Notification

×

Iklan

Iklan

Kadisdik Jabar: SMKN 9 Bandung jadi Sekolah Piloting Penerapan Kurikilum Darurat Indonesia

Senin, 31 Agustus 2020 | 15:16 WIB Last Updated 2020-08-31T08:16:34Z
Kadisdik Jabar

Bandung.Internationalmedia,id.-Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Dedi Supandi menegaskan, SMKN 9 Bandung telah menjadi sekolah model untuk peluncuran kolaborasi kurikulum darurat di Indonesia.

Pihak kementerian yang diwakili direktur jenderal bidang vokasi pun rencananya akan meninjau langsung.

Dikatakan, Kadisdik pun sepakat, adanya kurikulum tersebut akan meringankan beban tugas siswa. Sebab, kurikulum ini akan lebih mengedepankan pendidikan karakter. "Sehingga, ke depan, keseharian siswa di rumah jadi laporan sederhana tentang kebiasaan-kebiasaan mereka di rumah.

Selain modul kurikulum darurat, SMKN 9 Bandung pun meluncurkan lima program lainnya. Yakni, peluncuran monitoring kesiapan AKB, aplikasi PKL, sekolah pencetak kewirausahaan, produk teaching factory, dan peluncuran kembali restoran Edotel.

Peluncuran Modul
Selain Bunda Literasi dan Kadisdik Jabar, acara ini juga dihadiri Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (PMSK) Disdik Jabar, Deden Saeful Hidayat, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Endang Susilastuti.

Kegiatan pun dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan dan penyebaran Covid-19 secara ketat

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 9 Bandung meluncurkan "Modul Kolaborasi Kurikulum Darurat di Era Adaptasi Kebiasaan Baru" di Aula SMKN 9 Bandung, Jln. Soekarno-Hatta No. 10, Kota Bandung, Senin (31/8/2020).

Peluncuran tersebut menjadikan SMKN 9 Bandung sebagai sekolah piloting penerapan kurikulum darurat di Indonesia.

Kepala SMKN 9 Bandung, Anne Sukmawati menjelaskan, salah satu poin penting dalam modul tersebut adalah diterapkannya integrasi antarmata pelajaran. Sehingga, siswa lebih produktif dan tidak terbebani tugas di setiap mata pelajaran. "Jadi, nanti orang tua di rumah tidak akan mengeluh tentang tugas siswa karena kurikulum ini berbasis produksi," jelasnya.

Anne menambahkan, setiap kompetensi keahlian siswa nantinya akan menghasilkan produk. Misalnya, kompetensi keahlian tata busana. Dalam waktu beberapa pertemuan, tugas yang diberikan kepada siswa adalah membuat suatu produk, bukan terpaku pada tugas akademis saja,katanya.(Lys).

×
Berita Terbaru Update