwa kebesaran seorang pemimpin juga terletak pada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Pelajaran dari kisah-kisah ini sederhana tetapi mendalam: kekuatan kepemimpinan tidak selalu diukur dari ketegasan keputusan, melainkan dari kebesaran hati dalam menjaga persatuan.

Di tengah perkembangan teknologi komunikasi, termasuk penggunaan berbagai media percakapan digital dalam organisasi, kebijaksanaan yang sama tetap diperlukan. Sarana komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang mempererat koordinasi dan kebersamaan, bukan ruang yang tanpa disadari justru menciptakan jarak di antara sesama.

Karena itu, setiap dinamika organisasi—baik yang berkaitan dengan pengelolaan kepengurusan maupun komunikasi internal—akan lebih bijaksana bila ditempuh dengan semangat keterbukaan, musyawarah, dan saling menghargai peran masing-masing.

Pada akhirnya, kepemimpinan dalam persekutuan marga Batak bukanlah soal siapa yang paling kuat menegakkan kewenangan, melainkan siapa yang paling mampu merawat persaudaraan. Sebab dalam komunitas yang dibangun di atas ikatan kekerabatan, persatuan selalu lebih berharga daripada kemenangan dalam perbedaan.

Kiranya nilai-nilai luhur budaya Batak dan terang firman Tuhan terus menjadi penuntun bagi kita semua untuk menjaga kebersamaan, sehingga organisasi marga tetap menjadi rumah yang rukun, teduh, dan bermartabat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

(Penulis, adalah: Bupati Pertama di Samosir)

×
Berita Terbaru Update