Notification

×

Iklan

Iklan

30 tahun lalu ditemukan ditempat sampah, kini Menjadi Pengusaha Sukses

Senin, 27 Juli 2020 | 15:50 WIB Last Updated 2020-07-27T11:08:42Z
Pendiri Figgers Communication, Freddie Figgers.
Jakarta.Internationalmedia.id.- Tidak seorang pun menyangka, bayi kecil yang dibuang orang tuanya ke tempat sampah kini menjadi miliarder dan pengusaha sukses. Perih kehidupan di masa kecil memotivasinya untuk bangkit dan meraih hasil terbaik.

Setidaknya hal tersebut dialami pendiri Figgers Communication, Freddie Figgers. Figgers Communication merupakan perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat (AS) dan produsen telepon seluler yang berbasis di Florida.

Ini menyediakan seluler, broadband seluler, telepon rumah, dan layanan panggilan internasional.

Freddie mengaku pernah dibuang ke tempat sampah saat masih bayi. Peristiwa tersebut membuatnya dijuluki sebagai 'bayi sampah' oleh teman-temannya saat di sekolah.

Dilansir dari Washington Post, Senin (27/7/2020), Figgers lahir pada tahun 1989. Tak lama setelah kelahirannya, Figgers dibuang ke tempat sampah di daerah pedesaan di Florida.

Seorang warga yang melintas menemukan Figgers kecil dan memanggil polisi untuk mendapat bantuan. Saat ditemukan, Figgers yang masih bayi itu mengalami beberapa luka ringan sehingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.

Figgers pun kemudian dibawa ke panti asuhan. Tak lama hidup di panti asuhan, pasangan yang menemukan Freddie, yakni Nathan dan Betty Figgers, tinggal di dekat Quincy, Florida, kemudian mengadopsinya. Meski saat itu mereka sudah memiliki seorang putri.

Ia kemudian bersekolah di sebuah sekolah dasar. Di sekolah itu, Freddie Figgers mendapat perundungan. Teman-temannya menjulukinya "bayi sampah" usai mengetahui bahwa Figgers pernah ditemukan di tempat sampah.

Ini adalah daerah pedesaan. Jadi setelah itu terjadi, semua orang mendengarnya,” kata Figgers yang sekarang berusia 30 tahun.

Saat orang tua asuhnya mengatakan kondisi Figgers kepada orang-orang, ia mengaku merasa malu saat itu. Namun ketika menginjak usia 9 tahun, ia mengalami titik balik dalam hidupnya.

Ayahnya membelikan sebuah komputer Macintosh 1989 rusak di sebuah toko barang bekas seharga 25 dolar AS (sekitar Rp 350 ribu).

Kini, komputer pertamanya itu masih ia simpan dan menjadi cinta pertama dirinya dengan teknologi. Di usia 13 tahun, Figgers sudah lihai mengotak-atik komputer sampai-sampai membuat petugas Kota Quincy menyewanya untuk memperbaiki komputernya.

Ketika berusia 15 tahun, ia memulai perusahaan pertamanya.  Figgers Computers merupakan bengkel service komputer berdiri di ruang tamu orang tuanya. Ia membantu klien menyimpan data mereka di server yang dibuatnya.

Dia adalah seorang pemula dan pembelajar yang cepat. Setelah membangun basis data cloudnya sendiri, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah.

"Saya tidak akan merekomendasikan jalan saya kepada semua orang," kata Figgers
Tetapi itu berhasil untuk saya. Ketika saya berusia 17, saya memiliki 150 klien yang membutuhkan situs web dan penyimpanan untuk file mereka. Saya terus membangun dari sana,” ujarnya.

Kesempatan besarnya datang beberapa tahun kemudian. Pada 2012, ketika pada usia 23, ia menjual program pelacak GPS ke perusahaan yang dirahasiakan di Kansas seharga 2,2 juta dolar AS (Rp32 miliar).

Ia menciptakan program itu terinspirasi oleh ayahnya yang menderita Azheimer sehingga sering berkeliaran dan membuat seisi rumah bingung. Ia pun membuat perangkat itu ke sepatunya agar bisa melacak keberadaan sang ayah ketika keluar rumah.

Tak lama setelah ia memulai Figgers Communication dan karirnya semakin memuncak, Figgers mengalami musibah saat ayahnya meninggal dunia di tahun 2012.

Figgers mengaku sangat bersyukur memiliki ayah dan ibu seperti Nathan dan Betty Figgers. Mereka yang mengajarinya untuk tidak menyerah pada keadaan. Figgers kini memiliki perusahaan telekomunkasi dengan nilai 62 juta dolar AS (Rp 900 miliar).(*)

×
Berita Terbaru Update