![]() | |
| Menekraf Teuku Rifky Harsja dan Natalia Kusumo saat membuka selubung Galery |
Galeri ini dihadirkan sebagai ruang edukasi dan interaksi publik yang merekam perjalanan sejarah, ketangguhan, serta kontribusi masyarakat Tionghoa sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa nilai budaya tidak hanya menggambarkan warisan masa lalu, tetapi juga menjadi modal strategis pembangunan ekonomi kreatif.
“Budaya adalah modal masa depan. Sejarah, seni, tradisi, dan cerita hidup yang diolah secara kreatif mampu melahirkan nilai tambah ekonomi, membuka ruang inovasi, serta memperkuat daya saing pegiat kreatif,” ujar Teuku Riefky.
![]() |
| Prof. Dr. Lilawati Kurnia menjelaskan replika masakan Indonesia yang akulturasi dengan budaya Tiongkok |
Galeri Budaya Tionghoa Indonesia menampilkan ruang-ruang tematik yang menggambarkan dinamika komunitas Tionghoa, mulai dari proses kedatangan, pengalaman lintas generasi, hingga praktik akulturasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.
Pendekatan kuratorial tersebut memperkuat pesan kebersamaan sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap keberagaman.
Menteri Ekraf menambahkan bahwa galeri budaya memiliki peran strategis sebagai simpul penting dalam membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
“Nilai akulturasi, kebersamaan, dan keberagaman yang ditampilkan di ruang seperti ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan bangsa sekaligus memperkaya industri kreatif,” lanjutnya.
Kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia juga membuka peluang kolaborasi lintas komunitas, pendidikan, dan industri kreatif, sekaligus mendorong lahirnya produk kreatif berbasis narasi budaya, desain, seni pertunjukan, hingga konten edukatif. Galeri ini diharapkan menjadi platform dialog antargenerasi yang relevan dengan konteks kekinian.
CEO of Amantara Agung Sedayu Group Natalia Kusumo mengatakan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir sebagai ruang edukasi sejarah yang ditampilkan secara inovatif, sehingga informasi mudah dipahami.
"Di dalam ada animasi, ada foto-foto, ada bacaan-bacaan dan juga experience yang paling penting merasakan suasana ketika leluhur dari warga Indonesia yang berasal dari Tionghoa," ujarnya.
Galeri Budaya Tionghoa Indonesia ini menyajikan kisah komunitas Tionghoa di Nusantara dan menjadi ruang budaya yang menampilkan memori kolektif serta warisan yang tetap hidup dan terjaga.
“Galeri Budaya Tionghoa Indonesia adalah ruang hidup yang mengajak pengunjung untuk merasakan sejarah, memahami tradisi, dan melihat bagaimana akulturasi budaya membentuk identitas bangsa kita. Galeri ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi, ruang komunitas bertumbuh, dan inspirasi kreatif bagi semua pengunjung,” pungkas Natalia Kusumo.
Kementerian Ekraf mendorong pemanfaatan ruang budaya sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai subsektor kreatif berbasis kekayaan intelektual, pengalaman pengunjung, serta inovasi kuratorial. Integrasi antara budaya dan kreativitas diyakini mampu memperluas pasar, meningkatkan kualitas karya, serta memperkuat identitas nasional di tingkat global. (RBS)

