Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Saya selalu menghargai setiap karya seni dan ikhtiar untuk menumbuhkan rasa cinta pada Danau Toba. Penggunaan frasa “Ibu Danau Toba” sebagai metafora artistik tentu sah-sah saja—sebuah bentuk kebebasan berekspresi yang patut dihormati.
Namun, ketika sebuah metafora dibawa ke dalam ruang kebudayaan Batak—terlebih melalui pertunjukan yang menampilkan simbol, musik, hingga tortor—kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan tenang:
Apakah “Ibu Danau Toba” memang tumbuh dari bahasa dan cara pandang hidup masyarakat Batak, atau ia sekadar metafora baru yang lahir dari panggung kreativitas?
Pertanyaan ini hadir bukan untuk membatasi kebebasan berkesenian, apalagi memonopoli hak untuk mencintai Danau Toba. Tao Toba adalah ruang kehidupan yang terbuka bagi siapa pun untuk disapa, dicintai, dan dijaga.
Yang perlu kita rawat bersama adalah ketepatan ketika sebuah ungkapan digunakan untuk mewakili kebudayaan Batak. Dalam literasi budaya, indah saja tidak cukup. Sebuah istilah yang hendak dipasang sebagai representasi budaya harus diuji melalui bahasa, adat, sejarah, sastra, hingga ingatan kolektif masyarakat pemiliknya.
Metafora Seni vs. Warisan Budaya
Kita mengenal Ibu Pertiwi sebagai personifikasi tanah air dalam kesadaran kebangsaan Indonesia—sebuah istilah yang telah mengakar kuat. Namun, logika tersebut tidak serta-merta bisa dipindahkan menjadi "Ibu Danau Toba", lalu dianggap sebagai cara pandang tradisional Batak.
Dalam bahasa Batak Toba, tao berarti danau, dan ina/inang berarti ibu. Namun, keberadaan kata ina tidak otomatis membuktikan adanya konsep "Ibu Danau Toba" dalam tradisi. Seni memang bebas mencipta, tetapi gagasan baru jangan terburu-buru diklaim sebagai suara leluhur hanya karena dibungkus pakaian dan simbol-simbol tradisional.
Yang baru biarlah menjadi karya seni, tetapi jangan tergegas menyebutnya sebagai warisan budaya.
Kebudayaan Batak Punya Bahasanya Sendiri
Kebudayaan Batak tidak pernah kekurangan kata untuk mengagumi dan menghormati Tao Toba. Maestro Nahum Situmorang mengabadikannya dengan sangat megah lewat lagu O Tao Toba:
“O Tao Toba, Raja ni sude na tao…”
Tao Toba disapa sebagai “Raja segala danau”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekaguman pada Tao Toba tidak harus dibangun dengan meminjam konstruksi “ibu” atau “mother lake”. Kebudayaan Batak telah memiliki cara pandangnya sendiri: memandang Tao Toba sebagai ruang kehidupan, sumber penghidupan, serta identitas antargenerasi.
Tao Toba tidak menjadi lebih mulia karena dipanggil “ibu”, dan tidak berkurang kemuliaannya jika tanpa gelar itu.
Dari Metafora Menjadi Etika
Bagi saya, Tao Toba bukan sekadar bentang alam yang indah atau objek gelar artistik. Ia adalah ruang hidup—tempat manusia berinteraksi dengan air, tanah, hutan, adat, dan sejarah.
Jika kita benar-benar mencintainya, rasa cinta itu tidak boleh berhenti pada jargon panggung, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata:
Menjaga kemurnian airnya.
Memulihkan tutupan hutannya.
Merawat ekosistem dan masyarakat adatnya.
Tidak mewariskan kerusakan bagi generasi mendatang.
Di situlah penghormatan kepada Tao Toba bertransformasi: dari sekadar metafora menjadi etika.
Mendengarkan Rumah Sendiri
Saya menulis catatan ini bukan karena merasa paling paham. Sebagai pembelajar sepanjang hayat, saya percaya bahwa sebelum berbicara atas nama kebudayaan Batak, kita harus mau mendengarkan terlebih dahulu: mendengarkan bahasa, umpasa, sastra, gondang, sejarah, serta pengalaman masyarakat yang hidup di dalamnya.
Seni dan kebudayaan bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling mengaburkan. Seniman bebas menawarkan penafsiran baru, dan publik berhak menguji gagasan tersebut. Namun pada akhirnya, penghormatan tertinggi kepada Tao Toba—sebagai mahakarya Ciptaan Tuhan—bukan terletak pada seberapa indah gelar yang kita sematkan, melainkan seberapa bijak kita merawatnya.
(Penulis, tinggal di Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir).
