Notification

×

Iklan

Iklan

Sri Lestari Bagai Sosok "Malaikat Tak Bersayap"

Rabu, 04 Maret 2026 | 19:51 WIB Last Updated 2026-03-04T13:46:29Z
Sri Lestari

Purwakarta.Internationalmedia.id. – Di balik riuh rendahnya birokrasi, terselip kisah inspiratif dari seorang perempuan bernama Sri Lestari. Berawal dari tugas di Diskominfo, langkah kakinya kini mantap berpijak di Dinas Sosial (Dinsos) Purwakarta sejak tahun 2021. 

Bukan sekadar bekerja di balik meja, Ibu Tari—sapaan akrabnya—telah menjadi tumpuan harapan bagi warga miskin, lansia, hingga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Menjabat di bidang Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos),Tari mengaku waktunya hampir sepenuhnya tersita untuk urusan kemanusiaan. "Kalau dibilang 24 jam, ya benar 24 jam. Kadang tengah malam ditelepon, kita baru pulang, ya mau tidak mau berangkat lagi," ujarnya dalam suatu percakapan di kediamannya. Rabu, (4/3/2026).

Tugas utamanya di lapangan adalah mendampingi warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, terutama masalah BPJS yang tidak aktif atau menunggak. Baginya, melihat warga miskin bisa diterima di rumah sakit tanpa biaya adalah kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Kebijakan demi Nyawa

Satu momen yang paling berkesan bagi ibu Tari adalah saat ia harus "beradu argumen" dengan pihak rumah sakit demi seorang warga yang tagihannya mencapai Rp 26 juta. Meski administrasi terhambat aturan waktu, Tari tidak menyerah hingga berhasil melobi pihak manajemen dan dokter.

"Saya cuma bilang, yang bikin kebijakan itu manusia, masa tidak bisa dibuat kebijakan baru untuk membantu sesama? Akhirnya jam setengah sebelas malam dapat kabar bisa keluar tanpa biaya. Saya nangis bahagia, perjuangan begadang tidak sia-sia," kenang Tari.

Menepis Fitnah dan Pungli

Di tengah ketulusannya, Ibu Tari kelahiran Purwakarta, 24 Oktober 1974 ini tak jarang menghadapi kabar miring. Ada oknum-oknum yang mengatasnamakan namanya untuk meminta uang kepada warga dengan dalih biaya pengurusan.

"Saya tegaskan, saya tidak pernah minta uang. Paling hanya untuk materai. Kalau ada yang minta jutaan dengan nama saya atau Dinsos, itu fitnah. Saya sering bilang ke oknum, silakan kalau mau begitu, tapi jangan bawa nama saya," tegasnya. 

Bahkan, ia seringkali merogoh kocek pribadi untuk menutupi kekurangan biaya operasional seperti bensin ambulans demi warga yang benar-benar tidak mampu.

Pelindung ODGJ

Jiwa sosial Ibu Tari tidak berhenti di urusan kantor. Di rumahnya, ia mengasuh dua anak yatim piatu, Alwa dan Alwi, yang ia ambil sejak bayi karena orang tua mereka meninggal dalam kondisi memprihatinkan.

Tak hanya itu, Ibu Tari juga menampung seorang lansia berusia 80 tahun dan anaknya yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ) di samping rumahnya. Mereka adalah keluarga yang ditelantarkan dan diusir dari berbagai tempat. Meskipun sang ODGJ pernah nyaris membakar rumahnya, Ibu Tari tetap sabar merawat dan memberi mereka makan dari kantong pribadinya.

"Kita makan teri, mereka makan teri. Kita makan ayam, mereka juga makan ayam. Saya rida, rezeki sudah ada yang mengatur," ucapnya dengan rendah hati.

Penghargaan dan Harapan ke Depan

Atas dedikasinya yang luar biasa, Ibu Tari dianugerahi penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif Bidang Sosial Kemasyarakatan pada April 2021. Sosoknya bahkan menarik perhatian tokoh nasional seperti Dedi Mulyadi (KDM) yang menyarankannya untuk mendokumentasikan kegiatannya agar bisa menginspirasi lebih banyak orang.

Banyak pihak mendorong Lestari membentuk sebuah Yayasan agar penggalangan bantuan bisa lebih terstruktur. Sejumlah donatur bahkan telah menawarkan dukungan jika ada wadah resmi. Namun hingga kini, ia masih mempertimbangkan langkah tersebut. 

"Kalau ada wadah resmi, mungkin lebih ringan. Tapi selama ini ya jalani saja semampunya,” ujarnya.

Kini, meski fasilitas rumah singgah di Purwakarta masih terbatas, Ibu Tari terus bergerak. Baginya, status atau jabatan bukanlah hal utama, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat yang terlupakan oleh sistem. (Ir)

×
Berita Terbaru Update