Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenekraf Apresiasi Acaraki Jamu Festival 2025

Senin, 17 November 2025 | 06:48 WIB Last Updated 2025-11-16T23:49:27Z
Wamen Ekraf, Irene Umar, bersama peserta Acaraki Jamu Festival edisi Hari Pahlawan di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua, Jakarta,(Minggu, 16/11).


Jakarta.Internationalmedia.id-Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengapresiasi acara Acaraki Jamu Festival 2025 edisi Hari Pahlawan, yang berlangsung di Taman Fatahillah, Kawasan Kota tua, Jakarta Utara, Minggu, (16/11). 

Apresiasi ini sebagai bentuk komitment Kemenekraf terhadap produk-produk lokal yang memiliki nilai ekonomi kreatif tinggi termasuk jamu. 

“Kementerian Ekraf melihat jamu sebagai akar budaya Indonesia yang punya unique selling point(nilai jual yang unik). Kami mengapresiasi Acaraki Jamu Festival untuk menjadikan jamu sebagai salah satu ikon dari Indonesia yang memiliki taste dan khasiat yang bisa dirasakan masyarakat. Apalagi jamu merupakan bagian dari subsektor ekonomi kreatif kuliner,” ucap Wamen Ekraf, Irene.
 
Sebelumnya, Wamen Ekraf Irene juga pernah hadir pada Acaraki Jamu Festival 27 Juli 2025 di Epiwalk. Dia meyakini bahwa festival ini tidak hanya sekadar melestarikan budaya dan menyosialisasikan tradisi minum jamu, tetapi membawa semangat kreativitas melalui wahana permainan tradisional, serta aksara nusantara yang juga bisa menjadi sumber inspirasi akan kreativitas ke depan.

Wamen Ekraf (4 kanan), Jony Yuwono (3 Kanan) dan Walikota Uus Kuswanto(3 kiri) saat prosesi minum jamu bersama

“Kami juga terus membantu menyebarkan budaya Indonesia lewat bahasa dan aksara. Ini memperlihatkan diplomasi kebudayaan Indonesia sebagai richness of Indonesian Culture yang produk turunannya banyak sekali. Di festival ini juga ada desain fesyen yang terinspirasi dengan penampilan ibu-ibu jamu gendong. Semua ini digunakan untuk mengakselerasi perkenalan budaya Indonesia ke kancah internasional,” tambahnya.

Acaraki Jamu Festival, dalam setahun dilakukan 5 kali dengan berbagai variasi. Dan acara ini diselenggarakan dilandasi filosofi menjamu bukan sekadar menyuguhkan minuman, tetapi juga tentang menyambut, merawat, dan menjaga budaya yang berharga. 

Founder Acaraki, Jony Yuwono, menilai festival ini mampu mengangkat nilai-nilai tradisi ke panggung publik dengan cara relevan untuk generasi masa kini.

Kami mempunyai gagasan yang mana Acaraki Jamu Festival bukan hanya menampilkan jamu, tapi ingin coba untuk menjamu teman-teman sekalian. Harapannya, melalui festival jamu ini bisa menjadi perpaduan antara sejarah, seni, budaya, dan kreativitas. 

Tujuan festival ini supaya bisa menginspirasi pejuang-pejuang ekraf ke depan dengan kolaborasi bersama untuk menjamu satu sama lain,” ungkap Jony Yuwono yang juga menjabat Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia.

Menurut Jony, Jamu yang tak lekang zaman bisa dikembangkan sehingga bermanfaat dan tidak tertinggal oleh waktu. Jamu menjadi produk tradisional dari leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Acaraki Jamu Festival pun menyoroti jamu sebagai daya tarik khas Indonesia, dengan upaya memodernisasi persepsi dan memperluas jangkauan secara internasional.

Apresiasi juga disampaikan Wali Kota Jakarta Barat,  Uus Kuswanto : Terima kasih kepada seluruh pejuang ekonomi kreatif terutama para pengusaha atau penjual jamu yang menggagas Acaraki Jamu Festival. 

Harapannya, kegiatan ini bisa mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berbasis budaya sehingga tak hanya sebatas slogan ataupun cerita. Semoga kita bisa terus berkolaborasi menggali budaya-budaya yang ada di Jakarta untuk bisa dinikmati dan dirasakan oleh semua. 

Mari kita lestarikan budaya yang kita cintai, diantaranya yaitu minum jamu,” ucap Uus Kuswanto. 
Sebagai bagian dari acara pelestarian tradisi minum jamu, rangkaian Acaraki Jamu Festival dimulai dengan kegiatan funwalk 2,5 km yang menggendong bakul jamu dan prosesi naik kereta kencana. 

Upacara pembukaan juga berlangsung meriah lewat simbolis mengetuk alu pada wadah yang berisi rempah, pemberian apresiasi kepada pahlawan masa kini seperti perwakilan dari komunitas laskar jamu gendong, komunitas pekerja seni Kota Tua, komunitas ojek online, dan komunitas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), dilanjutkan dengan launching lagu ‘Shadow of the Light’ versi Bahasa Indonesia.

Para pengunjung yang hadir dalam Acaraki Jamu Festival juga bisa menikmati free flow jamu tradisional, aktivasi booth sponsor, qerik (pijat gratis), area estafet permainan nusantara, lomba mewarnai di kids corner by Simbalion, menulis testimoni pada papan petisi aksara nusantara, serta berkesempatan meraih doorprize maupun grandprize. 

Inilah wujud menjaga warisan budaya yang berkelanjutan dalam mewujudkan momentum ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. (RBS)

×
Berita Terbaru Update