![]() |
| Cristian Viery Pagliuca |
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dengan tegas menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin memburuknya kondisi politik internasional yang ditandai oleh meningkatnya konflik bersenjata, rivalitas geopolitik antar negara adidaya, serta eskalasi ketegangan militer di berbagai kawasan dunia.
Situasi ini membuka kemungkinan nyata terjadinya Perang Dunia III, yang akan membawa penderitaan luas bagi umat manusia, khususnya negara-negara berkembang.
Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Cristian
Viery Pagliuca dalam keterangan tertulis yang disampaikan petang ini, menilai bahwa konflik-konflik global hari ini bukanlah konflik
ideologis demi kemanusiaan, melainkan konflik yang berakar pada imperialisme
modern, perebutan sumber daya alam, dominasi ekonomi-politik, serta kepentingan
kapitalisme global.
Negara-negara kuat menggunakan perang, sanksi ekonomi,
dan intervensi politik sebagai instrumen untuk mempertahankan hegemoninya,
sementara rakyat dunia menjadi korban utama.
Bisa kita amati dengan yang belakangan terjadi,
perebutan wilayah Rusia - Ukraina, penguasaan sumber daya alam Venezuela oleh
Amerika Serikat dengan dalih penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro,
ketegangan Amerika Serikat dengan Denmark, perseteruan wilayah antara Thailand
- Kamboja serta konflik di belahan dunia lain menunjukan pola yang sama.
GMNI, menilai keputusan Indonesia menyatakan
keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Trump, ini harusnya
mendorong kembali Indonesia berperan strategis sebagai pelopor Gerakan Non-Blok
dan menjembatani perdamaian dunia.
Jika dunia dipaksa memilih kubu, maka Indonesia harus
memilih kedaulatan. Jika ‘perdamaian’ dijadikan alat dominasi, maka melawannya
adalah sikap politik yang sah.
Oleh sebab itu GMNI mendesak:
1. Pemerintah Indonesia untuk tetap konsisten
menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, tidak terseret dalam blok
kekuatan mana pun, serta berani bersuara lantang dalam menentang perang dan
agresi militer di forum internasional.
2. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak tunduk
pada kepentingan negara-negara besar dan kembali pada mandat utamanya sebagai
penjaga perdamaian dunia.
3. Solidaritas internasional rakyat dunia, khususnya
gerakan mahasiswa dan kaum tertindas, untuk melawan perang, imperialisme, dan
segala bentuk eksploitasi global.
GMNI percaya bahwa perdamaian dunia hanya dapat
terwujud melalui keadilan sosial, kedaulatan bangsa-bangsa, serta penghormatan
terhadap hak menentukan nasib sendiri. Sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945
dan semangat Dasasila Bandung, GMNI menyerukan:
Hentikan perang! Lawan
imperialisme! Bangun dunia yang adil, damai, dan berperikemanusiaan.
“Perdamaian bukan hadiah dari negara kuat, melainkan
hak seluruh umat manusia.”(rel)
