![]() |
Purwakarta.Internationalmedia.id.— Proyek pembangunan infrastruktur lingkungan berupa Pembuatan Zona Sanitary Landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikolotok, Kabupaten Purwakarta, menuai sorotan tajam.
Di tengah darurat sampah daerah, proyek bernilai miliaran rupiah ini dipertanyakan efektivitas serta konsistensi penerapannya di lapangan.
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, kegiatan yang tercatat dengan nomor kontrak 02/SP/SANITARY LANDFILL/DLH/IX/2026 ini baru dimulai pada 2 September 2026. Proyek di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta dengan kode sub kegiatan 2.11.11.2.01.0020 tersebut menyedot anggaran besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Berikut adalah rincian data kontrak proyek tersebut:
* Nilai Kontrak: Rp 4.405.869.200,-
* Waktu Pelaksanaan: 120 (seratus dua puluh) hari kalender
* Penyedia Barang/Jasa: CV. Jiwa Besar Juara
* Konsultan Supervisi: PT. Seneca Rekayasa Indonesia
Deretan Catatan Kritis dan Potensi Kelemahan Proyek
Pelaksanaan proyek ini dinilai rawan menuai persoalan akibat sejumlah celah dan tantangan krusial yang mengemuka:
1. Waktu Pelaksanaan yang Terlalu Singkat (120 Hari) Alokasi waktu pengerjaan yang hanya 120 hari kalender sejak awal September dinilai sangat tergesa-gesa untuk proyek konstruksi sanitasi skala besar.
Tenggat waktu yang jatuh di penghujung tahun ini dikhawatirkan memicu pengerjaan asal-asalan demi mengejar target serapan anggaran, terlebih di tengah kondisi cuaca penghujung tahun yang tidak menentu, sesuai prakiraan BMKG sudah musim penghujan..
2. Bayang-bayang Kualitas Material dan Spesifikasi Teknis Metode sanitary landfill menuntut standar operasional yang ketat, mulai dari pemasangan lapisan kedap air (geomembrane), sistem perpipaan lindi (leachate collection), hingga pengelolaan gas metana.
Tanpa pengawasan ketat dan independen dari konsultan supervisi, publik meragukan apakah material tertanam benar-benar memenuhi Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) atau justru berisiko memicu pencemaran lingkungan baru di kemudian hari.
3. Pertanyaan atas Kompetensi dan Kesiapan Kontraktor Penunjukan CV. Jiwa Besar Juara sebagai penyedia jasa turut memantik tanda tanya besar terkait rekam jejak dan kapasitas teknisnya dalam mengeksekusi proyek sanitasi berisiko tinggi.
Minimnya transparansi kesiapan alat berat mandiri serta tenaga ahli di lapangan dikhawatirkan menjadi batu sandungan utama molornya progres fisik.
Sorotan dan kritik publik ini menuntut pengawasan berlapis agar proyek bersumber dari dana rakyat tersebut tidak sekadar menjadi formalitas anggaran tanpa memberikan solusi nyata bagi pembenahan lingkungan di Purwakarta.(Ir)
