Notification

×

Iklan

Iklan

Mimpi Jelang Mubes XVI PPTSB 2026

Selasa, 08 September 2026 | 20:02 WIB Last Updated 2026-09-08T13:02:41Z

Oleh: Wilmar Siamandjorang

Sebuah mimpi datang menjelang Musyawarah Besar(Mubes) XVI Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru(PPTSB) 2026. Dalam mimpi itu, kulihat para utusan dari berbagai penjuru Nusantara bersiap berangkat. Koper dibuka, pakaian dilipat, dan uang saku disiapkan.

Namun di samping mereka, ada para istri yang sibuk memastikan satu hal penting: dokumen suara cabang.

"Bawalah," bisik sang istri, "sebab engkau pergi bukan membawa dirimu sendiri."

MUBES ternyata tidak dimulai saat ketuk palu sidang berbunyi di Hotel Danau Toba. MUBES dimulai jauh sebelum itu—dari rumah, dari kejelian seorang istri, dari doa yang hening, dan dari titipan harapan orang-orang yang tak ikut berangkat.

Saat rombongan tiba, suasana mencair dalam hangatnya persaudaraan. Yang jauh mendekat, yang lama tak bersua saling merangkul, dan perbedaan masa lalu berganti tawa nostalgia. Sampai seorang panitia berseru, "Horas! Agenda kita belum selesai!" Tawa pecah, dan kami kembali ke meja musyawarah.

Tiga agenda besar menanti: revisi AD/ART, arah Generasi Muda, serta RENSTRA 2026–2030. Di sinilah roh Dalihan Natolu bekerja: tahu menempatkan diri, saling menghormati, mau mendengar, dan menjaga keseimbangan.

Saat pemilihan Ketua Umum, suasana tetap teduh. Tidak ada persaudaraan yang ditumbalkan demi jabatan, tidak ada suara yang dibeli kepentingan. Pemimpin dipilih karena dipercaya, lalu susunan pengurus dibentuk dengan prinsip sederhana: the right man on the right place, at the right time.

Anak ni Raja tetap dihormati sebagai akar martabat. Namun, Napinaraaja hadir sebagai ukuran kecakapan. Sebab darah memberikan nama, tetapi kemampuanlah yang membuktikan amanah.

Satu hal yang tegas ditolak adalah Napara-rajahon—mengangkat seseorang menjadi “raja” hanya karena uang, pangkat, atau pengaruh politik. Jabatan bukanlah mahkota, melainkan tanggung jawab. Pesan Ompung Paltiraja bergema kuat: "Parhatian sibola timbang, parninggala sibola tali"—menimbang dengan hati, mengikat dengan pikiran.

Saat musyawarah usai, kami kembali berpelukan. Bukan karena semua pikiran telah seragam, melainkan karena kami paham: berbeda pendapat tak harus memutus persaudaraan.

Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi ketika aku terbangun. Mimpi itu selesai, tetapi panggilan hidupku tidak.

Danau Toba—kawasan yang harus terus dirawat dan dipulihkan—menunggu langkahku. Pena juga menanti untuk menyuarakan apa yang belum sempat dikatakan.

MUBES adalah amanah bagi para utusan; merawat Danau Toba adalah panggilanku. Keduanya bertemu pada satu keyakinan: warisan tak cukup dikenang, ia harus dijaga. Persaudaraan tak cukup dibicarakan, ia harus dirawat. Dan talenta tak cukup dimiliki, ia harus dipersembahkan.

Koper telah ditutup. Pagi telah datang. Mimpi boleh usai, tetapi amanah tak pernah mengenal siang dan malam.*

(Penulis, adalah Dewan Penasehat PPTSB dan Bupati Pertama Kabupaten Samsosir- tinggal di Lereng Pusuk Buhit-Samosir).

×
Berita Terbaru Update